LAPORAN PRAKTIKUM DASAR FISIOLOGI TERNAK
Author: ridwan12 | Filed under: Perkuliahan, SemuaACARA I
STATUS FAALI
Tinjauan Pustaka
Respirasi
Proses yang menentukan dalam respirasi (sel) adalah oksidasi sempurna dari asam piruvat dengan jumlah pemisahan terhadap semua atom hidrogen sehingga menghasilkan 3 molekul CO2, dan memindahkan elektron yang dipisahkan dari atom hidrogen itu pada oksigen molekul (O2) (Kimball, 1990).
Respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme organisme melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua proses, yaitu respirasi eksternal dan respirasi internal. Terjadinya pergerakan karbondioksida ke dalam udara alveolar ini disebut respirasi eksternal. Respirasi internal dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah. Respirasi eksternal tergantung pada pergerakan udara ke dalan paru–paru. Selain itu, respirasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu aktivitas tubuh, lingkungan sekitar, jenis kelamin, penyakit atau stress (Frandson, 1992).
Tabel 1.1. Kisaran normal respirasi beberapa ternak
Spesies Kisaran Respirasi (kali/menit)
Sapi 24 – 42
Kambing 26 – 54
Domba 26 – 32
Kelinci 25 – 27
Ayam 18 – 23
(Frandson, 1992).
Pulsus
Jantung dalam kenyataannya merupakan dua pompa yang menerima darah ke dalam bolak-balik atrial dan kemudian memompakan darah tersebut ke ventrikelmenuju ke jaringan dan kemudian kembali lagi. Katup-katup jantung terbuka dan tertutup mengikuti yang tepat kerja agar supaya darah mengalir ke salah satu saluran saja. Bagian terbesar dari tenaga yang digunakan untuk mendorang darah berasalu dan kerja otot jantung itu sendiri (Frandson, 1996).
Sistem organ yang lain aktivitas jantung dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi oleh sistem saraf. Sistem ini bekerja dengan kombinasi tertentu danfungsional. Saraf ini misalnya efferns, saraf cardial anhibitory, dan saraf accelerate. Kecepatan denyut jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur ternak, aktivitas tubuh, letak geografis, dan penyakit atau stress (Dukes, 1995).
Tabel 1.2. Kisaran normal beberapa ternak
Spesies Kisaran Pulsus (kali/menit)
Kuda 13-70
Babi 55-86
Kambing 70-135
Sapi 60-70
Domba 60-120
(Dukes, 1995).
Temperatur Rektal
Cara mengetahui temperatur tubuh selalu digunakan temperatur rektal karena paling dapat dipercaya untuk menggambarkan rata–rata temperatur tubuh. Faktor–faktor yang mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas, kondisi kesehatan, kondisi lingkungan ternak. Indeks temperatur dalam tubuh hewan lebih mudah didapat dengan memasukkan termometer rektal ke dalam rektum, meskipun temperatur rektal tidak selalu menggambarkan rata–rata temperatur dalam tubuh, karena temperatur dalam tubuh mempunyai equibrum lebih lambat (Frandson, 1992).
Tabel 1.3. Kisaran temperatur rektal
Spesies Rata – rata temperatur (oC) Kisaran (oC)
Sapi 38 36,7-39,1
Kambing 39,1 38,5-39,7
Domba 38,75 38,5-39,0
Kelinci 39,5 38,5-40,1
Ayam 41,7 41,5-41,9
(Dukes, 1995)
Ternak dapat bergerak karena kontraksi otot rangka. Kontraksi otot terjadi akibat perubahan energi kimia yang menjadi energi mekanis. Hal ini menyebabkan pelepasan kalor tubuh sehingga terjadi peningkatan temperatur tubuh (Ganong, 2003).
Materi dan Metode
Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum status faali adalah termometer tubuh dan batang, stetoskop, counter, dan arloji.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum status faali adalah probandus (ternak) seperti, kelinci jantan, kelinci betina, ayam jantan, ayam betina, domba jantan, dan sapi jantan.
Metode
Respirasi. Caranya adalah dengan mendekatkan bagian punggung telapak tangan pada tepat didepan hidung ternak sehingga terasa adanya hembusan. Atau dengan mengamati kembang kempis perut. Perlakuan tersebut dilakukan selama satu menit dan diulangi sebanyak 3 kali kemudian diambil rata-ratanya.
Pulsus. Pengukuran pulsus dengan sapi dilakukan dengan cara meraba bagian pangkal ekor, sehingga terasa adanya denyutan arteri caudalis. Pengukuran pada kambing dan domba dilakukan dengan cara meraba bagian pangkal paha sehingga terasa denyutan arteri femuralisnya. Pengukuran pada kelinci dan ayam dilakukan dengan menggunakan stethoscope, stethoscope ditempelkan pada bagian dada sehingga tedengar detak jantungnya. Semua pengukuran dilakukan selama satu menit dan sebanyak 3 kali setelah itu diambil rata-ratanya.
Temperatur rektal. Pada pengukuran temperatur rectal alat yang digunakan adalah thermometer rectal. Thermometer rectal dimasukkan kedalam rektum probandus kurang lebih sepanjang 1/3 bagian thermometer. Kegiatan ini dikerjakan selama 5 menit sebanyak 3 kali dan kemudian diambil rata-ratanya
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:
Respirasi
Tabel1.4. Pengukuran respirasi (kali/menit)
|
No. |
Probandus |
Pengukuran (kali/menit) |
Rerata |
||
|
I |
II |
III |
|||
|
1 |
Sapi Jantan |
48 |
50 |
45 |
47,6 |
|
2 |
Domba Jantan |
125 |
126 |
100 |
117 |
|
3 |
Domba Betina |
120 |
125 |
122 |
122,3 |
|
4 |
Ayam Jantan |
35 |
35 |
25 |
31,67 |
|
5 |
Ayam Betina |
60 |
60 |
70 |
63,33 |
|
6 |
Kelinci Jantan |
180 |
190 |
210 |
193,3 |
|
7 |
Kelinci Betina |
170 |
170 |
200 |
180 |
Pulsus
Tabel 1.5. Pengukurn Pulsus (Kali/menit)
|
No. |
Probandus |
Pengukuran (kali/menit) |
Rerata |
||
|
I |
II |
III |
|||
|
1 |
Sapi Jantan |
50 |
* |
* |
50 |
|
2 |
Domba Jantan |
90 |
115 |
100 |
101,6 |
|
3 |
Domba Betina |
100 |
110 |
90 |
100 |
|
4 |
Ayam Jantan |
250 |
238 |
273 |
253,6 |
|
5 |
Ayam Betina |
260 |
257 |
278 |
265 |
|
6 |
Kelinci Jantan |
275 |
278 |
275 |
276 |
|
7 |
Kelinci Betina |
269 |
278 |
275 |
274 |
Temperatur Rektal
Tabel 1.6. Pengukuran temperatul rektal (oC)
|
No. |
Probandus |
Pengukuran |
Rerata |
||
|
I |
II |
III |
|||
|
1 |
Sapi Jantan |
38 |
* |
* |
38 |
|
2 |
Domba Jantan |
39 |
39 |
38,5 |
38,83 |
|
3 |
Domba Betina |
38,5 |
39 |
39 |
38,83 |
|
4 |
Ayam Jantan |
38,7 |
38,6 |
39 |
38,76 |
|
5 |
Ayam Betina |
40,5 |
40,9 |
41 |
40,8 |
|
6 |
Kelinci Jantan |
42 |
42 |
42 |
42 |
|
7 |
Kelinci Betina |
40 |
43 |
43 |
42 |
(*) tidak dilakukan berdasarkan saran asisten
Respirasi. Berdasarkan percobaan dan pengamatan yang dilakukan pada praktikum Status Fa’ali ini, didapatkan hasil pengukuran rata-rata respirasi pada sapi jantan adalah 47.6 kali/menit. Menurut Frandson (1992), kisaran normal respirasi pada sapi adalah 24-42 kali/menit. Maka dari data yang diperoleh diatas dengan dihubungkan dengan literatur diketahui bahwa sapi jantan dalam keadaan kurang normal. Hal tersebut dapat disebabkan aktivitas sapi saat pengukuran banyak melakukan pergerakan sehingga respirasi probandus meningkat. Sesuai teori Frandson (1992), bahwa faktor yang mempengaruhi respirasi, yaitu aktivitas tubuh, lingkungan sekitar, jenis kelamin, penyakit.
Rata-rata respirasi pada domba jantan adalah 117 kali/menit sedangkan domba betina 122.3 kali/menit. Menurut Frandson (1992), kisaran normal respirasi pada domba adalah 26-32 kali/menit. Hasil pada domba melebihi kisaran normal. Hal tersebut dikarenakan domba mengalami stress karena perlakuan praktikan kasar pada saat pengukuran. Menurut Frandson (1992), penyakit atau stress merupakan faktor yang mempengaruhi repirasi pada ternak.
Hasil rata-rata respirasi kelinci jantan adalah 193.3 kali/menit dan 180 kali/menit pada kelinci betina. Menurut literatur, Frandson (1992), kisaran normal respirasi pada kelinci adalah 25-27 kali/menit. Hasil perhitungan sangat jauh dari kisaran normal. Kelinci banyak bergerak pada saat dikeluarkan dari kandang. Menurut Frandson (1992), aktivitas ternak juga dapat mempengaruhi respirasi.
Rata-rata respirasi pada ayam jantan adalah 31.67 kali/menit dan 63.3 kali/menit pada ayam betina. Jika dibandingkan dengan literatur menurut Frandson (1992), kisaran normal respirasi pada ayam yaitu 18-23 kali/menit maka hasil percobaan melebihi kisaran normal. Ayam mengalami stress pada saat dikeluarkan dari kandang. Menurut Frandson (1992), faktor yang mempengaruhi respirasi, yaitu aktivitas tubuh, lingkungan sekitar, jenis kelamin, penyakit atau stress.
Pulsus. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat hasil pada pulsus sapi jantan adalah 50 kali/menit. Menurut Dukes (1995), kisaran normal pada sapi yaitu 60-70 kali/menit. Hasil praktikum menunjukkan pulsus sapi jantan tidak mencapai kisaran normal. Letak geografis yang tidak sesuai akan mempengaruhi kecepatan denyut jantung pada ternak. Sesuai teori menurut Dukes (1995), kecepatan denyut jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur ternak, aktivitas tubuh, letak geografis, dan penyakit atau stress.
Hasil pulsus pada domba jantan adalah 101.6 kali/menit dan 100 kali/menit pada domba betina. Berdasar pada literatur menurut Dukes (1995), kisaran normal pulsus domba adalah 60-120 kali/menit, sehingga keadaan domba pada saat praktikum normal.
Pulsus pada kelinci jantan adalah 253.6 kali/menit dan 265 kali/menit pada kelinci betina. Menurut Dukes (1995), kisaran pulsus normal pada kelinci adalah 123-304 kali/menit. Jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh berarti kelinci jantan maupun betina dalam keadaan normal atau sehat. Faktor lingkungan pada kelinci sangat mempengaruhi karena kelinci merupakan hewan nocturnal jadi peningkatan gelombang tekanan sistolik jantung akan sering terjadi (Frandson, 1992)
Hasil pulsus pada ayam jantan adalah 276 kali/menit sedangkan pada ayam betina 274 kali/menit. Menurut Dukes (1995), kisaran normal pulsus ayam adalah 250-470 kali/menit. Jika hasil dibandingkan dengan literatur, maka keadaan ayam jantan maupun betina dalam keadaan normal atau sehat.
Temperatur rektal. Temperatur rektal digunakan untuk mengetahui kesehatan ternak dilihat dari suhu tubuh. Menurut Dukes (1995) bahwa kisaran normal temperatur rektal pada sapi adalah 36.7-39.1oC. Probandus sapi yang diperiksa dikatakan normal atau sehat karena temperatur rektalnya 38oC.
Domba yang diperiksa semua dalam keadaan sehat, yaitu 38.83oC untuk domba jantan maupun betina. Karena menurut Dukes (1995), kisaran normal temperatur rektal pada domba yaitu 38.5-39.0oC.
Untuk probandus kelinci dengan kisaran normal 38.5-40.1oC, kelinci jantan dalam praktikum Status Faali ini dikategorikan normal atau sehat dengan temperatur rektalnya 38.76oC. Namun, untuk kelinci betina dengan temoperatur rektal 40.8oC berarti melebihi kisaran normal. Ketidaknormalan kelinci betina diduga dipengaruhi oleh faktor temperatur lingkungan yang dapat berdampak pula pada temperatur rektal probandus (Dukes, 1995).
Hasil temperatur rektal untuk ayam jantan dan betina yaitu 42oC. Menurut Dukes (1995), kisaran normal temperatur rektal untuk ayam 41.5-41.9oC. Jika dibandingkan dengan literatur, maka ayam jantan maupun betina dalam keadaan kurang sehat. Temperatur rektal ayam tersebut dapat dipengaruhi faktor temperatur lingkungan dan keadaan ayam yang stress (Dukes, 1995).
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan Status Faali yang telah dilakukan disimpulkan bahwa respirasi pada sapi jantan 47.6 kali/menit, domba jantan 117 kali/menit, domba betina 122.3 kali/menit, kelinci jantan 193.3 kali/menit, kelinci betina 180 kali/menit, ayam jantan 31.67 kali/menit, dan ayam betina 63.33 kali/menit. Pulsus pada sapi jantan 50 kali/menit, domba jantan 101.6 kali/menit, domba betina 100 kali/menit, kelinci jantan 253.3 kali/menit, kelinci betina 265 kali/menit, ayam jantan 31.67 kali/menit, dan ayam betina 63.33 kali/menit. Temperatur rektal pada sapi jantan 38oC, domba jantan 38.83oC, domba betina 38.83oC, kelinci jantan 38.76oC, kelinci betina 40.8oC, ayam jantan dan betina 42oC.
Perhitungan respirasi probandus dalam praktikum Status Faali ini tidak ada yang sesuai dengan kisaran normal. Menurut perhitungan pulsus, semua probandus dalam keadaan normal kecuali sapi jantan. Berdasar temperatur rektal, ayam jantan dan betina melebihi kisaran normal, sedangkan probandus yang lainnya normal.
Daftar Pustaka
Dukes. 1995. Physiologi of Domestic Animal Comstock Publishing : New York University Collage, Camel.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi II. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Frandson, R. D.1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi IV. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.
Ganong. 2003. Receive of Logical Physiologi. Large Medical Publishing : California.
Kimball, J. W. 1990. Biologi Jilid III. Jakarta : Penerbit Erlangga
ACARA II
SACCUS PNEUMATICUS
Tinjauan Pustaka
Aves merupakan kelas tersendiri dalam kingdom animalia, aves atau burung memiliki ciri umum, yaitu berbulu dan kebanyakan diantara mereka dapat terbang. Kelas aves merupakan satu-satunya kelompok hewan yang memiliki bulu. Salah satu contoh dari aves tersebut adalah Columba livia. Columba livia merupakan spesies hewan bertulang belakang (vertebrata) dan kelas aves yang mempunyai bulu dan dapat terbang (Soman, 2005).
Paru-paru pada burung secara proporsional kecil dan tidak mampu melakukan ekspansi, tidak seperti pada karakteristik paru-paru yang normal. Paru-paru burung dihubungkan dengan Saccus udara yang terletak di berbagai bagian tubuh. Saccus pneumaticus terdiri dari saccus pneumaticus abdominalis, saccus pneumaticus thoracalis anterior, saccus pneumaticus thoracalis posterior, saccus pneumaticus interclavicularis, saccus pneumaticus cervicalis dan saccus pneumaticus axilaris (Yasin, 1994).
Respirasi adalah reaksi pertukaran antara gas oksigen (O2) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut. CO2dikeluarkan dari tubuh melalui paru. Sistem respirasi terdiri dari paru dan saluran yang menuju atau meninggalkan paru. Saluran tersebut mancakup nostril (lubang hidung), rongga hidung, faring, laring, dan trakea (Frandson, 1992).
Kantong udara (Saccus pneumaticus) merupakan alat bantu pernapasan pada burung di saat terbang. Pada kantong udara tidak terjadi difusi gas karena kantong udara hanya berfungsi sebagai penyimpan cadangan oksigen. Kantong-kantong udara ini memiliki dinding yang elastis sebagai perluasan dari paru-paru. Burung memiliki sembilan kantong udara yang terdiri dari sepasang kantong udara dada depan, sepasang kantong udara dada belakang, sepasang kantong udara perut, dan sebuah kantong udara antar-tulang selangka yang bercabang-cabang membentuk sepasang kantong udara di dalam tulang lengan atas (Watson, 2002).
Pernapasan pada burung memiliki mekanisme yang dibedakan atas pernapasan pada waktu istirahat dan pernapasan pada waktu terbang. Pernapasan pada waktu istirahat terdiri dari fase inspirasi dan ekspirasi. Pada fase inspirasi, costae bergerak ke arah carnio ventral carum sehingga thoracalis membesar. Sedangkan pernafasan pada waktu terbang dipengaruhi oleh fungsi Saccus pneumaticus yang berupa saccus interclavicularis dan saccus axilaris (Radiopoetra, 1991).
Fungsi Saccus pneumaticus adalah membantu dalam proses masuk dan keluarnyaudara ketika proses inspirasi dimulai. Terdapat tekanan yang serentak terhadap udara agar masuk ke dalam Saccus pneumaticus cranial dan caudal. Hal itu berarti selama proses inspirasi udara mengalir ke dalam semua saccus, tetapi tidak semua saccus diisi udara dari luar (Schimdt and Neilsen, 1997).
Kantong-kantong udara berfungsi untuk membantu pernapasan, terutama saat terbang; mencegah hilangnya panas badan secara berlebihan; mengatur berat jenis tubuh pada saat burung terbang. Saat terbang, otot-otot dada dan tulang rusuk terkontraksi untuk menggerakkan sayap sehingga proses inspirasi normal terganggu, saat itulah burung tidak mengambil udara dari luar melainkan udara yang tersimpan di dalam kantong udara ke dalamparu-paru. Saat sayap diangkat keatas, kantong udara antar-tulang selangka akan terjepit sehingga oksigen yang berada di dalamnya akan masuk ke dalam paru-paru (Slonane, 2004).
Bagian internal pada aves, tersusun dari beberapa organ vital seperti hepar, vesica, fellea, ventriculus, lien, intestinum, coecum,saccus pneumaticus, vesica urinaria. Selain organ-organ tersebut, diafragma yang terdiri dari centru tendenium yang mengkilat dan berwarna putih, pars muscularis dan porus. Bagian diafragma yang terlihat setelah pemotongan pada pangkal menunjukkan adanya bagian-bagian sebagai berikut: 1) costae verae, 2) costae spuriae, 3) costae fluctuantes, 4) sternum. Organ-organ dalam yang terdapat dalam tubuh Columba livia akan membentuk beberapa sistem, yaitu sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem urogenitalia, sistem nervosum, sistem integumentum, dan sistem transportasi (Kant, 2001).
Materi dan Metode
Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum Saccus pneumaticus adalah preparat Columba livia beserta tempat dan penjepitnya, selang, serta spuit.
Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum Saccus pneumaticusadalah preparat Columba liviayang telah disembelih dan dikuliti bagian dadanya, diamati bagian-bagian dan letak Saccus pneumaticus. Kemudian diamati pula mekanisme kerja dan fungsinya. Setelah itu hasil pengamatan digambar pada lembar kerja dan disertai dengan keterangannya.
Hasil dan Pembahasan
Sistem respiratoria pada burung terdiri dari lubang hidung (nostril), nares posteriores (lubang pada palatum), glottis, larinx, trakea, pulmo (berhubungan dengan Saccus pneumaticus), dan syrinx. Saccus pneumaticusterdiri dari, saccus cervicalis, saccus interclavicularis, saccus axilaris, saccus thoracalis anterior, saccus thoracalis posterior,saccus abdominalis.
Saccus pneumaticus merupakan salah satu alat bantu pernapasan pada burung/aves. Saccus pneumaticusdibagi menjadi enam, yaitu saccus pneumaticus abdominalis, saccus pneumaticus thoracalis anterior, saccus pneumaticus thoracalis posterior, saccus pneumaticus interclavicularis, saccus pneumaticus cervicalis dan saccus pneumaticus axilaris.
Saccus pneumaticus memiliki fungsi sebagai berikut; pertama, membantu pernapasan, terutama pada waktu terbang, karena saccus dapat menyimpan O2 cadangan; kedua, membantu mempertahankan suhu tubuh dengan mencegah hilangnya panas badan secara berlebihan pada saat menghadapi hawa dingin diangkasa saat terbang; ketiga, membantu memperkeras suara dengan memperbesar ruang syrinx, saccus pneumaticus disini berfungsi sebagai pengganti diafragma; keempat, mengatur berat jenis (meringankan) tubuh pada saat burung terbang. Seperti pada rumus fisika mengenai masa jenis ρ . Maka hal tersebut dikaitkan dengan keberadaan saccus pneumaticuspada aves adalah pada saat volume udara dalam saccus pneumaticusterisi penuh atau lebih besar dari massa burung, maka massa jenis aves/burung kecil sehingga dapat terbang; kelima, melindungi alat-alat dalam dengan ruang saccus, sehingga dapat terhindar dari kedinginan dan fungsinya mirip dengan air bagpada mobil.
Mekanisme respirasi aves pada saat istirahat berawal dari lubang hidung Nares pasteriores glottis larinx trakea pulmo. Sedangkan pada saat terbang, pernapasan aves dibantu oleh saccus pneumaticus. Mekanisme kerja saccus pneumaticusdibagi menjadi dua, yaitu inhalasi dan ekshalasi.
- Inhalasi 1, terjadi pada saat udara masuk menuju trakea, kemudian kesaccus thoracalis posterior kesaccus abdominalisdengan membawa oksigen (O2).
- Ekshalasi 1, terjadi pada saat udara dari saccus thoracalis posterior ke saccus abdominalismenuju ke pulmo (paru-paru). Di pulmo terjadi pertukaran antara O2 dengan CO2, tepatnya di alveolus.
- Inhalasi 2, terjadi saat udara keluar dari pulmo kemudian masuk ke saccus thoracalis anteriormembawa CO2.
- Ekshalasi 2, udara yang mengandung CO2 dari saccus thoracalis anterior trakea lubang hidung
Gambar 2.1 Penampang saccus pneumaticus
Keterangan:
- saccus thoracalis posterior
- saccus abdominalis
- saccus cervicalis
- saccus interclavicularis
- saccus thoracalis anterior
- saccus axilaris
Perbedaan sistem/mekanisme pernapasan pada burung dengan hewan lain contohnya mamalia adalah adanya skema inhalasi 1, ekshalasi 1, inhalasi 2, dan ekshalasi 2. Dimana pada mamalia tidak terdapat kantung udara atau saccus pneumaticus, sehingga udara yang masuk dari lubang hidung dan melalui bronkus, hanya langsung diteruskan ke pulmo dan terjadi pertukaran O2 dengan CO2 dalam alveoli kemudian keluar melalui jalur yang sama. Hal tersebut disebabkan mamalia tidak membutuhkan cadangan O2 serta pengaturan suhu tubuh yang lebih kompleks untuk terbang.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa saccus pneumaticusadalah salah satu organ respirasi pada bangsa burung/aves yang berfungsi untuk membantu pernapasan terutama pada saat terbang, menjaga supaya kehilangan panas tubuh tidak berlebihan, melindungi alat-alat dalam, memperbesar atau memperkecil berat jenis tubuh, dan membantu memperkeras suara. Saccus pneumaticusterdiri dari saccus pneumaticus abdominalis, saccus pneumaticus thoracalis anterior, saccus pneumaticus thoracalis posterior, saccus pneumaticus interclavicularis, saccus pneumaticus cervicalis dan saccus pneumaticus axilaris. Mekanisme pernapasan burung terjadi dalam empat tahap, yaitu tahap inhalasi 1, ekshalasi 1, inhalasi 2, dan ekshalasi 2.
Daftar Pustaka
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Kant, G. C., R. K. Carr. 2001. Comparative of the Anatomy Vertebrates, 9th ed. Mc Graw Hill Companies Inc. New York.
Radiopoetra. 1991. Petunjuk Praktikum Zoologi. Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Schimdt, Knut and Neilsen. 1997. Animal Phisiology, 5thedition. Cambridge University Press. Australia.
Slonane, E. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Saman, Arya, Tyson L. Hendrick, dan Andrew A. Blewner. 2005. Regional Patterns of Pectoralis Fascide Strainin the Pigeon During Level Flight. Harvard University. America.
Watson, R. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
ACARA III
SEL DARAH MERAH
Tinjauan Pustaka
Darah merupakan cairan yang bersirkulasi dan hampir semua organ menerima suplai darah. Sebagian besar sel-sel darah berada dalam pembuluh-pembuluh. Namun leukosit dapat bermigrasi melintasi dinding pembuluh darah guna melawan infeksi (Frandson, 1992).
Eritrosit atau sel darah merah membawa hemoglobin dalam sirkulasi. Sel darah membentuk piring yang biconcave. Sel darah merah pada mamalia, tidak memiliki nukleus kecuali pada tahap awal pembentukan (sebelum keluar dari proses pembentukan) dan pada hewan tertentu. Sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus dan berbentuk elips. Sel darah merah ini terdiri dari 65% air, 33% Hb, dan sisanya terdiri dari sel stroma lemak, mineral, vitamin, dan bahan organik lainnya, serta ion L (Kusumawati, 2004).
Secara umum volume darah total mamalia umumnya berkisar antara 7% sampai 8% dari berat badan. Bahan antarsel atau plasma darah berkisar antara 45% sampai 65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35% sampai 55% diisi sel darah. Sel darah erdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Warma merah dari darah segar disebabkan adanya hemoglobin dalam darah merah. Ukuran eritrosit terbesar pada hewan peliharaan terdapat pada anjing yakni 7,0 mikrometer dan terkecil pada kambing yakni 4,1 mikrometer. Jumlah total sel darah merah yang dinyatakan dalan 1mm3 darah merefleksikan perbedaan ukurannya. Perbedaan ras (breed), kondisi, aktivitas fisik, dan umur dapat memberikan perbedaan dalam jumlah eritrosit (Hartono,1990).
Tabel 2.1. Kisaran normal jumlah SDM pada beberapa spesies
Spesies Jumlah SDM/mm3 .106
Sapi 7 – 8
Kambing 8 – 18
Kuda 8 – 14
Domba 8 – 16
Babi 5 – 8
(Guyton, 1993).
Jumlah sel – sel merah yang fungsional atau jumlah hemoglobin berkurang jauh di bawah normal akan menyebabkan anemia. Anemia terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai dari gizi yang tidak baik. Penyebab lain anemia yakni hilangnya darah kerena pendarahan dari luka ataupun parasit cacing perut/ kutu. Anemia juga terjadi karena sel-sel darah mengalami hemolisis yang lebih cepat dibandingkan dengan pembentukannya yang baru. Akan tetapi, jika jumlah sel darah merah melebihi jumlah sel-sel darah merah yang fungsional atau kadar hemoglobin jauh di atas normal maka dapat disebut menyebabkan polisitemia (Frandson, 1992).
Proses berlangsungnya pembentukan darah disebut hemopoiesis. Hemopoiesis saat janin terjadi di kantung kuning telur, hati, limpa, dan sumsung tulang, saat bayi terjadi di sumsum tulang (pada semua tulang), dan saat dewasa hemopoiesis terjadi di tulang vertebrata, tulang iga, sternum, tulang tengkorak, tulang secrum, dan pelvis ujung proximal femur (Hoffbrand, et. al. , 2005).
Materi Dan Metode
Materi
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, pipet haemocytometer, dan kamar hitung neubauer.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah larutan hayem dan darah probandus/ ternak.
Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu, sampel darah yang akan dipakai atau diperiksa disiapkan terlebih dahulu. Lalu sampel darah dihisap dengan haemocytometer sampai skala 0,5 dan ujung pipet dibersihkan dengan kapas. Kemidian larutan Hayem dihisap dengan pipet tadi sampai skala 101. Setelah itu, ujung pipet ditutup dengan ujung jari, sedangkan ujung pipet yang lain dengan jari tengah dan dikocok ± 3 menit. Kemudian cairan yang tidak mengandung SDM dibuang beberapa tetes, lalu larutan SDM diteteskan ke dalam kamar hitung Neubauer yang sudah ada kaca penutupnya dan diperiksa dengaan mikroskop dengan perbesaran objektif 10X, kemudian 40X. Cara untuk menghitungnya yaitu dengan rumus:
Jumlah SDM / mm3 = X. 400/80. 200/0,1
= X. 5. 200
= X. 10000
Dimana:
X = Jumlah SDM pada kelima bilik (kiri atas, kiri bawah, kanan atas, kanan bawah, dan tengah).
400 = Jumlah seluruh bilik kecil
80 = Jumlah bilik dari kecil kelima bilik
200 = Pengenceran
0,1 = Volume bilik–bilik kecil ( 1 mm x 1mm x 0,1)
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan dan perhitungan yang telah dilaksanakan didapatkan jumlah sel darah merah pada kambing tersebut adalah 6.780.000 tiap mm3. Menurut perhitungan, didapat bahwa jumlah sel darah merah pada kambing ini berada dibawah kisaran normal karena, kisaran normal jumlah SDM pada kambing sekitar ±8 sampai 18 juta tiap mm3 (Guyton 1992). Kemungkinan faktor yang mempengaruhi adalah pemberian pakan yang kurang bernutrisi, kondisi ternak (stress), dan pengaruh lingkungan.
Jumlah total sel darah merah sangat bervariasi pada setiap spesies, tergantung pada trah (breed), kondisi, aktivitas fisik, umur, dan jenis kelamin. Berdasarkan hal ini, jumlah SDM pada kambing sangat kurang yang kemungkinan kondisi lingkungan dan kambing tersebut tidak baik atau pemberian nutrisi yang buruk/kurang. SDM pada kambing ini sangat kurang dan dapat dikatakan anemia. Anemia akan menyebabkan jumlah oksigen dalam jaringan berkurang, denyut jantung berkurang, dan frekuensi pernapasan menjadi naik (Hartono, 1990).
Selain faktor eksternal di atas, jumlah sel darah merah juga dipengaruhi oleh faktor internal. Perubahan fisiologi pada hewan juga sangat berpengaruh misalnya umur, keadaan gizi, latihan, kesehatan, siklus sel, proses produksi darah, kebuntingan dan suhu tubuh (Nuraeni, 2006).
Sel darah merah mengandung hemogobin yang merupakan pigmen merah. Molekul hemoglodibin terdiri dari satu molekul globin yang dihubungkan dengan empat molekul heme dan masing–masing dapat diputar mengikat empat molekul oksigen membentuk oksihemoglobin. Fungsi utama hemoglobin adalah sebagai transport oksigen dari paru-paru ke jaringan dan sebaliknya membawa karbondioksida darah dan membantu regulasi asam–asam melalui CO2 dalam paru–paru serta buffer dari Imidazole hisditin hemoglobin (Benjamin, 1994).
Berikut ini adala diagram mengenai pembentukan sel–sel darah dari sl bakal pluripotensial menjadi sel–sel berdifferensiasi dan skema tahap pembentukan sel drah merah.
Gambar 3.2 Diagram sederhana dari diferensiasi sel darah di sumsum tulang (Corwin E J, 2000).
Gambar 3.2 Skema tahap pembentukan sel darah merah (Guyton, 1997).
Kelinan pada jumlah sel darah merah dalam tubuh ada dua, yaitu anemia (kekurangan) dan Thalasemia. Anemia terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai dari gizi yang tidak baik. Selain itu juga disebabkan hilangnya darah karena pendarahan luka atau karena parasit cacing perut/kutu. Anemia juga terjadi karena sel–sel darah merah mengalami hemolisis yang lebih cepat dibandingkan dengan pembentukannya yang baru (Frandson, 1992).
Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya labih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang. Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya. Thalasemia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu thalasemia mayor dan thalasemia minor. Thalasemia mayor ditandai dengan kurangnya kadar hemoglobin dalam darah karena sifat–sifat gen dominan, sedangkan thalasemia minor hanya membawa gen penyakit thalasemia (resesif). Namun, idividu dapat hidup normal, dan tanda–tandanya tidak muncul (Anonim, 2010).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, didapat jumlah SDM pada kambing probandus adalah 6.780.000/mm3. Jumlah ini sangat jauh dengan kisaran SDM normal pada kambing yakni sekitar 8 sampai 18 juta/mm3, sehingga kambing tersebut dapat dikatakan terkena penyakit anemia ( kekurangan jumlah sel darah merah dalam tubuh).
Daftar Pustaka
Anonim. 2010. Jurnal tentang Thalasemia. Nukleus Precise New Letter. Volume 64. Jakarta.
Benjamin, M. 1994. Outline of Veterinary Clinical Phatology. 3rd edtion. The Lowa State University Press. Lowa.
Corwin, E J. 2000. Buku Saku Phatologi. Penerbit Kedokteran EGC. Jakarta.
Frandson, R D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Guyton, A C; Hall J E. 1993. Buku Ajar Fisiolagi Kedokteran. Edisi ke–17. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Guyton, A C. 1997. Anatoni dan Fisiolagi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hartono, R. 1990. Buku Teks Histologi Veteriner. Percetakan Universitas Indonesia (UI Press). Jakarta.
Hoffbrand, A V; J E Petit dan P A H Moss. 2005. Hematologi. Edisi ke–4. Penerbit Kedokteran EGC. jakarta.
Kusumawati, Diah. 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Nuraeni, Diah. 2006. Pendugaan Jumlah Sel Daarah Merah (RBK) melalui hematokrit (PVC). IPB. Bogor.
LAMPIRAN PERHITUNGAN
Berdasarkan hasil percobaan sel darah merah pada kambing, diperolah hasil sebagai berikut:
Bilik kiri atas : 88
Bilik kanan atas : 151
Bilik kanan bawah : 229
Bilik kiri bawah : 140
Bilik tengah : 70
Jumlah : 678 _ _ _ _(X)
Jumlah SDM = X. 400/80. 200/0.1
= X. 5 2000
= X. 10000
= 678. 10000
= 6. 780.000/mm3
ACARA IV
SISTEMA DIGESTI
Tinjauan Pustaka
Sistem pencernaan adalah saluran yang dimulai dari mulut hingga anus. Sistema digesti pada ternak dibagi menjadi dua macam yaitu monogastrik dan poligastrik. Sistem pencernaan monogastrik dimulai dari mulut, esophagus, stomach, smaal intestinum, large intestinum, rektum, dan anus. Sistem pencernaan poligastrik dimulai dari mulut, esophagus, rumen, retikulum,omasum, abomasum, smaal intestinum, large intestinum, rektum, dan anus. Perbedaan sistem pencernaan ruminansia dan non ruminansia terdapat pada perut. Perut rumunansia dibagi menjadi empat yaitu, rumen, retikulum, omasum, dan abomasum (Swenson,1997). Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Pembagian ini terlihat dari bentuk gentingan pada saat otot sfinkter berkontraksi (Pramesda,2011).
Hewan memerlukan makanan bertujuan untuk mendapatkan energi, mengganti sel yang rusak, dan mempertahankan proses hidup serta untuk tumbuh dan berproduksi. Semua zat yang berasal dari tumbuhan dan hewan terdiri dari komponen kompleks yang tidak dapat digunakan begitu saja sehingga memerlukan pemecahan menjadi komponen yang lebih sederhana. Fungsi utama digesti adalah memecah molekul besar dalam makanan sehingga molekul itu dapat diserap dan digunakan tubuh. Penguraian komponen kompleks menjadi komponen sederhana disebut hidrolisis (Tillman, 1998).
Langkah-langkah dalam sistem pencernaan meliputi mekanis, Biologis, dan Enzimatis. Secara mekanis dilakukan dengan prehension, reinsalivasi, dan remastikasi serta redeglutisi. Di dalam rumen terdapat mikroflora rumen yang berfungsi untuk mencerna sellulose dan hemisellulose menjadi VFH + CO2 + CH4 + energi panas. Fungsi lain dari organisme rumen adalah sebagai sumber energi, sumber asam amino, dan sintesis vitamin B. Terdapat pula kelenjar tambahan yang meliputi glandula saliva, pankreas dan hati (Tillman, 1998).
Unggas memiliki pencernaan monogastrik. Sebelum makanan memasuki gizard, makanan di tampung pada crop terlebih dahulu. Makanan yang masuk ke dalam gizard akan digiling secara sempurna sampai halus. Makanan yang tidak tercerna akan keluar bersama air kencing. Oleh karena itu sisa pencernaan pada unggas berbentuk cair. Perbedaan pencernaan pada unggas dan mamalia terletak pada mulut dan perut. Unggas tidak memiliki gigi untuk mengunyah, tetapi memilii lidah yang kaku untuk menelan makanannya. Perut unggas memiliki keistimewaan yaitu terjadi pencernaan mekanik dengan batu-batu kecil yang berada dalam gizzard (Swenson,1997).
Materi dan Metode
Materi
Dalam praktikum ini menggunakan preparat saluran pencernaan unggas yaitu ayam dam menggunakan saluran pencernaan ruminansia yaitu domba.
Metode
Organ-organ pencernaan pada ayam dan domba diperhatikan dengan seksama, kemudian di urai dan di ukur. Pengukuran di mulai dari mulut sampai kloaka (pada ayam) dan anus (pada domba). Pengukuran meliputi panjang dan lebar saluran pencernaan.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data pengukuran organ digesti pada ternak ruminansia antara lain:
Tabel 4.1. Ukuran organ digesti pada ternak ruminansia.
|
Organ Pencernaan |
Ukuran |
|
|
Panjang (cm) |
Lebar (cm) |
|
|
Oesophagus |
44 |
1,5 |
|
Lambung |
– |
– |
|
Rumen |
31 |
27 |
|
Retikulum |
14 |
12 |
|
Omasum |
10 |
17 |
|
Abomasum |
15 |
9 |
|
Small intestinum |
1381 |
1 |
|
Coecum |
34 |
4,5 |
|
Large intestinum |
502 |
4 |
|
Rektum |
10 |
5,5 |
|
Anus |
3 |
3 |
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data pengukuran organ digesti pada unggas antara lain:
Tabel 4.2. Ukuran organ digesti pada unggas.
|
Organ Pencernaan |
Ukuran |
|
|
Panjang (cm) |
Lebar (cm) |
|
|
Oesophagus |
15 |
0,5 |
|
Crop |
4 |
2,5 |
|
Proventrikulus |
3 |
1,5 |
|
Gizzard |
5 |
4 |
|
Small intestinum |
82 |
0,5 |
|
Coeca |
– |
– |
|
Coecum kiri |
9 |
0,7 |
|
Coecum kanan |
11 |
0,8 |
|
Large intestinum |
– |
– |
|
Rektum |
5 |
1 |
|
Kloaka |
4 |
2,5 |
Perbandingan kapasitas sistem digesti pada setiap hewan berbeda-beda. Berikut ini perbandingan kapasitas sistem digesti pada beberapa hewan : Perbandingan kapasitas sistem digesti pada beberapa hewan. Sapi memiliki kapasitas relative perut 90%, usus kecil 18 %, secum 3,kolon dan rectum 8%, ratio intestinal dan panjang tubuh 20 :1, dan luas permukaan saluran pencernaan dal luas permukaan tubuh 30 : 1. Domba memilii kapasitas relative perut 67%, usus kecil 21%, secum 2%, kolon dan rectum 10%, ratio intestinal dan panjang tubuh 27 : 1. Terakhir pada kuda memilki kapasiras relative perut 9%, usus kecil 30%, secum 16%, kolon dan rectum 45%, ratio intestinal dan panjang tubuh 12 : 1, dan luas permukaa saluran pencernaan dan luas permukaan tubuh 2,2 : 1
(Pound et.al, 1995)
Tabel 4.3 Panjang Saluran Pencernaan Pada Ayam
|
Organ Pencernaan |
Pada umur 20 hari (cm) |
Pada umur 1,5 th (cm) |
|
Panjang seluruh saluran pencernaan Crop Proventrikulus Duodenum Ileum dan Jejunum Coecum Rectum dan kloaka |
85 7,5 11,5 12 49 5 4 |
210 20 35 20 120 17,5 11,25 |
(Swenson, 1997)
Sistem Digesti Ruminansia
Sistem pencernaan ruminansia berawal dari mulut, esophagus, rumen, retikulum, omasum, abomasum, small intestinum, large intestinum, rectum, dan anus. Mulut merupakan saluran pertama untuk pencernaan ruminansia dan juga merupakan salah satu organ pengambil pakan. Beberapa proses pencernaan juga terjadi dalam lambung seperti, mastikasi, salivasi, dan deglutisi. Mastikasi merupakan proses pencernaan secara mekanik maupun fisik yang berfungsi menghancurkan makanan. Salivasi adalah proses pelumuran pakan dengan saliva. Deglutisi merupakan proses penelanan (Pramesda, 2011).
Saluran digesti setelah mulut adalah esophagus. Esophagus merupakan tempat lewatnya makanan dari mulut ke perut yang di dalamnya juga terdapat membrana mikosa. Esophagus berdinding tipis dan panjangnya bervariasi diperkirakan sekitar 45 cm (Pramesda, 2011). Hasil pengukuran ketika percobaan dilakukan. panjang esophagus pada ruminansia adalah 44 cm, dan lebarnya 1,5 cm. Hasil tersebut menunjukan bahwa panjang esophagus sesuai dengan kisaran normal dari hasil percobaan.
Rumen merupakan kelanjutan dari esophagus yang berupa kantung besar yang berfungsi menampung semua makanan yang akan difermentasikan. Banyak macam proses pencernaan yang terjadi di dalam rumen seperti pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzym selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Membrana mukosa yang menyelimuti rumen merupakan epitel squamosa berstrata yang tidak mengandung kelenjar. Bagian yang paling ventral dari semua kantong di dalam rumen mempunyai banyak papila yang panjangnya dapat mencapai 1 cm, tetapi di bagian dorsal papila itu hampir tidak ada sama sekali (Frandson, 1992). Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, rumen memiliki panjang 33 cm dan lebar 27 cm.
Menurut Swenson (1997), retikulum memiliki bentuk seperti sarang lebah yang di dalamnya terdapat membran mukosa dan terletak persis di belakang diaphragma.rumen beserta retikulum juga sering disebut sebagai fermentation vat karena didalamnya terdapat mikroorganisme yang dapat memecah selulosa dan hemiselulosa dalam keadaan anaerob. Hasil dari pemecahan tersebut adalah VFA (volatil Fatty Acid), CH4, dan energi panas. Menurut Pramesda (2011) makanan yang memasuki retikulum akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar yang disebut bolus. Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut, makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke omasum. Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, reticulum memiliki panjang 14 cm dan lebar 13 cm.
Menurut Swenson (1997), omasum adalah saluran pencernaan yang berisi lamina-lamina yang dikelilingi oleh membrana mukosa. Menurut Parish (2009) omasum berhubungan langsung dengan retikulum. Omasum dihubungkan langsung dengan saluran yang pendek. Omasum merupakan area absorbsi nutrien dan air. Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, omasum memiliki panjang 11 cm dan lebar 17 cm.
Abomasum merupakan perut yang sebenarnya (lambung sejati) dari ruminansia. Struktur dari abomasum hampir sama dengan lambung non ruminansia. Abomasum memproduksi asam hidroklorik dan enzim untuk proses pencernaan seperti pepsin yang memecah protein, dan menerima enzim keluaran dari pankreas. Contoh dari enzim keluaran pankreas adalah lipase pankreas yang berfungsi memecah lemak. Kerja abomasun ditunang dengan pH asam yang berkisar antara 3,5 sampai 4,0 (Parish,2009). Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, abomasum memiliki panjang 15 cm dan lebar 9 cm.
Saluran yang berikutnya adalah small intestinum. Pada percobaan, panjang small intestinum adalah 1381 cm, sedangkan menurut Swenson (1997), panjang small intestinum adalah 26,20 meter dan menurut Frandson (1992), panjang small intestinum adalah 24-26 meter. Perbedaan yang cukup jauh antara percobaan dengan teori yang ada di buku referensi mungkin karena preparat yang digunakan sudah diawetkan, jadi sudah tidak elastis lagi dan mengkerut. Small intestinum terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Usus halus merupakan tempat absorpsi yang luas dengan adanya fili-fili pada dinding usus halus tersebut.
Saluran pencernaan selanjutnya adalah coecum, dalam percobaan coecum panjangnya 34 cm dan lebarnya 4,5 cm, sedangkan menurut Frandson (1992) adalah 25 cm dengan lebar 5 cm, dan menurut Swenson (1997) mencapai 36 cm. Perbandingan dari kisaran normal dengan hasil percobaan membuktikan kesamaan. Coecum merupakan kantung buntu, saluran berikutnya adalah colon, yang terisi dari bagian-bagian yang naik, mendatar, dan turun. Bagian yang turun akan berakhir pada rektum dan anus. Pada usus besar terdapat kegiatan jasad renik. Pada usus besar terdapat pula colon kasar, yang terdiri dari colon kecil yang terletak pada caudal, yang berfungsi untuk menampung kotoran sebelum dikeluarkan
Menurut Pramesda (2011), rektum berfungsi sebagai reabsorbsi air dan asam amino. Pada rektum ini terjadi diferensiasi sel-sel, ada yang memangjang dan ada yang membentuk bantalan. Rektum juga berfungsi sebagai penampung feses. Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, abomasum memiliki panjang 10 cm dan lebar 5,5 cm
Saluran pencernaan yang paling akhir adalah anus. Menurut Pramesda (2011) anus adalah ujung saluran tempat keluarnya feses. Terdapat beberapa jenis kelenjar yang dapat beradsosiasi dengan sistem pencernaan diantaranya adalah kelenjar mandible, kelenjar maksila, kelenjar faring, dan kelenjar labium. Hasil pengukuran ketika percobaan yang telah dilakukan, abomasum memiliki panjang 3 cm dan lebar 3 cm.
Sistem Digesti Unggas
Ayam merupakan ternak non-ruminansia yang artinya ternak yang mempunyai lambung sederhana atau monogastrik. Pada umumnya bagian-bagian penting dari alat pencernaan adalah mulut, farinks, esofagus, lambung, usus halus dan usus besar. Makanan yang bergerak dari mulut sepanjang saluran pencernaan oleh gelombang peristaltik yang disebabkan karena adanya kontraksiotot di sekeliling saluran (Akoso, 1998).
Sistem pencernaan unggas dimulai dari mulut. Menurut Frandson (1992) unggas tidak memiliki gigi, tetapi memiliki lidah yang kaku sehingga mempermudah penelanan makanan. Saluran pencernaan selanutnya adalah oesophagus. Berdasarkan hasil pengamatan, panjang oesophagus ayam 15 cm sedangkan lebarnya 0,5cm. Menurut Yuwanta (2004) oesophagus merupakan saluran lunak dan elastis yang mudah mengalami pemekaran apabila ada bolus yang masuk. Oesophagus memanjang dari pharynx hingga proventrikulus melewati crop. Organ ini menghasilkan mukosa yang berfungsi membantu melicinkan pakan menuju tembolok.
Menurut Swenson (1997), crop merupakan saluran pencernaan kelanjutan dari oesophagus yang berfungsi untuk menyimpan makanan sementara. Pada dinding crop juga mensekresikan getah yang berfungsi untuk melunakkan makanan yang masuk sehingga akan membantu pencernaan selanutnya. Panjang crop saat pengamatan adalah 4cm dan lebar 2,5 cm. Panjang crop kisaran normal adalah 7,5 cm. Hasil percobaan ini menunjukan bahwa hasil percobaan dan kisaran normal terdapat perbedaan karena preparat yang digunakan untuk percobaan mengecil akibat dmasukan dalam formalin.
Menurut Tillman (1998), proventrikulus berfungsi untuk mensekresikan pepsinongen dan HCl. Crop merupakan tempat untuk pencernaan enzimatis. Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran, proventrikulus memiliki panjang 3 cm dan lebar 1,5 cm. Panjang proventrikulus pada kisaran normal memiliki panjang 11,5 cm. Hasil kisaran normal dan hasil dari percobaan memiliki perbedaan karena preparat yang digunakan mengecil akibat penambahan formalin dan waktu yang sudah lama.
Menurut Swenson (1997), gizzard berwana agak kemerahan. Gizzard merupakan kelanjutan proventrikulus yang berfungsi sebagai tempat pencernaan mekanik pada unggas, dimana makanan dilumat dengan menggunakan grit (pasir kecil). Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran, gizzard memiliki panjang 5 cm dan lebar 4 cm. Saluran yang selanjutnya adalah small intestinum. Small intestinum terdiri dari tiga bagian yaitu duodenum, jejunum, dan ileum yang masing-masing memiliki fungsi yang spesifik. Duodenum berfungsi mensekresikan entero peptidase, sekretin, dan pancreosimin. Jejunum dan ileum berfungsi untuk mensekresikan disakaridase, aminopeptidase, dan dipeptidase. Dalam small intestinum juga terjadi absorbsi nutrien. Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran, small intestinum memiliki panjang 82 cm dan lebar 0,5 cm.
Menurut Yuwanta (2004), coecum berukuran panjang 20 cm. Beberapa nutrien yang tidak tercerna mengalami dekomposisi oleh mikrobia coecum, tetapi jumlah penyerapannya kecil sekali. Beberapa jenis penyakit (misalnya koksidiosis pada ayam dan blackhead pada kalkun) dapat berkembang dengan baik pada coecum. Coecum juga terjadi digesti serat kasar yang dilakukan oleh bakteri pencerna serat kasar. Coecum itik lebih berkembang daripada coecum pada ayam. Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran, coecum kanan memiliki panjang 11 cm dan lebar 0,8 cm, sedangkan caecum kiri memiliki panjang 9 cm dan lebar 0,7 cm. Untuk kisaran panjang coecum mencapai 5 cm untuk unggas yang berumur 20 hari, dan 17,5 cm untuk unggas yang berumur 1,5 tahun. Hasil dari percobaan dan kisaran normal memiliki perbedaan.
Menurut Pramesda (2011), large intestinum dibagi menjadi tiga yaitu ascenden, transversum, dan descenden. Kolon ascenden terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Dari hati membelok ke kiri, lengkung ini disebut fleksura hepatika. Kolon transversum terletak membujur dari kolon ascenden ke kolon descenden. Di sebelah kiri terdapat lekukan yang disebut fleksura lienalis. Yang terakhir adalah kolon descenden yang terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura lienalis sampai ke depan ilium kiri. Fungsi large intestinum pada umumnya adalah untuk mengabsorbsi air dan tempat tinggak bakteri E.coli dan tempat feses.
Menurut Pramesda (2011), rektum berfungsi sebagai reabsorbsi air dan asam amino. Pada rektum ini terjadi diferensiasi sel-sel, ada yang memanjang dan ada yang membentuk bantalan. Rektum juga berfungsi sebagai penampung feses.
Menurut Yuwanta (2000) kloaka merupakan tempat keluarnya ekskreta. Kloaka pada unggas terdiri dari 3 bagian, yaitu kuprodeum, urodeum, dan protodeum. Kuprodeum merupakan muara tempat keluarnya feses. Urodeum merupakan muara tempat keluarnya urin. Protodeum merupakan saluran reproduksi. Feses dari rektum dan telur dari oviduct semuanya lewat kloaka yang kemudian keluar melalui vent. Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran, kloaka memiliki panjang 4 cm dan lebar 2,5 cm.
Kesimpulan
Saluran pencernaan unggas terdiri dari mulut, esophagus, crop, proventriculus, ventriculus, duodenum, jejunum, ileum, large intestinum, rektum, dan kloaka. Saluran pencernaan ruminansia terdiri dari mulut, esophagus, rumen, reticulum, omasum, abomasum, small intestinum, large intestinum, rektum,dan anus. Perbedaan saluran pencernaan ruminansia dengan non ruminansia terletak pada perut. Perut ruminansia terdiri dari rumen, retikulum, omasum, dan abomasum.
Daftar Pustaka
Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Yogyakarta : Kanisius
Frandson,R.D.1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak.Gadjah Mada University.Yogyakarta.
Parish,Jane A.2009.Understanding The Ruminansia Digestive System.Misissipi State University.USA.
Pound WG, Church DC, Pond KR. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. Ed ke-4. New York: John Wiley and Sons.
Pramesda,E., Pamungkas,S., Elisabeth, M., Aji, B.N. dan Ari, P.Y.2011.Sistem Pencernaan.Universitas Negeri Semarang.Semarang.
Swenson, M.J. 1997 . Duke’s Phisiology of Domestic Animals 11th edition. Comstok Publishing Associated a devision of Cornell USA University Pres Ithaca
Tillman,A.D.,dkk.1998.Ilmu Makanan Ternak Dasar.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Yuwanta, Tri. 2000. Dasar Ternak Unggas. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Yuwanta, Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius. Yogyakarta
ACARA V
THERMOREGULASI
Tinjauan Pustaka
Berdasarkan pengaruh suhu dan lingkungan, suhu hewan dibedakan menjadi dua golongan yaitu poikilotherm dan homoiotherm. Hewan poikilotherm suhunya dipengaruhi oleh suhu lingkungan, suhu organ tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu organ luar hewan yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan sekitarnya. Perbedaan suhu pada bagian-bagian ini diakibatkan oleh adanya panas yang diproduksi, panas yang diperoleh dan panas yang dilepaskan bagian tersebut. Hewan ini disebut juga hewan berdarah dingin (Duke’s, 1995).
Hewan homoiotherm suhunya relatif lebih stabil, hal ini diakibatkan oleh reseptor dalam otaknya, sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hal ini mengakibatkan hewan homoitherm dapat melakukan aktivitas tarhadap lingkungan yang berbeda suhunya. Hewan homoitherm memiliki variasi temperatur normal. Hal ini dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi, (Williamson dan Payne, 1993).
Thermoregulasi merupakan proses homeostatis untuk menjaga agar suhu tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur dan mengontrol keseimbangan antara banyak energi (panas) yang diproduksi dengan energi yang dilepaskan. Thermogenesis yang terdapat pada hewan diperoleh dari proses metabolisme dari hewan sendiri atau dari absorbsi panas lingkungan (Suripto, 1998).
Thermoregulasi pada manusia berpusat pada hypothalamus anterior. Terdapat tiga ton komponen pengatur atau penyusun system pengaturan panas, yaitu termoreseptor hypothalamus, saraf eferen, dan afektor thermoregulasi. Hewan homoitherm suhunya relatif stabil, hal ini diakibatkan oleh adanya reseptor didalam otaknya, sehingga dapat mengatur suhu tubuhnya. Hal ini mengakibatkan hewan homoitherm memiliki variasi temperatur normal. Temperature ini antara lain dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi, aktivitas pencernaan dan jumlah pencernaan air (Swenson, 1997).
Penguapan air dari kulit merupakan metode penting yang digunakan tubuh untuk mengendalikan temperaturnya. Ketika temperatur darah naik diatas normal, kelenjar hypothalamus mendeteksi temperatur dan mengirimkan sinyal ke kelenjar keringat untuk menaikkan produksi kelenjar keringat. Energi yang dibutuhkan untuk penguapan air berasal dari tubuh. Hal ini yang menyebabakan tubuh menjadi dingin (Giancoli, 2001).
Suhu tubuh tergantung pada neraca keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Martini, 1998).
Materi dan Metode
Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah termometer, penjepit katak, arloji (stopwatch), katak, kapas, kendi bercat dan tak bercat, air panas, air es, beaker glass dan probandus (manusia).
Metode
Pengukuran Suhu Tubuh
Pengukuran pada mulut. Pertamasampaitama skala thermometer diturunkan sampai 0oC, lalu ujung thermometer dibersihkan. Kemudian dimasukkan kedalam mulut diletakkan dibawah lidah dan mulut ditutup rapat. Setelah sepuluh menit skala dibaca dan dicatat. Dengan cara yang sama dilakukan pada mulut terbuka. Kemudian probandus berkumur dengan air es selama satu menit dan dengan cara yang sama dilakukan pengukuran seperti diatas.
Pengukuran pada axillaris. Pertamasampaitama skala thermometer diturunkan sampai 0oC, Ujung thermometer disisipkan pada fase axillaries dengan pangkal lengan dihimpitkan, setelah sepuluh menit skala dibaca dan dicatat.
Proses Pelepasan Panas
Pelepasan panas pada katak. Pertama katak direntangkan pada papan dan diikat. Suhu tubuh katak diukur melalui oesofagus selama lima menit. Kemudian katak dimasukkan kedalam air es selama lima menit dan diukur suhu tubuhnya melalui oesofagus. Selanjutnya katak dimasukkan kedalam air panas 40oC selama lima menit dan diukur suhu tubuhnya.
Pelepasan panas pada kendi. Disiapkan dua kendi yang satu dicat dan yang satu tidak. Masing-masing kendi diisi dengan air panas 70oC dengan jumlah yang sama lalu diukur suhunya dengan termometer tiap lima menit dicatat suhunya. Dilakukan sebanyak enam kali.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data pengukuran pada mulut antara lain:
Tabel 5.1 Pengukuran Pada Mulut dan Axillaris
|
Perlakuan |
Probandus I |
Probandus II |
|
Mulut tertutup Mulut terbuka Berkumur air es Mulut terbuka Mulut tertutup Axillaris |
37,5 oC 37 oC
36,8 oC 36,5 oC 37,5 oC |
37,2 oC 37,2 oC
36,5 oC 36,7 oC 36,9 oC |
Tabel 5.2 Probandus
|
Nama |
Umur |
Jenis Kelamin |
|
Puri Dharmawati |
18 tahun |
Perempuan |
|
Ahmad Fajri |
17 tahun |
Laki-laki |
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data pengukuran proses pelepasan panas antara lain:
Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Suhu Katak
|
Perlakuan |
Suhu Lingkungan (oC) |
Suhu Katak (oC) |
|
Keadaan biasa Dalam air es Dalam air panas |
28 oC 28 oC 28 oC |
31 oC 25 oC 32 oC |
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diperoleh data pengukuran suhu pada kendi antara lain:
Tabel 5.4 Hasil Pengukuran Suhu Pada Kendi
|
Kendi |
Suhu (oC) |
||||||
|
Awal |
I |
II |
III |
IV |
V |
VI |
|
|
Bercat Tidak bercat |
70 oC 70 oC |
50 oC 52 oC |
49 oC 50 oC |
48 oC 46 oC |
47 oC 44 oC |
45 oC 42 oC |
43 oC 40 oC |
Pengukuran suhu tubuh
Pengukuran suhu pada mulut dan axillaris. Kedua probandus dapat kita ketahui bahwa suhu tubuhnya tidak memiliki perbedaan. Suhu tubuh relatif normal yaitu antara 36 sampai 37,5 0C. Suhu pada mulut tertutup probandus satu lebih tinggi dibandingkan mulut terbuka, akan tetapi pada probandus dua, suhu pada mulut terbukadan tertutup sama. Suhu pada mulut tertutup lebih tinggi daripada suhu pada saat mulut terbuka. Hal ini disebabkan karena tidak adanya sirkulasi udara pada mulut tertutup sehingga suhu yang terukur ialah suhu tubuh secara keseluruhan, sedangkan pada mulut terbuka terdapat sirkulasi udara sehingga terdapat sedikit suhu tubuh yang hilang. Saat mulut terbuka, udara didalam tubuh suhunya menjadi tinggi karena metabolisme dalam tubuh akan bercampur dengan udara yang bersuhu rendah, sehingga akan mencapai keseimbangan dalam dan luar mulut, mengakibatkan suhu udara dalam mulut menjadi turun (Duke’s, 1995).
Probandus setelah berkumur dengan air es, probandus mengalami sedikit penurunan suhu (tidak terlalu signifikan), akan tetapi probandus satu suhu mulut terbukanya lebih tinggi dibandingkan mulut tertutup. Hal ini dapat disebabkan karena saat bernapas, probandus menghembuskan hawa panas dari mulutnya. Berbeda dengan probandus kedua, terdapat perbedaan suhu yang signifikan. Penurunan suhu ini disebabkan karena sebagian suhu dalam tubuh (panas tubuh) mengalami pelepasan panas serta terdapat perbedaan suhu tubuh dari kedua probandus. Beberapa faktor yang mempengaruhinya misalnya faktor umur, faktor kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi, aktivitas pencernaan dan jumlah pencernaan air (Swenson, 1997).
Suhu tubuh kedua probandus pada saat tidak berkumur air es dan berkumur dengan air es menunjukan tidak ada perbedaan yang mencolok, hal ini membuktikan bahwa manusia termasuk homoitherm atau berdarah panas yang sistem pengaturan suhu tubuhnya berkembang sehingga mampu memelihara dirinya dibawah kondisi yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang didapat dari lingkungan dengan panas yang hilang ke lingkungan. Oleh karena itu suhu tubuh manusia relatif konstan (Williamson & Payne, 1993). Begitu juga dengan pengukuran suhu tubuh yang dilakukan pada bagian axillaris. Faktor yang mempengaruhi suhu tubuh antara lain dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi, aktivitas pencernaan dan jumlah pencernaan air (Swenson, 1997).
Proses pelepasan panas
Proses pelepasan panas pada tubuh katak. Hasil pengamatan pada katak menunjukan perbedaan suhu tubuh yang sangat signifikan. Ketika katak dimasukkan dalam air es suhunya menjadi 25oC. Berbeda dengan suhu katak dalam keadaan normal (biasa) yakni suhunya 31oC dengan suhu lingkungan 28oC, begitu juga dengan katak yang dimasukkan kedalam air panas 40oC. Suhu tubuh katak tersebut mencapai 32oC. Hal ini membuktikan bahwa katak ialah salah satu hewan poikilotherm atau hewan berdarah dingin dimana suhu lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuhnya. Katak akan menyesuaikan diri dengan lingkungannya saat kondisi lingkungan yang dingin, yaitu dengan menurunkan suhu tubuhnya. Begitu juga dengan kondisi lingkungan panas, katak akan meningkatkan suhu tubuhnya (Suripto, 1998). Hal ini dapat terjadi karena katak atau hewan poikilotherm belum memiliki sistem yang mampu menjaga suhu tubuhnya seperti homoitherm. Oleh karena, itu hewan berdarah dingin seperti katak temperatur suhu tubuhnya tergantung pada lingkungannya (Williamson & Payne, 1993). Hewan poikilotherm suhunya dipengaruhi oleh suhu lingkungan, suhu organ tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu organ luar hewan yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan sekitarnya (Duke’s, 1995). Sedangkan hewan homoiotherm suhunya relatif lebih stabil, hal ini diakibatkan oleh reseptor dalam otaknya, sehingga dapat mengatur suhu tubuh (Williamson dan Payne, 1993).
Gambar 5.1 Skema mekanisme feedback negatif menghemat atau meningkatkan produksi panas
Stimulus yang mengganggu homeostasis
↓
Suhu tubuh menurun
↓
Reseptor :
|
Kulit, membran mukosa dan Hipotalamus Kembali ke homeostasis ketika suhu tubuh kembali normal |
↓
Pusat pengaturan:
Preoptic area, pusat peningkatan suhu tubuh, Sel neurosekretory di hiptalamus dan Thyrotrope di anterior kelenjar pituitary
↓
Efektor:
– Vasokonstriksi pembuluh darah menurunkan kehilangan panas melalui
kulit
– Medulla adrenal melepaskan hormon yang dapat meningkatkan
metabolisme sel
– Kontraksi otot skeletal: menimbulkan menggigil
– Kelenjar thyroid melepaskan hormon tiroid yang meningkatkan
metabolisme rate
↓
Meningkatnya suhu tubuh
(Tortora, 2000)
Proses pelepasan panas pada kendi. Pada kendi yang dicat proses pelepasan panasnya sangat lambat dibandingkan dengan kendi yang tidak dicat. Hal ini dikarenakan pada kendi yang bercat, pori-pori kendinya tertutup oleh cat. Sehingga proses pelepasan panasnya menjadi lambat karena sedikit udara panas yang keluar. Berbeda dengan kendi yang tidak bercat, proses pelepasan panasnya sedikit lebih cepat. Hal ini dikarenakan pori-pori pada kendi yang tidak bercat tidak tertutup oleh cat. Pelepasan panas tersebut terjadi secara konveksi dan evaporasi (penguapan). Semakin banyak porosampaipori dalam kendi (luas kontak permukaan) dan semakin tinggi perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan, maka proses konveksi dan evaporasi semakin cepat (Martini, 1998).
Panas yang hilang dapat berlangsung secara radiasi, konveksi, konduksi dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan lansung tanpa ada transfer panas molekul. Panas menjalar dari yang suhunya tinggi kebagian yang memiliki suhu yang lebih rendah. Konveksi adalah suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi merupakan konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Martini, 1998).
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa makhluk hidup dapat dibedakan menjadi dua yaitu homoitherm dan poikilotherm. Manusia dikelompokkan sebagai golongan homoitherm, sedangkan katak dikelompokkan kedalam golongan poikilotherm. Suhu mahluk hidup dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur, kelamin, lingkungan, panjang waktu siang dan malam, makanan yang dikonsumsi, aktivitas pencernaan dan jumlah pencernaan air. Pelepasan panas dipengaruhi oleh luas kontak panas dengan luas kontak permukaan. Semakin luas kontak permukaan dan semakin tinggi perbedaan suhu antara sistem dengan lingkungan, maka proses konveksi dan evaporasi (penguapan) panas semakin cepat.
Daftar Pustaka
Duke’s, N.H. 1995. The physiologis of Domestic Animal. Comstock Publishing, New York.
Giancoli, Dauglas C. 2001. Fisika Edisi Kelima Jilid I. Erlangga. Jakarta.
Martini. 1998. Fundamental of Anatomy and Physiology 4th ed. Prentice Hall International Inc., New Jersey.
Suripto, Melvin J and William a. Reece. 1993. Duke`s Physiology of domestic animals. Cornell University Press, Ithaca and London.
Swenson, M.J. 1997. Duke’s Phisiology of Domestik Animal. Cornell USA University Press, USA.
Tortora, J.T., Grabowski, S.R. (2000). Principles of anatomy and physiology. (9th ed.). Toronto: John Wiley & Sons, Inc
Willamson. G.W. dan J.A. Payne.1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
ACARA VI
DARAH
Tinjauan Pustaka
Waktu Pendarahan
Apabila pembuluh darah terpotong atau rusak, maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi karena kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma lokal dan karena refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang menginversi otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang keluar dari pembuluh darah akan berkurang (Frandson, 1993).
Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 1993).
Cairan darah atau yang biasa disebut darah pada Avertebrata mengandung sedikit dalam plasma darahnya .Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah, sel darah putih, trombosit, dan zat-zat terlarut lainnya.Misal protein plasma (albumin , fibrinogen, dan globin) ( Nurcahyo, 1998). Trombin adalah enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal (Poedjiadi, 1994).
Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmidt, 1997). Dalam mengukur kisaran waktu pendarahan dalam detik digunakan probandus (manusia) dan waktu pendarahannya 15-120 detik (Guyton, 1995).
Pembekuan Darah
Pembekuan atau penggumpalan darah disebut juga koagulasi darah. Dari situ akan terjadi suatu masa yang menyeriupai jeli yang kemudian menjadi massa yang memadat dengan meninggalkan cairan jernih disebut serum. (Peodjiadi, 1994).
Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 1993).
Koagulasi darah adalah suatu fungsi penting dari darah untuk mencegah banyaknya daerah yang hilang dari pembuluh darah yang rusak (terluka). Bagian dari darah yang sangat berperan dalam proses koagulasi adalah trombosit atau keping darah . Trombosit berasal dari sistem sel di sumsum tulang yaitu megakarosit yang berkembang menjadi trombosit (Nurcahyo, 1998). Koagulasi dapat dicegah dengan penambahan kalium sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium (Schmid, 1997).
Pengukuran Kadar Hemoglobin
Apabila jumlah Hb atau sel darah merah yang fungsional berkurang jauh dibawah normal maka akan terjadi anemia. Penyebab anemia antara lain defisiensi zat besi, Ca ,vitamin dan asam amino dalam makanan, dan gizi makanan kurang (Dukes, 1993)
Hemoglobin (Hb) tersusun atas protein globural . Tiap rantai Hb terdiri atas empat rantai polipeptida , rantai ini terdiri dari dua rantai alfa . Tiap rantai mengandung asam amino sebanyak 146 (kimball, 1998)
Hb ditambah dengan HCl akan berubah menjadi Globulin HCl dan Ferroprotopertifirin. Hb A terdiri atas rantai alfa dan amino dalam setiap ikatan non kovalen. Sifat unik hb adalah kemampuannya berikatan secara reversible elengan oksigen membentuk kompleks oksigen yang stabil tanpa terjadi oksidasi fe2+ menjadi fe3+. Hal ini karena adanya sifat hidrolifik kantung haeme. Fungsi sel darah yaitu membawa oksigen kejaringan dan membawa oksigen ke jaringan dan membawa karbondioksida ini disebabkan warna pada darah. Hb akan bergabung dengan oksigen yang berada dalam paru-paru membentuk oksihaemoglobin. Selanjutnya oksigen tersebut dilepaskan untuk menuju ke sel jaringan tubuh.Adanya haemoglobin menyebabkan darah mengangkut box oksigen lebih banyak dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Swenson, 1997 ).
Haemoglobin dapat juga berkaitan dengan karbondioksida membentuk Karbonhaemoglobin. Kadar Hb dalam darah dapat ditentukan berdasarkan analisa kandungan besi atau kapasitas pengikatan oksigen dari suatu molekul. Beberapa prosedur dapat dikembangkan berdasarkan pengamatan langsung warna darah dan pengawasan dengan standar buatan. Konversi Hb ke asam hematin dan penyamaan dengan warna coklat standar (Frandson, 1993).
Pengukuran Tekanan Darah
Diastole jantung terjadi selama pengisian bilik, hal ini dapat terjadi pada kedua bilik kanan dan kiri atau diastole ventricular kanan atau kiri. Sistole menunjukkan kontraksi bilik jantung dalam proses pengosongan parsial bilik tersebut. Sehingga terjadi sistole atrial kanan atau kiri maupun sistoleventricular kanan atau kiri (Poedjiadi, 1994).
Jumlah darah di dalam tubuh,sekurang-kurangnya adalah 7% dari berat badan dari segala keseluruhan. Tekanan darah dapat diartikan sebagai tekanan terhadap dinding pembuluh. Tekanan awal yang dihasilkan oleh konsentrasi ventrikel jantung dan merupakan tekanan sistolik. Darah didorong masuk kedalam arteri besar 7yang bersifat elastis, merenggangkan dindingnya dan karena dindingnya mengalami dilatasi. Ketika ventrikel berada dalam keadaan relaks, tertutupnya katup-katup semilunar mencegah baliknya darah dari arteri ke jantung dan ateriol-ateriol kecil akan meneruskan aliran ke kapiler. Tekanan yang ditimbulkan oleh dinding arteri yang elastis itu digunakan untuk mempertahankan tekanan (tekanan diastolik) didalam arteri dan akan tetap mengalir darah dengan lancar kedalam kapiler, pada saat ventrikel sedang relaks (Frandson,1993).
Faktor yang mempertahankan tekanan darah antara lain kekuatan memompa jantung, banyaknya darah yang beredar, viskositas (kekentalan) darah, elastisitas pembuluh darah dan tahanan tepi (Evelyn, 1995).
Materi dan Metode
Materi
Waktu Pendarahan
Alat. Alat yang digunakan adalah lanset, arloji (stopwatch), kertas filter, alkohol 70%, dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah probandus.
Pembekuan Darah
Alat. Alat yang digunakan adalah gelas arloji ber lapis parafin, arloji, jarum pentul dan alat penusuk.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah darah probandus dan alkohol 70%.
Pengukuran Kadar Hemoglobin
Alat. Alat yang digunakan adalah hemoglobinometer Sahli, lanset dan kapas.
Bahan. Bahan yang digunakan adalah HCl 0,1 N, aquadestilata darah probandus dan alkohol.
Pengukuran Tekanan Darah
Alat. Alat yang digunakan adalah spygmomanometer, stefoskop, arloji (stopwach).
Bahan. Bahan yang digunakan adalah probandus (manusia).
Metode
Waktu Pendarahan
Jari probandus dibersihkan dengan kapas yang telah dibasahi dengan alkohol 70%. Kemudian ujung jari ditusuk dengan lanset yang masih steril dan dihitung waktu mulai dari darah keluar. Kertas filter ditempelkan pada darah setiap 30 detik tapi tidak sampai mengenai luka bila pendarahan berhenti waktu dicatat. Waktu pendarahan dicatat mulai saat darah mulai keluar sampai pendarahan berhenti.
Pembekuan Darah
Jari dibersihkan dengan kapas beralkohol. Kemudian jari ditusuk dengan lanset steril, dan waktu pada saat darah keluar dicatat. Satu sampai dua tetes darah dengan cepat dipindahkan kedalam gelas arloji. Selanjutnya, dengan menggunakan kepala jarum pentul, darah tersebut ditusuk dan di angkat. Lakukan hal demikian tiap 30 detik, sampai ada benang fibrin yang terlihat, dan waktunya pun dicatat. Waktu mulai darah keluar dari pembuluh darah sampai terbentuknya benang fibrin dinamakan waktu beku darah.
Pengukuran Kadar Hemoglobin
Tabung sahli diisi dengan HCl 0,1 N sampai angka 10. Tempat pengambilan darah dibersihkan dengan kapas beralkohol dan dibiarkan hingga kering. Pembuluh darah dihisap secara perlahan-lahan dengan menggunakan pipet sahli dengan aspioratornya sampai batas 0,02 ml. Lalu ujung pipet sahli dengan kapas, dibersihkan dan segera dimasukkan kedalam tabung sahli. Tabung sahli diletakkan diantara kedua bagian standar warna dalam hemoglobinimeter. Selama 3 menit darah dibiarkan hingga terbentuk asam hematin. Dengan menggunakan pipet tetes kedalam tabung ditambahkan tetes demi tetes aquades sambil diaduk sampai warna sama dengan warna standart . kemudian , tinggi permukaan cairan pada tabung sahli dibaca dengan melihat skala jalur 95% , yang berarti banyaknya hemoglobin dalam gram per 100 ml darah . jalur skala lainnya pada tabung sahli , jika ada penunjukkan hemoglobin terhadap nilai hemoglobin normal 15,6 % atau nilai normal lainnya yang tertera pada alat hemoglobinometer .
Pengukuran Tekanan Darah
Manset spygmomanometer dililitkan pada lengan atas subjek diatas persedian siku. Manset dipasang lebih kurang sehingga jantung lengan subyek yang diperiksa harus diletakkan dengan baik dengan siku hampir lurus. Udara dipompa didalam manset sampai kira-kira 180 mmHg kemudian tekanan diturunkan perlahan-perlahan darah yang mengalir melalui pembuluh yang terjepit dan dindingnya hampir tertutup itu akan menimbulkan getaran-getaran pada dinding pembuluh . Hal ini dapat terdengar melalui stetoskop yang terpasang pada arteri abrasialis di daerah fosa antekubital.Desiran-desiran tersebut mula-mula akan terdengar jelas dan sama sekali akan hilang apabila tekanan dalam manset tersebut lebih kecil dari tekanan dalam manset tersebut lebih kecil dari tekanan diastole,dengan cara ini orang dapat membedakan antara tekanan sistole diastole.
Hasil dan Pembahasan
Waktu Pendarahan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 6.1 Hasil Percobaan Penentuan Waktu Pendarahan
|
Nama Probandus |
Umur |
Jenis Kelamin |
Waktu Pendarahan |
|
Rahina Muhammad |
18 |
Laki-laki |
3 menit 11 detik
|
|
Marcelina Desi |
18 |
Perempuan |
2 menit 1 detik |
Jika manusia atau hewan mengalami luka, maka darah akan keluar dari pembuluh darah dan akan berhenti karena munculnya benang fibrin. Percobaan pada probandus I (perempuan) didapatkan 3 menit 11 detik sedangkan pada probandus II (laki-laki) didapatkan 2 menit 1 detik, darah berhenti mengalir atau keluar. Ini terjadi karena adanya pembentukan platelet-platelet. Apabila pembuluh darah terpotong atau rusak, maka akan terjadi penyempitan bagian yang terluka. Hal ini terjadi karena kontraksi miogenik otot polos sebagai suatu plasma lokal dan karena refleks simpatik yang merangsang serabut adrogenik yang menginversi otot polos dinding pembuluh lokal. Kontraksi ini membuat darah yang keluar dari pembuluh darah akan berkurang (Frandson, 1993).Menurut Frandson (1993) Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam . Jadi kedua probandus tersebut berada pada keadaan normal. Setelah terjadi luka, waktu pendarahan berkaitan dengan koagulasi darah. Bagi penderita hemofili akan mengalami kesukaran dalam proses koagulasi sehingga waktu pendarahannya lama untuk membeku. Ada penyebab lain lamanya waktu pendarahannya adalah kurangnya ion Ca dan vitamin K yang sangat berperan dalam proses koagulasi darah. Biasanya penderita akan mengalami waktu pendarahan yang sangat panjang sehingga volume darah yang dikeluarkan semakin banyak dan dapat menyebabkan kematian.
Pembekuan Darah
Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 6.2 Hasil Percobaan Waktu Pembekuan Darah
|
Nama Probandus |
Umur |
Jenis Kelamin |
Waktu Beku Darah |
|
Janu Herjanto |
19 |
Laki-laki |
14 menit 34 detik |
|
Marcelina Desi |
18 |
Perempuan |
8 menit 7 detik |
Pembekuan atau penggumpalan darah disebut juga koagulasi darah. Setelah itu akan terjadi suatu masa yang menyeriupai jeli yang kemudian menjadi massa yang memadat dengan meninggalkan cairan jernih disebut serum. (Peodjiadi, 1994).
Kisaran waktu pembekuan darah normal pada manusia adalah 15 detik sampai 2 menit dan akan berakhir setelah luka dalam waktu 5 menit (Frandson, 1993).
Jadi dapat disimpulkan bahwa waktu beku darah pada kedua probandus tersebut dalam keadaan tidak normal. Apabila lebih dari lima menit, dapat disebabkan karena terjadi detisiensi vitamin K dalam tubuh. Penyebab devisiensi vitamin K menurut Frandson (1993) adalah rendahnya penyerapan lemak didalam usus. Koagulasi juga dipengaruhi oleh cara atau teknik pengambilan darah sehingga didapat variasi dalam waktu beku darah (Frandson, 1993). Probandus laki-laki didapat 14 menit 34 detik, sedangkan probandus perempuan didapat 8 menit 7 detik.
Gambar 6.1 Skema pembekuan darah adalah sebagi berikut :
Luka
Jalur ekstrinsik Jalur Intrinsik (pembentukan-
(pembentukan-pembentukan cepat) pembentukan lebih cepat)
Darah bersentuhan dengan jaringan kolagen.
Pengatifan faktor XII
Enzim kaskade pengatifan berurutan
Faktor-faktor darah dengan adanyaion Ca2+ dan .
Pelepasan fosfolipid dan faktor lain dari jaringan. Fosfolipid dari pemecahan
Kation dan faktir-faktor darah platelet
tertentu yang diperlukan.
Pengatifan Faktor X
Pengatifan Protrombin
Diperlukan ion-ion Ca2+
Protrombin Trombin
Fibrinogen Monomer fibrin
(Villee, et al., 1990)
Pengukuran Kadar Hemoglobin
Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut : Absolute hb konsentrat = 19,1 gr/dl
Perhitungan kadar hb = 19,18 gr/ml
Untuk mengetahui kadar Hemoglobin dalam darah dilakukan dengan mencocokkan hasil pengukuran pada Hemoglobinometer, kemudian dilakukan perhitungan :
=
=
0,5(132-x) = 1,2
66-0,5x = 1,2
64,8 = 0,5x
x = 74,2
Kadar Hb = (129,6×14,8)/100
= 19,18
Berdasarkan hasil percobaan dapat diketahui bahwa kadar hemoglobin yang terdapat dalam darah probandus yaitu 19, 18 gr/100ml. Hal ini diakibatkan karena kadar hemoglobin tersebut tergantung pada umur, ukuran fisik, faktor kadar hemoglobin tersebut tergantung, kesehatan makanan status reproduksi dan faktor lingkungan pada probandus tersebut. Apabila jumlah Hb atau sel darah merah yang fungsional berkurang jauh dibawah normal maka akan terjadi anemia. penyebab anemia antara lain defisiensi zat besi, Ca, vitamin dan asam amino dalam makanan, dan gizi makanan kurang (Dukes, 1993).
Pengukuran Tekanan Darah
Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan data sebagai berikut :
Tabel 6.3 Hasil pengukuran Tekanan Darah
|
Nama Probandus |
Umur |
Jenis Kelamin |
Sistolle (mmHg) |
Diastole (mmHg) |
|
Puri Rahmawati |
18 |
Perempuan |
110 |
80 |
|
Janu Herjanto |
19 |
Laki-laki |
120 |
80 |
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil pada probandus I (Laki-laki) dengan tekanan darah mmHg yang artinya mempunyai tekanan sistole sebesar 110 mmHg dan tekanan diastole sebesar 80 mmHg . Sedangkan pada probandus II (perempuan) diperoleh tekanan darah sebesar mmHg yang artinya mempunyai tekanan sistole sebesar 120 mmHg dan tekanan distole sebesar 80 mmHg. Bila dibandingkan dengan kisaran normal pada manusia dewasa muda yaitu 110-123 mmHg untuk sistole dan untuk diastole 60-70 mmHg (Guyton, 1993) . Berarti untuk tekanan sistole dan untuk kedua probandus adalah normal , sedangkan untuk tekanan diastole pada kedua probandus adalah diatas batas kisaran normal.
Faktor yang mempertahankan tekanan darah antara lain kekuatan memompa jantung, banyaknya darah yang beredar, viskositas (kekentalan) darah, elastisitas pembuluh darah dan tahanan tepi (Evelyn, 1995).
Tekanan darah sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin aktivitas tubuh, berat badan, kesehatan dan umur Makin tinggi aktivitas tubuh, berat badan dan umur maka makin tinggi pula tekanan darahnya. (Guyton, 1993). Saat tekanan darah normal (mmHg) pada manusia sangat bervariasi yaitu dapat dilihat pada tabel .
Tabel 6.4 Tekanan Darah Normal literatur
|
Usia |
Diastole (mmHg) |
Sistole (mmHg) |
|
Bayi |
60 |
70-90 |
|
Anak-anak |
60 |
80-100 |
|
Remaja |
60 |
90-110 |
|
Dewasa Muda |
10-80 |
110-120 |
|
Umur Lebih Tua |
80-90 |
130-150 |
( Evelyn, 1995)
Kesimpulan
- Waktu Pendarahan
Waktu pendarahan adalah waktu pada saat darah keluar dari pembuluh darah sampai pendarahan berhenti. Waktu pendarahan tergantung dari besar kecilnya luka dan kemampuan tubuh untuk membentuk benang fibrin. Jadi dapat disimpulkan bahwa kedua probandus tersebut berada pada keadaan normal, yaitu kisaran antara 15 detik sampai 2 menit. Waktu pendarahan ini dipengaruhi oleh efisiensi cairan tenunan dalam mempercepat proses koagulasi, jumlah trombosit, kemampuan trombosit dalam membentuk trombus, dan fungsi dari kapiler darah.
- Pembekuan Darah
Waktu beku darah atau koagulasi adalah waktu yang diperlukan , untuk perubahan sifat dari cair menjadi padat (Fibrinogen menjadi Fibrin) . Dapat disimpulkan bahwa probandus tersebut dalam keadaan tidak normal karena memiliki waktu koagulasi darah lebih dari 5 menit.
- Pengukuran Kadar Hemoglobin
Hasil kadar hemoglobin probandus kisaran normal. Hal ini disebabkan kadar hemoglobin ini tergantung pada umur, ukuran fisik, aktifitas fisik, kesehatan makanan, status reproduksi, dan faktor-faktor lingkungan pada probandus tersebut.
- Pengukuran Tekanan Darah
Hasil percobaan pada kedua probandus tersebut adalah untuk tekanan sistole pada kedua probandus adalah normal . Sedangkan untuk tekanan diastole pada kedua probandus adalah diatas batas kisaran normal . Tekanan darah dipengaruhi pada saat telur dan kecepatan atau naiknya tekanan saat emosi , kerja , demam dan pengaruh umur .
Daftar Pustaka
- Waktu Pendarahan
Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Guyton,R.D.1995 Anatomi dan Fisiologi Ternak edisi ke-empat.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta
Nurcahyo, Heru. 1998. Anatomi dan Fisiologi Hewan. UNY. Yogyakarta.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Schmid, K, and Friends. 1997. Animal Physiology: Adaptation and Environment. Cambridge University Press. USA.
- Pembekuan Darah
Evelyn, Pearce. 1994. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta
Frandson, R.D.1993.Anatomi dan Fisiologi Ternak.Edisi VI.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta
Nurcahya, Heru.1998.Anatomi dan Fisiologi Hewan.Jurusan Pendidikan Biologi UNY.Yogyakarta
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta
Schimid, K and Friends. 1997. Animal Phisiology : Adaption Environment. Cambrige University Press. USA
Villee, C. A.,Walker, W.F. Jr., dan Barnes, R. D.. 1990. Zologi Umum. Penerbit Erlangga. Jakarta
- Pengukuran Kadar Hemoglobin
Dukes. H. N. 1993 The physiology of domestic animal.new york. University college. Camel USA.
Frandson,R.D 1996. Anatomi dan fisiologi ternak. Gajah mada uneversity press. Yogyakarta
Kinball, J.W. 1998. Biologi. Edisi IV. Jilid 1 Erlangga, Jakarta
Swenson, M.J. 1997. Duke’s Physiology of Domestic Animal. Comstock. Publ. Co. Inc, Ithaca New York.
- Pengukuran Tekanan Darah
Evelyn, C. Pearce. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT. Gramedia. Jakarta.
Frandson, R.D.1993. Anatomi dan Fisiologi Ternak.Edisi VI.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta
Guyton, A.C 1993. Fisiologi Kedokteran 1-2.EGC Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
BAB III
PENUTUP
Praktikum daar fisiologi ternak ini terdiri dari dari dari beberapa acara praktikum diantaranya adalah Status Faali yang bertujuan untuk mengetahui data fisiologis ternak yang meliputi temperatur rectal, pulsus dan respirasi, serta untuk mengetahui kondisi kesehatan probandus, Sel Darah Merah bertujuan untuk mengetahui jumlah sel darah merah setiap mm3 darah ternak serta mengetahui kondisi kesehatan ternak, Darah untuk menentukan waktu pendarahan, waktu beku darah, kadar hemoglobin, serta mempelajari cara pengukuran darah secara tidak langsung, Sistem digesti untuk mengetahui bagian-bagian dari sistem pencernaan yang terjadi dan membandingkan organ dan sistem pencernaan pada ruminansia dan non ruminansia, Saccus Pneumaticus untuk mengetahui bentuk, macam, letak, dan mekanisme kerja saccus pneumaticus pada burung dara, dan Termoregulasi yang bertujuan untuk mengetahui suhu tubuh, perbedaan dan perbandingan suhu tubuh serta mengetahui proses pelepasan panas.
Dapat diambil kesimpulan bahwa praktikum dasar fisiologi ternak ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fisiologis ternak, fungsi organ-organ tubuh, dan mengetahui kondisi kesehatan probandus.
Tags: DARAH, faali, fisiologi, Pembekuan Darah, Pengukuran Kadar Haemoglobin, praktikum, SACCUS PNEUMATICUS, SEL DARAH MERAH, SISTEMA DIGESTI, status, tekanan darah, ternak, THERMOREGULASI, Waktu Pendarahan
Leave a Reply