LAPORAN PRAKTIKUM INDUSTRI TERNAK POTONG
Author: ridwan12 | Filed under: Perkuliahan, SemuaLAPORAN PRAKTIKUM
INDUSTRI TERNAK POTONG
Disusun oleh:
Ridwan
12/331610/PT/06228
Kelompok XVI
Asisten Pendamping : Intan Rizki Mauliasari
LABORATORIUM TERNAK POTONG, KERJA DAN KESAYANGAN
BAGIAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak sapi adalah salah satu jenis ternak yang potensial dan mempunyai prospek untuk dapat mengimbangi kesenjangan protein hewani asal ternak. Daging sapi sangat digemari, akan tetapi pemeliharaan sangat kurang. Hewan ternak juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam lingkungan masyarakat kita, karena sering dimanfaatkan sebagai hewan kurban pada hari raya yang permintaanya selalu meningkat setiap tahun.
Industri ternak potong khususnya sapi menjadi bagian yang penting mengingat sapi merupakan ternak yang mampu menghasilkan nilai protein yang tinggi.Pemenuhan kebutuhan protein yang tinggi menjadi salah satu alasan utama ternak sapi harus dikembangkan.Pemerintah juga berusaha meningkatkan program penggemukan sapi dengan cara memberikan bantuan bibit untuk peternak dengan sistem gaduhan dan juga program pemberian pakan tambahan. Dengan cara tersebut diharapkan dapat mengurangi laju erosi pemotongan sapi, sekaligus membantu mengamankan populasi sapi di tanah air.
Penyediaan dan budidaya ternak sapi dalam pengadaan pedet atau bakalan sangat penting dalam menunjang pemenuhan akan daging sapi. Bibit yang unggul akan menghasilkan sapi dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Usaha peternakan breeding harus memahami tatalaksana pemeliharaan yang baik yang terdiri dari manajemen perkandangan, seleksi dan pengadaan bibit atau bakalan, manajemen pakan, manajemen reproduksi, perawatan dan pengamanan biologis ternak serta penanganan limbah peternakan.Hal ini dilakukan untuk mendapatkan bibit anakan yang berkualitas serta mendapatkan untung yang optimal dari kegiatan peternakan sapi dibidang breeding farm. Laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan protein hewani yang juga meningkat. Usaha-usaha pemenuhan kebutuhan protein hewani merupakan tantangan bagi setiap unsure yang bergerak dalam bidang sub sektor peternakan, sehingga diharapkan peningkatan daya dan upaya dengan maksimal agar usaha tersebut dapat terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sekitar 70% produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan faktor genetik hanya mempengaruhi sekitar 30%. faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh paling besar yaitu aspek pakan sekitar 60%. Aspek pakan ini menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi, namun apabila pemberian pakan tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas, maka produksi yang tinggi tidak akan tercapai. Faktor pakan memberi pengaruhnya yang besar terhadap produktivitas ternak, selain itu faktor pakan juga merupakan biaya produksi yang terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60-80% dari keseluruhan biaya produksi.
Tujuan Praktikum
Praktikum industri ternak potong komoditas sapi ini bertujuan untuk mengetahui cara mengelola industri ternak potong khususnya komoditas sapi dengan tujuan pembibitan (Breeding).
Manfaat Praktikum
Mengetahui aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada industri peternakan kambing dan domba dan berbagai masalah dalam usaha industri peternakan ternak kambing dan domba
BAB II
KEGIATAN PRAKTIKUM
Manajemen Perkandangan
Lokasi
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa letak kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dikarenakan letaknya yang dekat dengan kawasan padat penduduk, yaitu dekat dengan Bulaksumur Resindence dan kampus. Kandang juga dekat dengan jalan raya menyebabkan kebisingan pada ternak. Menurut Basya (2002), syarat kandang yang baik salah satunya adalah memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan kerjanya sehingga efisiensi kerja dapat tercapai. Transportasi memegang peranan yang penting dalam pemasaran ternak sapi. Untuk sapi siap potong, induk, maupun bakalan umumnya diangkut menggunakan mobil Pick up atau truk (Rianto dan Endang, 2010). Sapi yang diternakan di kandang Fakultas Peternakan biasanya dapat diangkut dengan menggunakan Pick Up. Umumnya ternak diangkut dari pasar hewan menuju kandang atau dari kandang ke pasar hewan. Lokasi kandang tidak boleh berdekatan dengan pemukiman penduduk ataupun bangunan-bangunan umum seperti sekolah, masjid, rumah sakit dan puskesmas.Lokaskandang fakultas peternakan sudah cukup sesuai apabila dilihat dari dekatnya kawasan padat penduduk.
Layout Kandang
Layout Kandang yang terdapat di Fakultas Peternakan UGM sebagai berikut :
Keterangan :
- Pintu gerbang 11. Kandang sapi
- Kandang kelinci 12. Lahan hijauan
- Kandang kuda 13. Kandang kambing
- Kandang lab. Fispro 14. Tempat parker
- Kandang lepassapih 15. Kandang kambing & domba
- Kandang domba 16. Kandang umbaran kuda
umbaran 17. Toilet
- Kandang sapi lepas 18. Tempat penampungan pakan
sapih
- Ruang asisten &
diskusi
- Kandang sapi
- Kandang sapi umbaran
Gambar 1. Layout Kandang Sapi
Kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fakultas Peternakan UGM, pada komoditas sapi terdapat empat jenis kandang diantaranya kandang individu, kandang individu bunting, kandang umbaran, dan kandang sapih individu.
Kandang sapi milik Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan memiliki 3 jenis kandang yaitu kandang individu, kandang kelompok dan kandang umbaran. Pembagian lahan sesuai dengan banyaknya populasi ternak yang ada. Pembuatan layout (tata letak) kandang harus mencakup fasilitas apa saja yang akan dimuat, berapa kapasitas ternak, ukuran serta bentuknya. Tata letak dapat ditentukan setelah lokasi kandang diketahui (Ngadiyono, 2008).
Tujuan dari pembuatan kandang menurut Abidin (2002), yaitu melindungi sapi potong dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat dengan nyaman, mengontrol sapi agar tidak merusak tanaman di sekitar lokasi peternakan, tempat pengumpulan kotoran sapi, melindungi sapi ari hewan pengganggu, memudahkan pemeliharaan, terutama dalam pemberian pakan, minum, dan mempermudah pengawasan kesehatan ternak.
Adapun persyaratan teknis yang diperlukan dalam pembuatan kandang : Kontruksi diusahakan cukup kuat, terutama tiang-tiang utama bangunan kandang Atap, diusahakan bahan atap ringan dan memiliki daya panas yang relatif kecil, untuk kandang di lokasi/daerah panas tetapi di lokasi/daerah dingin, bisa dipergunakan bahan atap yang memiliki daya serap panas besar; Dinding diusahakan bahan bangunan dinding papan yang baik. Perlu diperhatikan ventilasi yang menjamin pertukaran udara secara teratur tetapi diusahakan agar angin yang kencang terhindarkan. Lantai diusahakan berlubang-lubang kecil. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kekeringan lantai kandang dan mempermudah pembersihan (Murtidjo, 2001).
Karakteristik Kandang
Berdasarkan pengukuran serta pengamatan yang dilakukan selama praktikum, maka didapatkan hasil karakteristik kandang sebagai berikut :
Tabel 1. Karakteristik Kandang Sapi
|
Parameter |
Kandang |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
Jenis Kandang |
Umbaran |
Beranak |
Individu |
Lepas Sapih |
|
Atap |
Gable |
Semi Monitor |
Monitor |
Gable |
|
Dinding |
Terbuka (pagar besi) |
Terbuka (tembok) |
Setengah Terbuka (tembok) |
Terbuka ( Pagar) |
|
Alas |
Semen (Parkling blok) |
Semen (Lantai |
Semen (lantai) |
Tanah |
|
Luas Lokal Kandang |
– |
3,46 x 3,11 m : 1: 0,7606 m2 |
3,77 x 1,45 m : 5,4665 m2 |
– |
|
Jumlah Ternak |
4 induk 2 pedet |
2 ekor |
– |
5 lepas sapih |
|
Luas area kandang |
24,26x 6,45 m : 156,477 m2 |
24,26 x 3,11 m : 75,4486 m2 |
5,16 x 9,17 m :139,0172 m2 |
16,64x 7,47 m :124,300 m2 |
|
Vol. Tempat pakan |
88x65x27 cm v :154440 cm3 |
80x63x40 cm V : 201600 cm3 |
90x64x26 cm v : 149760 cm3 |
80x47x20 cm v :107117cm3 |
|
Vol. Tempat minum |
65x39x34 cm v : 86190 cm3 |
67x67x36 cm v : 161604 cm3 |
80x60x31 cm v : 148800 cm3 |
80x60x31 cm v: 19625 cm3 |
|
Kemiringan Kandang |
4% |
3% |
||
|
1% |
||||
Ada 2 macam model kandang sapi yaitu kandang bebas (loose housing) dan kandang konvensional (conventional/stanchion barn). Kandang bebas merupakan kandang terbuka tanpa penyekat antara ternak sehingga ternak bebas bergerak pada areal yang cukup luas. Kandang konvensional merupakan kandang yang diberi penyekat sehingga ternak tidak mempunyai kesempatan untuk bergerak bebas. Ada dua tipe kandang konvensional yaitu kandang tipe tunggal dan tipe ganda. Penempatan sapi dalam satu baris biasa dilakukan jika menggunakan kandang tipe tunggal. Kandang tipe ganda, penempatan sapi dilakukan dengan membuat dua baris atau jajaran dengan saling berhadapan atau saling bertolak belakang dan di antara kedua baris sapi itu dibuat jalur untuk jalan (Rianto dan Purbowati, 2009).
Berdasarkan pengamatan di lapangan diketahui jenis dan luas kandang sapi yaitu kandang individu memiliki ukuran 3,77 x 1,45 m dan kandang beranak memiliki ukuran 3,46 x 3,11 m.Kandang individu yang baik memiliki ukuran 2.5 x 1m (Soeprapto, 2008). Sedangkan kandang individu yang ada pada praktikum memiliki ukuran 3,77 x 1,75 m, ini menunjukkan bahwa kandang sesuai dengan literatur atau bahkan sangat baik, karena ternak akan jarang mengalami stres karena sempitnya kandang. Luas kandang individu di kandang fakultas peternakan sudah cukup sesuai bila dibandingkan dengan literatur. Menurut Soeprapto (2008) kandang koloni atau umbaran yang baik menganjurkan tiap sapi memiliki ruang gerak 4m2, untuk menghindari sapi yang stress. Berdasarkan dengan literatur maka luas kandang umbaran sudah sesuai untuk membuat sapi nyaman. Menurut Soeprapto (2008), keuntungan kandang umbaran adalah, biaya yang dikeluarkan untuk kandang murah.
Kandang bagi ternak sapi merupakan sarana yang diperlukan meski ternak sapi tanpa kandang pun tidak banyak mengalami kesulitan, kandang berfungsi tidak hanya sekedar sebagai tempat berteduh atau berlindung dari hujan, melainkan bagi ternak sapi sebagai tempat istirahat yang nyaman. Kandang untuk ternak sapi bisa dibuat dari bahan-bahan sederhana dan murah, tetapi harus dibuat dengan kontruksi yang cukup kuat. Adapun persyaratan teknis yang diperlukan dalam pembuatan kandang : Kontruksi diusahakan cukup kuat, terutama tiang-tiang utama bangunan kandang; Atap, diusahakan bahan atap ringan dan memiliki daya panas yang relatif kecil, untuk kandang di lokasi/daerah panas tetapi di lokasi/daerah dingin, bisa dipergunakan bahan atap yang memiliki daya serap panas besar; Dinding diusahakan bahan bangunan dinding papan yang baik. Perlu diperhatikan ventilasi yang menjamin pertukaran udara secara teratur tetapi diusahakan agar angin yang kencang terhindarkan; Lantai diusahakan berlubang-lubang kecil. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kekeringan lantai kandang dan mempermudah pembersihan (Murtidjo, 2001).
Tempat pakan juga menjadi bagian penting pada sebuah kandang. Berdasarkan pengamatan pada saat praktikum diperoleh data luas tempat pakan yang terdapat diatas.Menurut Siregar (2008), panjang tempat pakan yang baik adalah 95 sampai 100 cm, lebar 50 cm, kedalaman 40 cm. Ukuran tempat pakan di kandang bila dibandingkan dengan literatur sudah cukup sesuai.
Tempat minum juga merupakan bagian penting dalam perkandangan sapi.Berdasarkan pengamatan pada saat praktikum diketahui hasil ukuran tempat minum pada tabel diatas. Sebaiknya diantara tempat ransum dan air minumnya dibuat penyekat setebal kira-kira 7,5 sampai 10 cm, panjang tempat ransum 95 sampai 100 cm, lebarnya 50 cm dan dengan kedalaman 40 cm (Basya, 2002). Menurut Siregar (2008), panjang tempat minum yang baik untuk kandang sapi adalah 45 sampai 55 cm, lebar 50 cm, kedalaman 40 cm. Ukuran tempat minum bila dibandingkan dengan literatur cukup sesuai meski lebih panjang sedikit dibanding literatur.
Pengukuran kemiringan kandang dilakukan pada dua kandang yaitu kandang individu 3%, sedangkan kandang beranak memiliki kemiringan 4%. Kemiringan lantai kandang bertujuan agar mempermudah laju aliran air saat pembersihan kotoran sehingga tidak terjadi genangan yang dapat mengganggu sapi. Pembuatan kandang sapi potong perlu memperhatikan konstruksi kandang. Hal-hal yang termasuk dalam konstruksi kandang yaitu atap kandang, dinding kandang, lantai kandang, tempat pakan dan minum, gang/jalan, dan selokan.Atap dapat berupa genting, asbes, seng, atau rumbia. Bahan atap yang paling baik adalah dari bahan genting dan asbes karena tidak menimbulkan panas, sedangkan atap kandang dari bahan seng dapat menyebabkan suhu udara dalam kandang sangat panas.Apabila atap terbuat dari genting, maka kemiringannya 30 sampai 50 sedangkan atap yang terbuat dari asbes dan seng kemiringannya 15-200. Ketinggian atap yang terbuat dari genting adalah 4,5 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menengah dan 4 m untuk lokasi kandang di dataran tinggi, sedangkan atap kandang dari bahan asbes dan seng ketinggiannya 4 m untuk lokasi kandang di dataran rendah sampai menengah dan 3,5 m untuk lokasi kandang di dataran tinggi (Santosa, 2008).
Perlengkapan dan Peralatan Kandang
Berdassarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan selama praktikum, diketahui perlengkapan dan fasilitas pendukung kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan antara lain kamar mandi, ruang asisten, tempat diskusi, gudang pakan, listrik, gudang jerami, dan PDAM. Peralatan yang ada di Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan antara lain sekop, sapu, timbangan, cangkul, selang air, bak, ember, chopper dan troli. Menurut Widi at al (2008), Fasilitas yang harus ada didalam satu area peternakan meliputi kandang, lahan hijauan, gudang, jembatan timbang, instalasi pengolahan limbah, instalasi air, instalasi listrik, handling yard, kantor, mess, dan pos satpam. Menurut Rianto et al., (2010), sekop digunakan untuk mengambil dan membuang kotoran, sapu untuk membersihkan kandang, ember untuk mengangkut air, pakan, memandikan ternak, selang digunakan untuk penyalur air minum dan memandikan ternak, kereta dorong untuk mengangkut sisa kotoran, sampah, rumput ke tempat pembuangan, ear tag untuk penanda pada telinga sapi menggunakan plastik atau logam aluminium dengan nomor yang mudah dibaca, tatah untuk meratakan kuku, catut untuk memotong kuku, pisau pemotong kuku untukuntuk membersihkan celah-celah kuku.
Suhu dan Kelembaban
Dari hasil praktikum didapatkan data mengenai suhu dan kelembapan di Kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan. Pada siang hari pukul 13.00 WIB suhu udaranya 32,3oC dan kelembapannya 61%.Pada sore hari pukul 17.00 suhu udara naik menjadi 34,6oC dan kelembapan naik menjadi 63%.Temperatur lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas dalam unit standar dan biasanya diekspresikan dalam skala derajat celsius (Yousef dalam Sientje, 2003). Secara umum, temperatur udara adalah faktor bioklimat tunggal yang penting dalam lingkungan fisik ternak. Supaya ternak dapat hidup nyaman dan proses fisiologi dapat berfungsi normal, dibutuhkan temperatur lingkungan yang sesuai. Banyak species ternak membutuhkan temperatur nyaman 13 sampai 18 oC (Chantalakhana dan Skunmun, dalam Sientje, 2003) atau Temperature Humidity Index (THI) < 72 (Davidson, et al. dalam Sientje, 2003).
Seleksi dan Pengadaan Bibit
Komposisi Ternak
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data komposisi ternak sebagai berikut :
Tabel 2. Data Komposisi Ternak Sapi
|
Bangsa |
Pedhet |
Lepas sapih |
Dewasa |
|||
|
Jantan |
Betina |
Jantan |
Betina |
Jantan |
Betina |
|
|
Simpo |
1 |
1 |
– |
3 |
– |
3 |
|
Jawa |
– |
1 |
1 |
1 |
– |
3 |
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa ternak yang ada di kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan berjumlah 14 ekor yang terdiri dari sapi Simpo dan sapi Jawa. Komposisi ternak sapi PO terdiri dari 1 ekor pedhet betina dan jantan, 3 ekor sapi lepas sapih betina dan 3 ekor sapi Simpo dewasa betina, sedangkan sapi Jawa terdiri dari 1 ekor pedhet betina, 1 ekor lepas sapih betina dan jantan, dan 3 ekor sapi Jawa dewasa betina.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan komposisi ternak yang ada di kandang Fakultas Peternakan UGM berbeda-beda. Menurut Fikar et al., (2010), komposisi ternak tiap bangsa, jenis kelamin, dan umur di kandang berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu tujuan pemeliharaan, iklim, kelembaban, biaya pemeliharaan, pakan yang tersedia, dan penyebaran penyakit.
Pemilihan Bibit.
Pemilihan bibit perlu dilakukan untuk memperoleh tercapainya tujuan dari pemeliharaan ternak tersebut. Kriteria bibit yang digunakan untuk induk antara lain sapi yang sudah dewasa yang berumur antara 15 sampai 18 bulan, dewasa kelamin lebih dahulu daripada dewasa tubuh, bangsa sapinya jelas, vulva dan ambing normal, tulang pinggul lebar, mothering ability bagus serta kaki belakang kuat. Sedangkan kriteria bibit yang digunakan untuk pejantan antara lain sapi yang berumur antara 15 sampai 18 bulan, dari bangsa yang jelas, kaki belakang kuat, libido tinggi, kualitas sperma bagus, bisa mengawini 3 betina, lingkar skrotum kurang lebih 30 cm serta kaki tidak boleh membentuk huruf O atau X. Menurut Sudarmono (2008), sebagai calon penghasil daging, sapi harus dipilih dari sapi yang benar-benar sehat. Untuk mengetahui kesehatan sapi secara umum, peternak bias memperhatikan keadaan tubuh, sikap dan tingkah laku, pernapasan, denyuk jantung, pencernaan, dan pandangan sapi.
Kriteria bibit yang digunakan untuk induk mempunyai ciri-ciri badan ideal (tidak kurus dan tidak terlalu gemuk) ato memiliki BCS (Body Condition Score) 3, Ambing simetris, motheringability bagus, tubuh sehat dan tidak berpenyakit, sistem reproduksi baik, sudah mencapai dewasa kelamin, dan sudah berumur 1,5 tahun. Kriteria bibit yang digunakan untuk pejantan ciri-cirinya yaitu badan besar, skortum besar dan agak menggantung, kaki belakang kuat, moncong lebar, tubuh sehat, sudah dewasa kelamin, dan berumur 1,5 sampai 5 tahun. Menurut Team Tehnis PUTP Ditjen Peternakan (2005), ada beberapa patokan untuk memilih sapi betina yang baik yaitu a). Dipilih sapi betina yang sehat dan tidak mengidap penyakit menahun; b). Diperhatikan alat-alat kelaminnya, yang baik mempunyai alat kelamin yang normal dan memperliatkan kemampuan untuk menyusui yang besar (ambingnya cukup pertumbuhannya); c). Karakter induk harus terlihat dari ekspresi mukanya, tenang, mata berseri-seri, kepalanya halus; d) konformasi tubuh seimbang antara bagian depan dan belakang, khususnya perlu diperhatikan ukuran pinggang atau pinggulnya lebar dan besar; e). Umur sapi betina untuk bibit sebaiknya jangan terlalu muda (kurang dari satu tahun) dan jangan terlalu tua (lebih dari 4 tahun). Sapi betina yang baik untuk dipergunakan sebagai bibitadalah umur 20 bulan atau poel 2.
Pemilihan pejantan yang perlu dilakukan adalah a). Pemilihan bangsa atau breed pejantan yang akan diternakkan. Bangsa yang akan diternakkan harus sesuai dengan tujuan, karena secara genetik kemampuan ternak bervariasi. Misalnya sapi untuk tujuan memproduksi daging berbeda dengan untuk tanaga kerja, untuk tujuan susu, dan lain-lain. Selanjutnya dalam memilih breed ternak, penting juga memperhatikan besar kecilnya ukuran tubuh ternak, terutama dalam usaha kawin silang, jangan sampai menimbulkan kesulitan pada saat beranak karena kesalahan memilih bangsa pejantan sehingga berakibat berat lahir anak terlalu besar; b). Melihat catatan silsilah atau pedigree. Dilihat catatan mengenai prestasi tetuanya: berat lahir, berat sapih, ADG, berat umur 1 tahun, dan sebagainya; c). Penilaian terhadap bentuk luar (dengan judging). Dalam judging, ada bagian-bagian tubuh ternak yang mendapat penilaian lebih tinggi sesuai dengan tujuan (Widiet al., 2008).
Transportasi
Transportasi yang digunakan untuk mengangkut hewan dari tempat pembelian menuju kandang ternak potong yaitu menggunakan mobil pick up. Menurut Rianto et al., (2010) ada beberapa hal yang perlu diperhattikan dalam pengangkutan yaitu alat angkut, volume angkutan, dan waktu pengangkutan.
Penanganan Ternak Sebelum Program Pembibitan
Berdasarkan pelaksanaan pada penanganan ternak sebelum program pembibitan yaitu kandang yang akan diisi oleh ternak harus dalam keadaan bersih dan bebas dari bakteri pathogen dan penyakit serta pemberian pakan haruslah pakan yang mengandung nutrien yang baik. Menurut Wiyono dan Payogi (2007), perlakuan manajemen pakan yang baik dilakukan agar ternak tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk.Penanganan yang dilaksanakan termasuk efektif dan baik sehingga dapat menjauhkan ternak dari resiko kekurangan nutrien dan penyakit. Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), ternak yang sudah diidentifikasi dengan diberi tanda pengenal berupa kalung, tato atau pengeratan, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat awalnya.Berdasarkan praktikum yang dilakukan di kandang Laboratorium Tenak Potong, Kerja dan Kesayangan diketahui terdapat kesesuaian penanganan yang dilakukan dengan literatur.
Penilaian Ternak
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data Penilaian Sapi Betina sebagai berikut :
Tabel 3. Penilaian Sapi Betina
|
No |
Bangsa |
NO. Identifikasi |
BCS |
Ciri-ciri |
|
Sapi jawa |
2 |
3 |
Tulang rusuk tidak terlihat, bentuk postur tubuh proposional, kaki tegak |
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka diketahui bahwa sapi betina PO memiliki BCS 2 sampai 3. Ciri-ciri yang terlihat antara lain tulang pinggul menonjol dan tulang rusuk agak menonjol. Sapi Jawa betina memiliki BCS 3 dengan ciri-ciri yang terlihat yaitu tulang rusuk tidak terlihat, bentuk postur tubuh proporsional, dan kaki tegak. Penilaian dilakukan untuk menentukan tingkat dan kualitas akhir melalui perabaan yang dirasakan melalui ketipisan, kerapatan, serta perlemakannya. Bagian-bagian daerah perabaan pada penilaian (judging) ternak sapi meliputi; bagian rusuk, bagian Tranversusprocessus pada tulang belakang, bagian pangkal ekor, bagian bidang bahu. Penilaian tersebut dilakukan pada setiap individu ternak sapi yang akan dipilih dengan cara mengisihkan skor yang sesuai dengan penilaian melalui pengamatan, pandangan dan perabaan. Dalam hal ini penilaian harus dilakukan sesubjektif mungkin. Untuk menunjang hasil yang lebih akurat, penilaian tersebut lazimnya dilengkapi lagi dengan pengukuran bagian-bagian tubuh yaitu tinggi pundak/ gumba, panjang badan, lingkar dada dan dalam dada (Todingan, 2010). Berdasarkan hasil penilaian sapi jantan dan dibandingkan dengan literature, diketahui bahwa penilaian yang dilakukan sudah sesuai. Bentuk tubuh serta bagian-bagiannya yang nampak dari luar yang memberi kesan tingkat kemampuan menghasilkan sesuatu dari ternak itu. (Purnomoadi,2003).
Pakan
Bahan Pakan
Berdasarkan hasil pengamatan bahan pakan yang diberikan kepada ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat serta nutrisi feed. Bahan pakan hijauan terdiri dari kleci, daun pisang, debog pisang dan rumput gajah. Pakan ternak secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu hijauan dan konsentrat.Hijauan merupakan sumber serat yang mengandung serat kasar lebih dari 20%, mengandung energi dan kecernaan yang tinggi.Konsentrat mengandung serat kasar lebih sedikit daripada hijauan dan mengandung karbohidrat, protein serta lemak yang relatif banyak, tetapi jumlahnya bervariasi.Pakan konsentrat dibedakan menjadi pakan konsentrat sumber energi dan sumber protein.Pakan konsentrat sumber energi mengandung energi tinggi (TDN>60%) dan serat kasar kurang dari 20% namun memiliki kecernaan yang tinggi. Pakan konsentrat mengandung protein kasar lebih dari 20% (Ernawati et.al., 2010). Pada dasarnya pemberian pakan ternak sapi didasarkan atas umur, berat badan, dan penggunaannya. Sapi yang digunakan untuk tenaga mengolah tanah atau sedang dalam keadaan bunting atau menyusui, kebutuhan energinya akan lebih tinggi daripada sapi yang tidak bunting atau menyusui.
Pakan kasar adalah pakan yang kadar nutrisinya rendah, yakni kandungan nutrisi pakannya tidak sebanding dengan jumlah fisik volume pakan tersebut. Contoh pakan semacam ini adalah rumput alam, jerami, silase, batang jagung, akar tanaman, pucuk daun tebu dan ubi. Sapi dan ruminansia yang lain sangat membutuhkan serat kasar, sebab bila kebutuhan serat kasar ini tidak terpenuhi akan menimbulkan gangguan pencernaan. Pakan kasar akan membantu pencernaan untuk bekerja secara baik, membuat rasa kenyang dan mendorong kelancaran getah kalenjar pencernaan keluar.
Jenis pakan penguat atau konsentrat adalah pakan yang mengandung nutrisi tinggi dengan kadar serat kasar yang rendah. Pakan konsentrat meliputi susunan bahan pakan yang terdiri dari biji-bijian dan beberapa limbah hasil proses industri bahan pangan bijian, seperti jagung giling, tepung kedelai, menir, dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes dan umbi. Untuk menjamin kelengkapan kebutuhan nutrisi ditambahkan pula sumber lain seperti tepung tulang, tepung ikan, vitamin, dan lain-lain.Peranan pakan konsentrat adalah untuk meningkatkan nilai nutrisi yang rendah agar memenuhi kebutuhan normal hewan untuk tumbuh dan berkembang secara sehat (Rianto dan Endang, 2010).
Ransum yang seimbang dapat diramu sendiri oleh peternak dengan memperhatikan bahan pakan yang dipergunakan untuk kandungan nutrisi yang ada. Cara penyiapan pakan dengan pencampuran berbagai jenis asal pakan ini dapat dijumpai dalam berbagai pustaka tentang cara penyusunan ransum. Pemberian satu jenis pakan akan cenderung memberikan ransum yang imbangan nutrisinya tidak serasi sehingga tidak diperoleh manfaat yang optimal untuk proses metabolisme di dalam tubuh. Hanya memberikan biji jagung saja berarti hanya memberikan pakan yang mengandung banyak hidrat arangnya tetapi sangat sedikit proteinnya. Sebaliknya, sapi yang hanya diberikan leguminosa saja berarti telah menerima pakan yang mengandung banyak protein tetapi sedikit hidrat arang. Pemberian pakan dari kacang tanah saja atau biji bunga matahari saja berarti memberi pakan dengan kadar lemak yang tinggi. Oleh sebab itu, kita perlu menyiapkan ransum dengan pencampuran berbagai bahan pakan yang memiliki kandungan nutrisi yang berbeda (Siregar, 1996).
Air merupakan unsur utama dari semua cairan-cairan tubuh yang sangat penting untuk pengangkutan zat-zat makanan ke jaringan tubuh dan pembuangan sisa metabolisme melalui urine kotoran.Air juga memegang peranan utama untuk berfungsinya dengan baik kebanyakan reaksi-reaksi enzim (Darmadja & Djagra, 1993).
Metode Pemberian
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pemberian konsentrat, nutrisi feed dan kleci dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 WIB. Konsentrat diberikan dalam bentuk kering.Pada siang hari pukul 13.50 WIB ternak diberi daun pisang dan debog pisang yang sudah dicacah kecil-kecil. Sore harinya pada pukul 14.00 WIB ternak diberi rumput gajah yang sudah dichopper. Menurut Utomo et al (2008), hijauan yang diberikan dalam bentuk chopped dari jenis rumput raja, hal ini dilakukan agar ternak mudah memakan dan mencernanya sehingga kecernaannya menjadi lebih baik. Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, tanpa mengganggu kesehatan pemakannya.
Makanan hijauan merupakan semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Kelompok tanaman ini adalah rumput (graminae), leguminosa dan tumbuh-tumbuhan lainnya.Kelompok hijauan biasanya disebut makanan kasar. Hijauan yang diberikan ke ternak ada dalam bentuk hijauan segar dan hijauan kering. Hijauan segar adalah makanan yang berasal dari hijauan dan diberikan ke ternak dalam bentuk segar. Sedangkan hijauan kering adalah hijauan yang diberikan ke ternak dalam bentuk kering (hay) atau disebut juga jerami kering (Edo, 2012).
Konsentrat sangat dibutuhkan oleh ternak ruminansia (sapi potong), karena bahan-bahan tersebut mudah difermentasikan sehingga konsentrat akan meningkatkan kadar propionat yang berguna dalam pembentukan daging dan akan merangsang pertumbuhan mikrobia rumen sehingga mempercepat kemampuan mencerna serat kasar. Penambahan konsentrat pada ternak ruminansia memungkinkan ternak untuk mengkonsumsi pakan yang lebih baik nutriennya dan lebih palatabel, selain itu kecenderungan mikroorganisme dalam rumen dapat memanfaatkan pakan penguat terlebih dahulu sebagai sumber energi dan selanjutnya dapat memanfaatkan pakan kasar yang ada. Konsentrat sangat mudah dicerna dan berperan sebagai sumber zat pakan utama seperti karbohidrat dan protein. Kualitas konsentrat perlu diperhatikan dalam menyusun pakan sapi potong ditentukan oleh kandungan protein dan energinya.Selain komposisi kimia faktor penting dalam mengevaluasi konsentrat terkandung dalam pakan sapi perah adalah palatabilitas, kualitas produk dan biaya (Siregar, 1995).
Pemberian pakan konsentrat biasanya diberikan sebelum pakan kasar atau hijauan. Hal ini dimaksudkan agar mikrobia rumen telah mendapat cukup energi sehingga dapat berkembangbiak secara optimal dan selanjutnya mikrobia tersebut diharapkan mampu mengkonversi pakan kasar yang berupa hijauan menggunakan enzyme selulase dan kemudian diserap oleh tubuh ternak. Pemberian hijauan dilakukan biasanya selang 2 jam setelah pemberian konsentrat agar mikroba dalam rumen dapat berkembang biak terlebih dahulu, sehingga dapat mencerna hijauan dengan baik. Imbangan pemberian hijauan dan konsentrat dalam bahan kering supaya dapat dicapai koefisien cerna pakan tertinggi adalah sebesar 60 : 40 (Parakkasi, 1999). Berdasarkan hasil praktikum dibandingkan dengan literatur, pakan yang diberikan pada sapi sudah sesuai.
Reproduksi
Deteksi Birahi
Deteksi birahi dilakukan untuk mengetahui kapan saat mengawinkan yang tepat bagi ternak agar persentase keberhasilan atau menjadi bunting tinggi. Menurut Widayati et al (2008), ciri-ciri ternak birahi antara lain sapi betina memperlihatkan perubahan warna pada vulva yaitu bengkak, kemerahan dan sedikit agak panas, ternak gelisah, pangkal ekor sedikit terlihat, mencoba menunggangi temannya dan diam bila ditunggangi sapi lain serta melenguh-lenguh. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, sapi-sapi di kandang tidak ada yang sedang mengalami birahi.
Tanda-tanda khusus dari vulva adalah keadaanya yang tampak memerah, membengkak, dan keluar lendir bening (Santoso, 2001). Menurut Achyadi, K. R., (2009), selama estrus, sapi betina menjadi sangat tidak tenang, kurang nafsu makan, dan kadang – kadang menaiki sapi–sapi betina lain dan akan diam berdiri bila dinaiki. Vulva tersebut akan membengkak. Memerah dan penuh dengan sekresi mucus transparan yang menggantung dari vulva atau terlihat di pangkal ekor.Lamanya berahi bervariasi pada tiap – tiap hewan dan antara individu dalam satu spesies.Kemungkinan hal ini disebabkan oleh variasi-variasi sewaktu estrus, terutama pada sapi dengan periode berahinya yang terpendek di antara semua ternak mamalia.Berhentinya estrus sesudah perkawinan merupakan indikasi yang baik bahwa kebuntingan telah terjadi. Akan tetapi dapat juga terjadi pada 3 sampai 5 % sapi – sapi yang bunting selama 3 bulan pertama masa kebuntingan walaupun dapat terjadi dalam bulan–bulan yang lebih tua.
Perkawinan
Umur pertama kali dikawinkan yaitu 18 sampai 24 bulan.Penentuan saat mengawinkan yaitu jika sapi mengalami estrus pada pagi hari, sebaiknya dikawinkan pada sore hari.Jika sapi estrusnya sore hari maka pada pagi harinya harus dikawinkan. Waktu mengawinkan sebaiknya 12 jam setelah kelihatan tanda-tanda estrus. Lama waktu birahi antar spesies ternak tidak sama, untuk itu perlu mendapatkan perhatian agar waktu kawin ternaktepat pada waktunya, agar diperoleh angka konsepsi yang tinggi. Perkawinan secara alami masalah ini tidak terlalu penting karena ternak lebih tahu saat yang tepat bagi mereka untuk kawin (Widi et al., 2005).
Perkawinan yang dilakukan di kandang ternak potong yaitu dengan cara inseminasi buatan dan alami. Inseminasi buatan dilakukan diakhiir estrus diawal metestrus.Bila tanda-tanda birahi terjadi di sore hari, maka paginya adalah waktu yang tepat untuk dikawinkan. Umur pertama kali yang paling ideal untuk mengawinkan sapi betina yaitu pada umur 1,5 sampai 2 tahun, karena pada umur tersebut sudah tercapainya dewasa kelamin dan dewasa tubuhnya. Pada sapi jantan umur yang ideal untuk dikawinkan yaitu pada umur 1 sampai 2 tahun. Menurut Rianto dan Endang (2010), perkawinan alami adalah perkawinan dengan mempertemukan pejantan dengan induk scara langsung umumnya satu pejantan bisa mengawini 25 sampai 30 ekor induk. Kawin suntik (IB) dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak sapi melalui penggunaan pejantan pilihan.
Kawin suntik (Inseminasi Buatan, IB) dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas ternak sapi melalui penggunaan pejantan pilihan.Keberhasilan dalam IB sangat dipengaruhi oleh keterampilan inseminator ketika menginseminasikan semen pada induk yang sedang birahi (Rianto et al., 2010).
Deteksi Kebuntingan
Deteksi kebuntingan yaitu cara untuk mengetahui kebuntingan ternak. Ciri-ciri ternak yang sedang bunting antara lain perut sebelah kanan membesar ambing agak turun,gak minta dikawinin lagi, 21 hari setelah estrus ternak tidak mengalami estrus kembali, ternak lebih tenang, dan di cek melalui USG, palpasi Abdomen, dll. Dari hasil pengamatan di kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan ada 4 ekor sapi yaitu Sapi simpo nomer 2 dan 3 serta Sapi jawa nomer 1 dan 4 yang sedang bunting. Kebuntingan adalah suatu periode sejak terjadinya fertilisasi sampai terjadi kelahiran. Kebuntingan merupakan keadaan di mana anak sedang berkembang dalam uterus seekor hewan betina. Selama kebuntingan terjadi pertumbuhan dan perkembangan individu baru yang merupakan hasil dari perbanyakan, pertumbuhan, perubahan susunan serta fungsi sel. Perubahan tersebut meliputi bertambahnya volume dan sirkulasi darah kelenjer uterus yang tumbuh membesar dan bekelok–kelok serta infiltrasi sel darah putih yang mempersiapkan saluran reproduksi betina untuk kebuntingan (Ilawati, 2009).
Beberapa metoda diagnosa kebuntingan pada sapi, yaitu sebagai berikut, Non Return to Estrus (NR). Pada sapi dan kerbau, ketidakhadiran estrus setelah perkawinan digunakan secara luas oleh peternak dan sentra-sentra IB sebagai indikator terjadinya kebuntingan, tetapi ketepatan metoda ini tergantung dari ketepatan deteksi estrusnya.Pada kerbau, penggunaan metoda NR ini tidak dapat dipercaya karena sulitnya mendeteksi estrus (Lestari, 2006).
Ultrasonografi.Ultrasonography merupakan alat yang cukup modern, dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kebuntingan pada ternak secara dini. Alat ini menggunakan probe untuk mendeteksi adanya perubahan di dalam rongga abdomen. Alat ini dapat mendeteksi adanya perubahan bentuk dan ukuran dari cornua uteri.Harga alat ini masih sangat mahal,diperlukan operator yang terlatih untuk dapat menginterpretasikan gambar yang muncul pada monitor.Ada resiko kehilangan embrio pada saat pemeriksaan akibat traumatik pada saat memasukkan pobe. Pemeriksaan kebuntingan menggunakan alat ultrasonografi ini dapat dilakukan pada usia kebuntingan antara 20 sampai 22 hari, namun lebih jelas pada usia kebuntingan diatas 30 hari (Lestari, 2006).
Diagnosa Imunologik. Menurut Lestari (2006) teknik Imunologik untuk diagnosa kebuntingan berdasarkan pada pengukuran level cairan yang berasal dari konseptus, uterus atau ovarium yang memasuki aliran darah induk, urin dan air susu. Test imonologik dapat mengukur dua macam cairan yaitu:
- Pregnancy Specific yg hadir dalam peredaran darah maternal : eCG dan EPF.
- Pregnancy Not Specific, perubahan-perubahan selama kebuntingan, konsentrasi dalam darah maternal,urin dan air susu, contoh : progesteron dan estrone sulfate. Berdasarkan pengamatan diketahui tidak ada kambing dan domba yang sedang bunting.
Penanganan Kelahiran
Hasil yang diperolah dari wawancara orang kandang dapat diketahui penanganan ternak sebelum kelahiran yaitu induk yang sedang bunting diamati dan disendirikan. Penanganan ternak pada saat kelahiran yaitu membantu ternak yang kesulitan saat proses beranak dengan menarik kaki depan pedhet agar keluar lebih dahulu. Setelah itu membersihkan lendir yang menempel di tubuh pedhet agar pedhet tersebut bisa segera bernapas. Untuk ternak yang sudah melahirkan, penanganan yang dilakukan antara lain member pakan tambahan, memberi kolostrum, pedhet diberi bedding, iodine dan segera diidentifikasi serta dilakukan recording.
Perawatan dan Pengamanan Biologis Ternak
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Untuk mencegah terjadinya penyakit pada ternak ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu melakukan sanitasi, ternak dimandikan, kuku pada ternak dipotong, penyemprotan disinfektan dan penanganan limbah. Salah satu manajemen yang tidak boleh diabaikan adalah penjagaan kesehatan, termasuk pencegahan penyakit. Menurut Noviandi et al., (2006), beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka pencegahan penyakit pada ternak meliputi pengawasan kesehatan ternak yang kontinyu, sanitasi, ventilasi kandang, pemberian pakan yang baik dalam jumlah yang cukup, penggembalaan ternak, dan vaksinasi secara teratur. Pengawasan kesehatan ternak secara kontinyu untuk mengetahui ternak yang dipelihara sehat atau ada yang sakit supaya segera dipisahkan untuk mendapatkan pengobatan dan tidak menular pada ternak yang sehat. Sanitasi harus dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap lingkungan sekitar, terhadap peralatan yang berhubungan dengan ternak, maupun terhadap petugas yang ada di kandang. Ventilasi kandang harus baik, apabila ventilasi buruk akan menyebabkan gas-gas kotor dari kotoran maupun hasil pernapasan tidak dengan cepat terbuang ke luar kandang. Pakan yang baik dapat meningkatkan produktivitas ternak, daya tahan trernak terhadap penyakit. Melepaskan ternak di lapangan atau padang penggembalaan merupakan hal yang sangat penting agar ternak dapat berolahraga, sekaligus mengendorkan otot-otot. Penggembalaan jangan terlalu pagi dikarenakan rumput masih berembun dan dapat menyebabkan penyakit bagi ternak, selain itu juga ternak perlu dihindarkan untuk penggembalaan di tengah terik matahari tinggi. Vaksinasi dilakukan untuk mencegah penyakit dengan menghubungi Dinas Peternakan setempat
Pemantauan ternak sakit
Pemantauan ternak sakiit ini dilihat dari tingkah laku, kebersihan kandang dan ternaknya. Apabila ternaknya terlihat sakit maka akan dikarantinakan. Karantina dipergunakan untuk memisahkan ternak yang baru saja datang, hal ini dimaksudkan untuk penyesuaian (adaptasi) dengan cara diberi vitamin dan manajemen pakan yang harus bagus. Menurut Rianto dan Endang (2010), perawatan kambing dan domba untuk mencegah terkena penyakit dapat dilakukan dengan berbagai berbagai cara antara lain vaksinasi ternak secara teratur terhadap penyakit, periksa kesehatan ternak secara teratur, melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang, sanitasi lingkungan yang baik, dan menjauhkan ternak-ternak yang terkena penyakit menular dari ternak yang sehat.
Penyakit yang Sering Muncul
Penyakit yang sering muncul pada sapi antara lain diare, kembung, abses, kaskado, pnemonia, lameness dan metritis. Ciri-ciri ternak yang diare yaitu feses yang dikeluarkan cair dan berbau. Pada ternak yang kembung, ciri-ciri yang terlihat yaitu perut sebelah kiri membesar dan di bagian legok lapar terlihat cekung. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan mencoblos bagian perut agar gasnya keluar. Ciri-ciri ternak yang terkena abses antara lain terdapat nanah dan darah di bagian tubuhnya. Penanganan yang dilakukan yaitu bagian yang terkena abses dibelek. Pada ternak yang terkena penyakit kaskado, ciri-ciri yang terlihat antara lain kulit berkerak, ada darah dan berair. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan memberi salep. Pada ternak yang terkena pnemonia biasanya ternak akan flu, nafas kencang dan berat serta kepalanya akan menunduk. Penanganan yang dilakukan yaitu dengan memberi obat. Ternak yang menderita lameness akan terlihat pincang dan penanganan yang dapat dilakukan yaitu dengan memberi nutrien, mineral dan obat-obatan. Pada ternak yang menderita metritis biasanya ada bau busuk di vulva serta plasenta menggantung. Penanganan yang dapat dilakukan antara lain mengeluarkan plasenta tersebut dan dicuci.Menurut Rianto dan Endang (2010), perawatan sapi untuk mencegah terkena penyakit dapat dilakukan dengan berbagai berbagai cara antara lain vaksinasi ternak secara teratur terhadap penyakit, periksa kesehatan ternak secara teratur, melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang, sanitasi lingkungan yang baik, dan menjauhkan ternak-ternak yang terkena penyakit menular dari ternak yang sehat. Menurut Siregar (2008), disamping itu diupayakan agar sapi dimandikan minimal satu kali dan maksimal dua kali dalam sehari.
Penanganan Ternak Sakit dan Obat
Menurut Noviandi et al.,(2006) ternak yang dipelihara dapat terserang penyakit. Apabila ada ternak yang sakit, maka segera mungkin ternak tersebut dipisahkan dari ternak yang sehat untuk mendapatkan perawatan yang optimal. Ternak yang menderita penyakit menular disarankan untuk dipindah ke kandang karantina. Apabila ternak mengalami luka pada anggota tubuh dianjurkan luka tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang melekat. Pencucian disarankan dengan air hangat yang dicampur desinfektan, kemudian dilumuri salep atau sulfanilamide untuk luka bernanah, sedangkan untuk luka baru dapat diberi bubuk antibiotik atau betadin.Diantara obat yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Tabel Data Obat dan Fungsinya
|
Nama Obat |
Kandungan |
Fungsi |
Dosis |
|
Valbendasol |
Albendazol |
Obat cacing |
10 ml |
|
Vitamin B komplek |
Vit. B1, B2, B6 |
Penambah stamina |
Secukupnya |
|
Multivitamin vermipazol |
Vit. B, B2,B3, dan E |
Sistem Pertahanan tubuh |
10 ml |
|
Medoxyl |
Oxytetra cyclin |
Obat pneumonia |
10 ml |
|
Biocylamine |
Vit. ATP |
Penguat otot |
10 ml |
|
Norit |
Carbonavit |
Obat mencret/diare |
6-9 kablet/ kali minum |
|
Diambung |
Carbonavit |
Obat mencret/diare |
6-9 kablet/ kontrol 2 x sehari |
|
Polybat |
Trymetropym, sulfadiazyna |
Obat mencret/diare |
1-2 kablet |
|
Neocavlan |
Kaulin, pektin |
Obat mencret/diare |
Kapsul 5ml/50 kg |
|
Aquaprin |
Trymetropym, sulfadiazyna |
Obat mencret/diare |
10ml |
|
Gusanex |
Larvisidor |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
Carbasun |
Carbonat |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
Betadyne |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
|
Verpet |
Vernecture |
Obat scabies |
Selera luka |
|
Penstren |
Proclane |
Obat infeksi saluran pernafasan |
10 ml |
Penanganan yang dilakukan apabila sapi tersebut terdeteksi sakit, langkah pertama adalah memberikan obat sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Obat-obatan yang digunakan antara lain gusanex, iodine povidon, vermiprazol, colibact, aquaprim, carbasunt spray, ivervete, biosolamin dan vitamin B komplek. Gusanex memiliki kandungan larficidal dan antiseptik. Gusanex berfungsi untuk mencegah larva dengan pemberian dosis secukupnya. Di dalam iodine povidon mengandung PVP iodine 10% dan berfungsi sebagai antiseptik dan mencegah infeksi. Dosis yang diberikan secukupnya.Vermiprazol mengandung albendazol dan berfungsi untuk mencegah cacing.Dosis yang diberikan 10% dari bobot badan ternak. Colibact berfungsi sebagai obat diare dan keracunan dengan pemberian dosis 1 kapsul. Colibact mengandung sulfadiazine. Aquaprim mengandung trimetoprim yang berfungsi juga sebagai obat diare. Dosis pemberian kepada ternak yaitu 10% dari bobot badan. Carbasunt spray yang mengandung carbonat sulfamida berfungsi sebagai antiseptik dengan pemberian dosis secukupnya. Ivervete berfungsi sebagai obat scabies dan dermatitis. Dosis yang diberikan yaitu 1ml per 300 kg bobot badan. Biosolamin mengandung ATP dan berfungsi sebagai penguat otot dan suplemen dengan pemberian dosis 10% dari bobot badan. Vitamin B komplek yang mengandung B1, B2, B6 berfungsi menambah daya tahan tubuh dengan pemberian dosis 10% dari bobot badan.
Penanganan Limbah
Macam Limbah Yang Dihasilkan
Limbah yang dihasilkan di kandang milik Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan ini yaitu sisa pakan, bedding, feses, dan urin. Menurut Rianto et al (2010), kotoran ternak terdiri dari feses dan sisa pakan yang tidak habis dimakan oleh sapi.
Penampungan dan Pengolahan Limbah
Penanganan limbah di kandang milik Laboratorium Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan tidak ada pengolahan lebih lanjut. Kotoran hanya ditampung dan dikeringkan yang kemudian nantinya akan dijual.Menurut Rianto et al (2010), setidaknya kotoran ternak bisa dimanfaatkan menjadi tiga produk bernilai, yaitu pupuk kandang, biogas, dan bioarang.
Pengolahan limbah di kandang ternak potong belum ada, karena kotoran hanya di keringkan kemudian langsung dijual. Menurut Siregar (2008), limbah dari ternak dapat dimanfaatkan menjadi beberapa produk antara lain pupuk kandang atau kompos, biogas, dan bioarang. Produk pertama, pupuk kandang, merupakan campuran dari kotoran sapi, urin, sisa pakan yang diendapkan pada suatu tempat tertentu selama beberapa waktu.
BAB III
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
Ternak sapi yang berada dikandang fakultas peternakan masih terdapat lalat yang mengelilingi sapi walaupun kandang sudah dibersihkan serta sapi dimandikan.Kenyatannya lalat masih mengerubungi tubuh sapi. Bisa diketahui penyebabnya dari tempat pembuangan kotoran ternak tidak jauh dari kandang ternak. Kemudian ketika membersihkan, kemungkinan masih tersisa kotoran dilantai.Menanggulangi masalh ini, maka yang perlu diperhatikan ketika membersihkan kandang harus benar di cek samapi benar kotorannya tertinggal. Untuk pembuangan limbah pun jangan terlalu dekat dengan kandang
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan sapi yang terdapat dikandang Fakultas Peternakan UGM adalah sapi dengan bangsa PO dan sapi Jawa. Pemilihan bibit dilakukan dengan kriteria sapi yang sehat, bebas cacat, dan memiliki catatan reproduksi yang baik pula. Pakan berupa konsentrat disimpan dalam gudang dan untuk hijauannyadiberikan dalam bentuk segar. Hijauan tersebut sebelum diberikan dichopper dengan panjang sekitar 10 cm. Manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang setiap hari. Hal ini berarti manajemen perkandangan, pakan, reproduksi, dan perawatan di kandang Fakultas Peternakan UGM dilakukan dengan baik. Penanganan limbah masih perlu dikembangkan. Penanganan limbah dengan mengolah limbah tersebut masih belum dilakukan.
Saran
Ternaknya diperbanyak lagi, dan limbah yang ada seperti feses dan urin supaya diolah contohnya pupuk kompos ataupun biogas.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2002. Kiat Mengatasi Masalah Praktis Penggemukan Sapi Potong.
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Achyadi, K. R., 2009.Deteksi Birahi pada Ternak Sapi. Tesis MS Pascasarjana IPB. Bogor.
Arthur, G. F.; Noakes, D.E.;Pearson, H. and Parkison,T.M. 1996. Veterinary Reproduction and Obstetrics. London : W.B.Sounders.
Basya, S. 2002. Pemberian Optimal Hijauan dan Konsentrat Dalam Ransum SapiPerah Laktasi. Balai Penelitian Ternak Bogor. Bogor.
Edo. Hijauan Makanan Ternak. Availableat http://ediskoe.blogspot.com/?expref=next-blog. 2012. Diakses pada tanggal 01 Mei 2014.
Ernawati, Rr, Ratna Wylis Arif, dan Slameto. 2010. Teknologi Budidaya Kopi Poliklonal. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bandar Lampung. ISBN: 978-979-141-35-4.
Illawati, R. W. 2009. Efektifitas penggunaan berbagai volume asam sulfat pekat (H2SO4) untuk menguji kandungan estrogen dalam urine sapi Brahman Cross bunting.Skripsi. Sekolah Tinggi Peternakan. Sijunjung.
Fikar, Samsul dan Ruhyadi, Dadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. AgroMedia Pustaka. Jakarta
Lestari, D.L. 2006. Metode Deteksi Kebuntingan Pada Ternak Sapi. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Murtidjo B.A. 1990. Beternak sapi potong.Kanisius. Yogyakarta
Murtidjo.BA., 2001. Berternak Sapi Potong. Kanisius.Yogyakarta.
Ngadiyono, N., dkk. 2008. IndustriTernakPotong, Kerja, danKesayangan. FakultasPeternakanUniversitasGadjahMada: Yogyakarta.
Noviandi, Cuk T., et al.,. 2006. Modul Pencegahan dan Penanganan Penyakit pada Kambing. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Parakkasi, Aminuddin. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Purnomoadi, A. 2003.Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Diklat Kuliah Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang.
Rianto, E. dan Purbowati, E. 2009.Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rianto, E dan Endang, P. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta
Setiyono. 1999. Sanitasi Perusahaan. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sientje. 2003. Stres Panas Pada Sapi Perah Laktasi. IPB, Bogor
Siregar, S. 1995.Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S.B, 1996. Penggemukan Sapi. PenebarSwadaya. Jakarta.
Siregar, S. 2008. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sudarmono, A. S. 2008. Sapi Potong+Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Bisnis, Analisis Penggemukan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudono, A., 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Swadaya. Jakarta.
Soeprapto, Herry., Zainal Abidin. 2008. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Todingan, Lambe. 2010. Pemilihan Dan Penilaian Ternak Sapi Potong Calon Bibit.http://disnaksulsel.info. Sulawesi Selatan.Utomo, R., S.P.S. Budhi, A. Agus, C.T. Noviandi. 2008. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Widayati, Diah T., Kustono, Ismaya, dan S. Bintara. 2008. Bahan Ajar Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta
Widi, Baliarti, Ngadiyono, Murtidjo, Budisatria. 2008. Bahan Ajar Industri Ternak Potong, Kerja, dan Kesayangan. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Lampiran
|
Gambar 2 Kandang umbar sapi |
Gambar 3. Kandang umbar sapI |
|
Gambar 4. Kandang head to Head |
Gambar 5. Multivitamin |
|
Gambar 6. Multivitamin |
Gambar 7. Obat infeksi, ngorok, dan kolera |
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak potong merupakan suatu komoditi ternak yang diarahkan untuk tujuan produksi. Pengembangan terhadap ternak potong harus memperhatikan karakteristik setiap individu atau komoditi ternak, sehingga input teknologi yang diimplementasikan dalam setiap usaha ternak potong perlu disesuaikan dengan sifat reproduksi, pertumbuhan dan kemampuan adaptasi dari ternaknya. Pengenalan terhadap sifat karakteristik bangsa penting untuk dapat mengetahui ternak tersebut secara genetik masih murni ataukah sudah merupakan hasil persilangan. Kemurnian ternak terkait dengan potensi genetik. Produksi ternak potong pada perlakuan budidaya yang sama akan menampilkan kinerja yang berbeda pula apabila indikator bangsa dan kemurniannya berbeda.
Ternak kambing daan domba atau sering juga dikenal sebagai ternak ruminansia kecil, merupakan ternak herbivora yang sangat populer di kalangan petani di Indonesia terutama yang tinggal di Pulau Jawa. Jenis ternak ini lebih mudah dipelihara, dapat memanfaatkan limbah dan hasil ikutan pertanian dan industri, mudah dikembangbiakkan, dan pasarnya selalu tersedia setiap saat serta memerlukan modal yang relatif sedikit dibanding ternak yang lebih besar. Kemampuan ternak ini untuk memanfaatkan hijauan sebagai bahan makanan utama menjadi daging, menempatkan ternak kambing atau domba sebagai bagian yang cukup penting artinya bagi perekonomian nasional pada umumnya, maupun kesejahteraan keluarga petani di pedesaan pada khususnya.
Praktikum Industri Ternak Potong Komoditas Kambing dan Domba ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada industri peternakan kambing dan domba dan berbagai masalah dalam usaha industri peternakan ternak kambing dan domba.
Tujuan Praktikum
Tujuan Praktikum Pemeliharaan Kambing dan Domba adalah untuk mengetahui pemeliharaan ternsk potong khususnya komoditas kambing dan domba dengan tujuan pemeliharaan untuk pembibitan (breeding)
Manfaat Praktikum
Mengetahui aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada industri peternakan kambing dan domba dan berbagai masalah dalam usaha industri peternakan ternak kambing dan domba
BAB II
KEGIATAN PRAKTIKUM
Menajemen Perkandangan
Lokasi
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa letak kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dikarenakan letaknya yang dekat dengan kawasan padat penduduk, yaitu dekat dengan Bulaksumur Resindence dan kampus. Kandang juga dekat dengan jalan raya menyebabkan kebisingan pada ternak. Menurut Basya (2002), syarat kandang yang baik salah satunya adalah memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan kerjanya sehingga efisiensi kerja dapat tercapai. Transportasi memegang peranan yang penting dalam pemasaran ternak sapi. Untuk sapi siap potong, induk, maupun bakalan umumnya diangkut menggunakan mobil Pick up atau truk (Rianto dan Endang, 2010). Sapi yang diternakan di kandang Fakultas Peternakan biasanya dapat diangkut dengan menggunakan Pick Up. Umumnya ternak diangkut dari pasar hewan menuju kandang atau dari kandang ke pasar hewan. Lokasi kandang tidak boleh berdekatan dengan pemukiman penduduk ataupun bangunan-bangunan umum seperti sekolah, masjid, rumah sakit dan puskesmas. Sehingga lokasi kandang sendiri diFakultas Peternakan UGM sudah cukup efisien.
Layout kandang
Layout Kandang yang terdapat di Fakultas Peternakan UGM sebagai berikut :
Keterangan :
- Pintu gerbang 11. Kandang sapi
- Kandang kelinci 12. Lahan hijauan
- Kandang kuda 13. Kandang kambing
- Kandang lab. Fispro 14. Tempat parker
- Kandang lepassapih 15. Kandang kambing & domba
- Kandang domba 16. Kandang umbaran kuda
umbaran 17. Toilet
- Kandang sapi lepas 18. Tempat penampungan pakan
sapih
- Ruang asisten &
diskusi
- Kandang sapi
- Kandang sapi umbaran
Gambar 3. Layout Kandang Kambing Domba
Fungsi kandang bagi kambing dan domba yaitu sebagai tempat berlindung ternak dari hujan dan terik matahari sehingga ada rasa nyaman, dalam keadaan yang baik ternak akan bertumbuh dan berkembang secara normal (Subangkit, 2004) sedangkan menurut Sutama dan Budiarsana (2010), fungsi kandang bagi kambing dan domba, diantaranya adalah tempat perlindungan ternak dari terik matahari, hujan maupun angin kencang, tempat makan, minum, tidur, dan istirahat, tempat berkembangbiak (kawin dan beranak), memberikan perlindungan keamanan bagi ternak, memudahkan dalam pengawasan dan perawatan ternak, memudahkan dalam penanganan feses dan urin serta menghindari pencemaran lingkungan dan limbahnya
Kandang merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal ternak atas sebagian atau sepanjang hidupnya. Suatu kandang memerlukan sarana fisik yang baik antara lain kantor kelola, gudang, kebun hijauan pakan, dan jalan. Kompleks kandang dan bangunan-bangunan pendukung tersebut disebut sebagai perkandangan. Dengan demikian, perkandangan adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan (Rianto et al., 2010).
Salah satu faktor pendukung keberhasilan suatu usaha peternakan adalah tersedianya kandang yang memadai. Secara umum kandang memiliki fungsi untuk melindungi ternak dari gangguan yang tidak diinginkan (sengatan matahari, cuaca dingin, hujan, tiupan angin kencang, binatang buas, pencuri), mencegah ternak tidak merusak tanaman, tempat untuk aktivitas ternak (tidur, istirahat, makan, minum, membuang kotoran, kencing), memudahkan pengelolaan dan kontrol terhadap ternak (Budisatria et al., 2006).
Beternak kambing secara semi-intensif adalah kegiatan pemeliharaan ternak kambing dengan sistem penggembalaan yang dilakukan secara teratur dan baik. Selain itu, pemilik juga menyediakan kandang untuk dihuni dan sebagai tempat tidur ternaknya pada malam hari. Umumnya, lokasi kandang terpisah cukup jauh dari rumah tinggal dalam kondisi tertentu, pemilik sudah mulai menaruh perhatian khusus terhadap ternak kambing yang dipeliharanya, terutama ketika ternak akan melahirkan dan digemukkan untuk dipotong. Perlakuan pada kambing untuk kedua tujuan tersebut adalah mengurung kambing selama sehari penuh.
Kandang umbaran jika tampak atas dapat dilihat bahwa kandang dibagi dua bagian, yaitu kandang yang tertutup oleh atap dan kandang yang tanpa atap. Kandang yang tertutup atap digunakan kambing dan domba untuk istirahat dan makan, sedangkan kandang tanpa atap digunakan ternak untuk exsercise.
Karakteristik Kandang
Berdasarkan hasil praktikum di peroleh data karakteristik kandang sebagai berikut:
Tabel 5. Karakteristik Kandang Kambing Domba
|
Parameter |
Kandang |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
|
Jenis Kandang |
Panggung koloni kawin |
Panggung Individu |
Beranak |
Panggung Koloni |
|
Atap |
Monitor |
Gable |
Gable |
Gable |
|
Dinding |
Bambu |
Besi |
Bambu |
Besi |
|
Lantai |
3,3×6,3 m |
2,45×0,68 m |
1,8×1,6 m |
|
|
Luas Area Kandang |
99 m2 |
100,3 m2 |
17,16 m2 |
83,67 m2 |
|
Kemiringan Selokan |
2% |
3% |
2% |
2% |
Berdasarkan hasil pengamatan diatas, didapatkan 4 jenis kandang yaitu Panggung koloni kawin dengan atap monitor dan dinding bambu, Panggung Individu dengan atap gable dan dinding bambu, Kandang Beranak dengan atap gable dan dinding bamboo serta Panggung Koloni dengan atap gable dan dinding besi. Menurut Daliani (2010), tipe kandang berdasarkan bentuk dan fungsinya yaitu: Kandang Individu dan kandang kelompok. Kandang individu atau kandang tunggal, merupakan model kandang satu ternak satu kandang. Bagian depan ternak merupakan tempat palungan (tampat pakan dan air minum) sedangkan bagian belakang adalah selokan pembuangan kotoran. Sekat pemisah pada kandang tipe ini lebih diutamakan pada bagian depan. Menurut susunannya, terdapat 3 macam kandang individu yaitu: Satu baris dengan posisi kepala searah, dua baris dengan posisi kepala searah, dengan lorong di tengah dan dua baris dengan posisi kepala berlawanan, dengan lorong di tengah.
Kandang kelompok atau dikenal dengan koloni/komunal merupakan
Model kandang dalam satu ruangan ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebas tanpa diikat. Keunggulan model kandang kelompok dibanding individu adalah efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja rutin terutama pembersihan kotoran kandang. Sutama dan Budiarsana (2010) menyatakan bahwa lantai kandang panggung dibuat 0,5 sampai 1,5 m di atas permukaan tanah.
Tempat air minum bias disediakan pada ember plastik atau tempat lain yang ditaruh di luar kandang atau menempel pada dinding kandang. Dengan demikian, apabila domba hendak minum, dapat dengan mudah mengeluarkan kepalanya dari dalam kandang dan tidak membasahi ruang kandang (Sudarmono dan Sugeng, 2011).
Berdasarkan hasil diskusi, dapat diketahui bahwa menurut model atap kandang dapat dibagi menjadi 4 yaitu, kandang atap monitor, semi monitor, gabble, dan shade. Bentuk dan model atap kandang hendaknya menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Beberapa model atap kandang yaitu atap monitor, semi monitor, gable dan shade. Model atap gable dan shade untuk dataran tinggi sedangkan untuk dataran rendah mengggunakan monitor dan semi monitor (Dalliani, 2010). Dibandingkan dengan literatur, terdapat kesesuaian karena pada pengamatan kandang yang terlihat yaitu kandang model atap monitor dan semi monitor. Kandang dengan model atap disesuaikan dengan keadaan lingkungan, iklim, dan arah angin menuju kandang.
Fasilitas Pendukung dan Peralatan Kandang
Fasilitas-fasilitas pendukung yang tersedia di kandang Fakultas Peternakan UGM yaitu dapur, toilet, gudang pakan, tempat parker, ruang asisten, meja dan kursi, serta tempat chopper. Masing-masing fasilitas mempunyai fungsi-fungsi yang dapat menunjang jalannya kegiatan di dalam maupun di luar kandang. Adapun fungsi-fungsi tersebut yaitu, dapur berfungsi sebagai tempat untuk memasak kebutuhan anak kandang, karyawan, dan asisten praktikum, toilet berfungsi sebagai tempat buang air besar dan kecil, gudang pakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan persediaan pakan ternak, ruang asisten berfungsi tempat istirahat dan rapat koordinasi asisten, meja dan kursi digunakan untuk menulis, mencatat, dan diskusi antara praktikan dan asisten, tempat chopper berfungsi sebagai tempat ditempatkannya chopper dan proses pemotongan hijauan. Menurut Sugeng (2000), dengan adanya penataan fasilitas penunjang yang baik, maka dapat mempermudah peternak dalam pemeliharaan ternak sapi. Memberikan ketenangan dan kenyaman bagi ternak sapi dalam berproduksi.
Selain fasilitas pendukung, di kandang Fakultas Peternakan UGM tersedia peralatan untuk mobilitas kegiatan di kandang. Peralatan-peralatan yang tersedia di kandang Fakultas Peternakan UGM yaitu sapu lidi, troli, sekop, garu, mobil pick up, dan timbangan ternak. Adapun fungsi-fungsi dari masing-masing peralatan kandang yaitu sapu lidi berfungsi sebagai alat untuk menyapu atau membersihkan kandang, troli alat untuk mengangkut dan membawa kotoran, sekop alat untuk mengambil atau mengangkut kototran dari tempat kotoran kandang ke dalam troli, garu alat untuk menarik atau mendorong kotoran ke selokan, mobil pick-up kendaraan untuk mengangkut atau mengambil ternak, timbangan ternak alat untuk menimbang bobot badan ternak. Dibandingkan dengan fasilitas kandang yang berada di Fakultas Peternakan sudah cukup memadai.
Suhu dan Kelembaban
Suhu dan kelembaban di kandang laboratorium Ternak Potong Kerja dan Kesayangan Fakultas Peternakan didapatkan data pada jam 15.00 adalah 20,8⁰C dan 88%. Menurut Kartasudjana (2001), Dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 500 meter Suhu maksimum pada pukul 13.00 sampai 14.00 sekitar 32⁰C.Dataran tinggi antara 700 sampai 1000 meter mempunyai suhu minimum mencapai 15⁰C sedangkan suhu maksimum sampai 28⁰C. Menurut Sugeng (2000) suhu yang bagus untuk kandang ternak kambing dan domba adalah suhu ruang yang berkisar antara 25°C sampai 30°C sedangkan untuk kelembaban udara yang bagus yaitu berkisar antara 60-70. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa suhu di kandang Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan kurang sesuai dengan literatur.
Seleksi dan Pengadaan Bibit
Komposisi Ternak
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, kambing dan domba yang terdapat dikandang Fakultas Peternakan UGM memiliki komposisi pada table berikut:
Tabel 6. Komposisi Ternak Kambing Domba
|
Bangsa |
Cempe |
Lepas Sapih |
Dewasa |
|||
|
Jantan |
Betina |
Jantan |
Betina |
Jantan |
Betina |
|
|
PE |
2 |
1 |
3 |
– |
1 |
15 |
|
Kacang |
3 |
– |
4 |
1 |
1 |
5 |
|
Kejobong |
– |
– |
1 |
– |
1 |
8 |
|
Bligon |
– |
– |
5 |
– |
– |
– |
|
Garut |
1 |
5 |
10 |
4 |
2 |
8 |
|
Ekor Tipis |
3 |
2 |
1 |
– |
1 |
14 |
Komposisi dan jumlah bangsa kambing di peternakan fakultas peternakan UGM bervariasi, diantaranya kambing PE 2 cempejantan, 1 betina, 1 cempe betina, 3 jantan lepas sapih, 1 jantan dewasa dan 15betina dewasa. Kambing kacang terdiri dari 3 jantancempe,3 jantan lepas sapih,1 jantan dewasa, 5 betina dewasa. Kambing kejobong terdiri dari 1 jantan lepas sapih, 1 jantan dewasa, dan 8 betina dewasa. Kambing bligon terdiri dari 5 jantan lepas sapih.
Sedangkan, ternak domba berjumlah 51 ekor dengan komposisi sebagai berikut:Kompsisi domba di fakultas peternakan UGM terdiri dari dua jenis domba, yaitu domba garut dengan jumlah 1 cempe jantan,5cempe betina, 10 jantan lepas sapih, 4 betina lepas sapih, 2 jantan dewasa, 8 betina dewasa. Domba Ekor Tipis (DET) terdiri dari 3cempe jantan, 2 cempe betina, 1jantan lepas sapih, 1 jantan dewasa, 14 betina dewasa.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan komposisi ternak yang ada di kandang Fakultas Peternakan UGM berbeda-beda. Menurut Fikar et al., (2010), komposisi ternak tiap bangsa, jenis kelamin, dan umur di kandang berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu tujuan pemeliharaan, iklim, kelembaban, biaya pemeliharaan, pakan yang tersedia, dan penyebaran penyakit.
Pemilihan Bibit
Berdasarkan pengamatan dan diskusi yang dilakukan, kriteria bibit yang digunakan untuk induk yaitu kambing atau domba memiliki ambing yang lengkap berjumlah 2 buah memiliki kaki yang kokoh, memiliki pinggul yang lebar, keturunan yang baik, dan mudah berdaptasi. Menurut Suharto (2000), bentuk tubuh yang ideal untuk pembibitan kambing atau domba yaitu tubuh kompak, dada dalam dan leher, garis punggung dan pinggang lurus, bulu lunak dan mengkilat, tubuh besar teapi tidak terlalu gemuk, memiliki sifat keindukan yang baik, kaki lurus dan tumit tinggi, jumlah gigi yang lengkap, dari keturunan kembar atau induk kelahiran tunggal tapi berasal dari induk muda, dan memiliki ambing yang tidak terlalu menggantung dan berbentuk simetris. Bila dibandingkan dengan literatur, hasil yang didapatkan menggambakan kriteria yang tidak terlalu spesifik sedangkan literatur menggambarkan kriteria-kriteria secara spesifik. Penggambaran secara spesifik membantu meminimalisir kesalahan dalam pemilihan bibit.
Ciri induk betina yang unggul yaitu mempunyai sifat keibuan, garis punggung rata, mata cerah bercahaya, kulit halus dan bulu klimis, rahang atas dan rahang bawah rata, kapasitas rongga perut besar, dada lebar, kaki kuatdan normal, berjalan normal, ambing cukup besar, dan puting susu dua buah dan normal, sedangkan ciri induk pejantan unggul yaitu mempunyai karakter jantan yang kuat, perototan yang kuat, mata bersinar, punggung kuat dan rata, kaki kuat dan simetris, testis 2 buah dan normal, penis normal, dan libido tinggi (Sutama dan Budiarsana, 2010).
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan, kriteria bibit yang digunakan untuk pejantan yaitu kambing atau domba memiliki libido tinggi, kondisi badan sehat, tinggi badan optimum, testis simetris, dan umur antara 1,5 samapi 2 tahun. Menurut Suharto (2000), bibit yang baik untuk jantan yaitu memiliki dada lebar, tubuh relative panjang, penampilan gagah, berasal dari keturunan kembar, ternak berumur antara 1,5 samapi 3 tahun, dan buah zakarnya normal (2 buah sama besar dan kenyal). kambing atau domba yang terdapat di kandang memiliki umur 1,5 sampai 2 tahun sebagai umur bibit yang baik untuk dijadikan sebagai pejantan. Hal ini dilakukan karena pada umur tersebut ternak telah mencapai dewasa tubuh dan dewasa kelamin. Kambing dan domba yang diamati memiliki kriteria-kriteria bibit yang baik sehingga tujuan produksi sesuai dengan harapan.
Transportasi
Berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan, transportasi yang digunakan untuk mengantuk ternak berupa mobil truck, mobil pick up, pesawat, dan kapal laut. Mobil container digunakan untuk mengangkut ternak dengan kapasitas 16 ternak, truck digunakan untuk mengangkut ternak jarak dekat maupun jauh dengan kapasitas sekitar 6 sampai 8 sapi, mobil pick-up digunakan untuk mengangkut ternak ke pasar maupun ke tempat pemesanan konsumen, ternak yang diangkut biasanya kambing atau domba dengan kapasitas 5 sampai 6 ekor. Pesawat digunakan untuk mengangkut hewan ternak yang berasal dari luar wilayah Negara (impor atau ekspor). Kapal laut digunakan sebagai pengangkut ternak lintas pulau maupun lintas negara. Untuk mengirim ternak dari sentra produksi ke sentra konsumsi diperlukan sarana transportasi darat dan laut. Sarana transportasi darat terdiri dari penggiring ternak, kendaraan truk/pick-up dan gerbong kereta api. Sementara itu sarana transportasi laut terdiri dari kapal laut yang mencakup jenis kapal barang, kapal roro, danferi (Ilham, 2001). Transportasi yang digunakan untuk mengangkut ternak kambing dan domba yang dibeli dari pasar hewan menuju ke kandang yaitu menggunakan pick up. Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), setelah tiba ternak langsung diistirahatkan beberapa jam. Selanjutnya, ternak diberi makan dan minum. Sangat direkomendasikan agar ternak diberi larutan air gula sebagai sumber energi. Tujuannya untuk memulihkan kondisi ternak.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, alat-alat transportasi yang dimiliki oleh kandang Fakultas Peternakan UGM antara lain mobil pick-up dan mobil.
Penanganan Ternak Sebelum Program Pembibitan
Berdasarkan pelaksanaan pada penanganan ternak sebelum program pembibitan yaitu kandang yang akan diisi oleh ternak harus dalam keadaan bersih dan bebas dari bakteri pathogen dan penyakit serta pemberian pakan haruslah pakan yang mengandung nutrien yang baik. Menurut Wiyono dan Payogi (2007), perlakuan manajemen pakan yang baik dilakukan agar ternak tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk. Penanganan yang dilaksanakan termasuk efektif dan baik sehingga dapat menjauhkan ternak dari resiko kekurangan nutrien dan penyakit. Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), ternak yang sudah diidentifikasi dengan diberi tanda pengenal berupa kalung, tato atau pengeratan, kemudian ditimbang untuk mengetahui berat awalnya. Berdasarkan praktikum yang dilakukan di kandang Laboratorium Tenak Potong, Kerja dan Kesayangan diketahui terdapat kesesuaian penanganan yang dilakukan dengan literatur.
Penilaian Ternak
Penilaian Kambing dan Domba Jantan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada penilaian kambing dan domba jantan diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 7. Penilaian Kambing Domba Jantan
|
Bangsa |
No Identifikasi |
Nilai Bcs |
|
PE |
Sunnyy |
2 |
|
Kejobong |
69 |
2 |
|
Kacang |
80 |
2 |
|
Domba Ekor Tipis |
09 |
3 |
|
Domba Garut |
10 |
3 |
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai Body Condition Score untuk domba Garut 2, kambing bligon 3, kambing kejobong 1, domba ekor tipis 3 dan kambing Peranakan Ettawa 2. Menurut Prabowo (2010), Body Condition Score untuk 1 memiliki ciri –ciri tulang rusuk sangat terasa melalui kulit, tidak ada lapisan lemak, loin sangat tipis, dan terlihat sangat kurus. Body Condition Score untuk 2 memiliki ciri-ciri kurus, rusuk masih terlihat namun tidak terlalu jelas, bagian loin eye cukup berotot, bagian pinggul terlihat bundar dari samping. Body Condition Score untuk 3 memiliki ciri-ciri terlihat sedang, rusuk mulai tidak terlihat dan tertutup kulit dengan rapih, perototan loin penuh dan mulai tertutup lemak, bagian pinggul semakin bundar. Body Condition Score untuk 4 terlihat gemuk, terlihat akumulasi lemak di pangkal ekor, rusuk tertutup daging dan membutuhkan tekanan lebih bila ingin meraba rusuk, loin eye tebal, BCS 5 terlihat sangat gemuk, tulang rusuk sulit diraba, loin eye tebal dan tertutup lemak, lemak mulai teras di seluruh tubuh (Prabowo, 2010). Jika dibandingkan dengan literatur, penilaian terhadap ternak kambing dan domba jantan dalam praktikum masih sesuai dengan literatur dan termasuk baik.
|
BCS 1 Tulang rusuk sangat terasa melalui kulit, tidak ada lapisan lemak, loin sangat tipis, terlihat sangat kurus |
|
|
BCS 2 Terlihat kurus, rusuk masih terlihat namun tidak terlalu jelas, bagian loin eye cukup berotot, bagian pinggul terlihat bundar dari samping
|
|
|
BCS 3 Terlihat sedang, rusuk mulai tidak terlihat dan tertutup kulit dengan rapih, perototan loin penuh dan mulai tertutup lemak, bagian pinggul semakin bundar
|
|
|
BCS 4 Terlihat gemuk, terlihat akumulasi lemak di pangkal ekor, rusuk tertutup daging dan membutuhkan tekanan lebih bila ingin meraba rusuk, loin eye tebal,
|
|
|
BCS 5 Terlihat sangat gemuk, tulang rusuk sulit diraba, loin eye tebal dan tertutup lemak, lemak mulai teras di seluruh tubuh. |
Gambar 3. Body Condition Score pada domba
(Sumber : Tames 2010)
Peniliaian Kambing dan Domba Betina. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh nilai Body Condition Score untuk kambing dan domba betina untuk bangsa domba ekor tipis yaitu 2, domba garut 3, kambing kacag 2, domba ekor tipis 3, kambing Peranakan Ettawa2, dan kambing kejobong2. Body Condition Scoring (BCS) adalah alat manajemen yang berguna untuk membedakan perbedaan kebutuhan gizi ternak dalam kawanan. Sistem ini menggunakan skor numerik untuk memperkirakan cadangan energi dalam tubuh ternak. Pemantauan kondisi tubuh menggunakan sistem Body Condition Score untuk adalah alat manajerial yang penting untuk menilai efisiensi produksi (Prabowo, 2010). Penilaian terhadap ternak kambing dan domba dalam praktikum sudah sesuai dengan literatur.
Pakan
Bahan Pakan
Bahan pakan yang diberikan kepada ternak berupa konsentrat berbentuk mash dan hijauan segar. Pakan tersebut merupakan sumber utama karbohidrat, lemak dan protein. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral perlu ditambah garam dan mineral lainnya (Umiyasih, 2007).Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), pemberian pakan konsentrat harus dilakukan secara bertahap, lebih lebih pada ternak yang belum pernah diberi pakan konsentrat sedangkan untuk pemberian pakan hijauan dapat mencapai 80% kemudian secara bertahap diturunkan. pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, yaitu sebagian (50%) yang diberikan di pagi hari dan dan sisanya di sore hari. Jika pemberian hijauan terpisah dengan konsentrat, sebaiknya konsentrat diberikan 1 sampai 2 jam sebelum pemberian hijauan untuk meningkatkan kecernaan pakan.
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pemberian pakan, kambing dengan berat badan 43 kg diberi pakan dengan perhitungan imbangan pakan sebagai berikut:
Perhitungan imbangan konsentrat 40% : Hijauan 60%
– BK (BahanKering) Konsentrat = 3/100×43 = 1,29
40/100×1,29 = 0,516
As feed = 100/80×0,516 = 0,645
– BK Hijauan = 60/100×0,3 = 0,775
As feed = 100/22×0,775 = 3,518
Bahan pakan diberikan 2 kali sehari yaitu pada jam 09.00 dan 15.00, pada jam 09.00 pakan yang diberikan adalah bahan pakan berupa konsentrat yang berasal dari produsen pakan di Boyolali, jumlah pemberian pakan secukupnya, dan metode pemberian pakan dengan bahan kering atau tidak dicampur dengan air sementara itu, pada jam 15.00 pakan yang diberikan yaitu hijauan berupa rumput gajah yang diambil dari lahan hijauan Fakultas Peternakan UGM, jumlah hijauan yang diberikan sebanyak 2,05 kg, dan metode pemberian dengan cara dicacah dengan menggunakan chopper. Jumlah pakan hijauan yang diberikan pada ternak domba dan kambing dewasa rata-rata 10% dari berat badan atau 4,5 sampai 5 kg per ekor per hari yang disajikan sedikit demi sedikit 2 sampai 3 kali sehari (Sudarmono dan Sugeng, 2011).
Menurut Siregar (2001), pemberian ransum khususnya pada penggemukan sapi perlu mempertimbangkan terlebih dahulu zat gizi yang dibutuhkan sapi, pertambahan bobot badan yang ingin dicapai oleh sapi itu dan jumlah zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk mencapai pertambahan bobot badan tersebut, kemudian ditentukan jenis bahan pakan yang tersedia atau yang dapat disediakan dan komposisi zat-zat gizi dari bahan-bahan pakan yang tersedia. Kebutuhan hidup ruminansia terdiri dari kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan untuk produksi. Kebutuhan pokok adalah kebutuhan untuk memenuhi proses hidup saja tanpa adanya kegiatan produksi. Dibandingkan dengan literatur, pakan yang diberikan menyesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari breeding ternak tersebut.
Metode Pemberian
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan pemberian pakan, kambing dan domba diberi pakan sesuai kebutuhan ternak. Bahan pakan diberikan 2 kali sehari dengan perbandingan Bahan Kering (BK) Konsentrat 40% dan BK Hijauan 60%. Pemberian pakan dilakukan pada waktu jam 15.00, pada jam 09.00 pakan yang diberikan adalah bahan pakan berupa konsentrat yang berasal dari produsen pakan di Boyolali, jumlah pemberian pakan secukupnya, dan metode pemberian pakan dengan bahan kering atau tidak dicampur dengan air sementara itu, pada jam 15.00 pakan yang diberikan yaitu hijauan berupa rumput gajah yang diambil dari lahan hijauan Fakultas Peternakan UGM, jumlah hijauan yang diberikan sebanyak 2,05 kg, dan metode pemberian dengan cara dicacah dengan menggunakan chopper. Menurut Sutama(2010), bahan pakan penggemukan beragam, tetapi komposisi gizi harus sesuai untuk tujuan produksi (penggemukan). Jumlah pemberiannya tergantung berat bagan (10 sampai 15% berat badan). Perbandingan pakan hijauan dan pakan tambahan (konsentrat minimal 50:50. Adapun jenis pakan tambahan lainnya dapat berupa campuran beberapa limbah hasil pertanian.
Kambing lebih suka memakan dedaunan serta ranting muda dan kulitnya. Berbeda dengan sapi dan domba yang lebih menyukai rumput dan legum. Kambing mengunyah pakannya lebih sempurna daripada sapi sehingga lebih banyak pakan yang dapat dimanfaatkan. Kambing dan domba adalah ternak pememah biak (ruminant), seperti sapi dan kerbau. Ternak tersebut mengunyah kembali pakan yang sudah ditelannya. Pakan yang dimakan langsung masuk kedalam bagian lambung yang pertama (rumen). Setelah selesai makan (isitirahat), pakan tersebut dikembalikan ke mulut untuk dikunyah dan ditelan masuk ke bagian lambung kedua (reticulum). Selanjutnya, akan yang masuk ke bagian lambung ketiga (omasum) dan ke bagian lambung keempat (abomasum) (Sutama, 2010).
Hijauan pakan ternak seperti rumput dan beberapa jenis leguminosa sangat diperlukan oleh ternak rumninansia. Pakan hijauan ini disamping dapat diberikan dalam bentuk segar, juga dapat diberikan dalam bentuk awet, baik dalam bentuk silage (pengawetan dengan penambahan urea/fermentasi) maupun dalam bentuk hay (tanpa bahan pengawet). Walaupun pakan hijauan ini kandungan nilai nutrisinya lebih kecil dari pada pakan konsentrat, tetapi serat kasarnya masih sangat diperlukan untuk proses pencernaan. Pakan konsentrat untuk sapi potong biasanya berupa campuran beberapa macam limbah pertanian, misalnya dedak padi, dedak jagung, kulit kopi, kulitkakao, dan bahan lain yang jumlahnya bervariasi tergantung ketersediaan bahan tersebut di lokasi. Pakan tersebut merupakan sumber utama karbohidrat, lemak dan protein. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral perlu ditambah garam dan mineral lainnya (Umiyasih, 2007)
Dibandingkan dengan literatur terdapat perbedaan pada presentase BK. Perbedaan presentase pada BK didapat karena perbedaan manajemen yang diterapkan di kandang Fakultas Peternakan UGM dan perhitungan efesiensi pakan yang tersedia serta ketersediaan konsentrat yang terbatas.
Reproduksi
Deteksi Birahi.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, kambing atau domba di kandang Fakultas Peternakan UGM belum terlihat adanya kambing atau betina yang sedang birahi. Hasil diskusi dengan diskusi menyimpulkan bahwa ciri-ciri kambing atau domba yang sedang birahi yaitu, gelisah, nafsu makan berkurang, dan diam ketika dinaiki oleh temannya..Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), birahi pada ternak kambing dan domba akan menunjukkan tanda-tanda yaitu gelisah, ribut, selalu berusaha mencari pejantan, betina ingin menaiki kawanannya, sering mengibas-ngibaskan ekor, nafsu makan berkurang, vulva membesar, berwarna merah dan hangat.Dibandingkan dengan literatur, deteksi birahi yang dilakukan di kandang sudah baik dan sesuai
Perkawinan
Berdasarkan hasil diskusi antara praktikan dan asisten, umur pertama kali yang baik untuk dikawinkan yaitu umur antara 1,5 sampai 2 tahun karena ternak telah dewasa tubuh dan kelamin. Penentuan saat mengawinkan yaitu 12 jam setelah estrus,waktu inilah yang paling tepat untuk dikawinkan. Metode perkawinan yang dilakukan pada kambing atau domba yaitu perkawinan secara alami,tidak dengan diinseminasi buatan karenan untuk biaya semen yang akan digunakan tidaklah murah.Sistem perkawinanpadakambingadadua yaitu kawinalam dan kawin suntik (Inseminasi Buatan). Kawin alam menghasilkan angka kebuntingan lebih tinggi dari kawinInseminasi Buatan (IB) (Sutama, 2002).
Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), sistem kawin alami ada dua yaitu dengan cara hand matting dan perkawinan bebas dalam sekelompok ternak. Rasio jantan dengan betina dalam perkawinan alami ini dapat 1:10 sampai 50 ekor, bahkan dapat lebih besar lagi dengan suatu manajemen yang baik. Setiap pejantan dapat mengawini 3 sampai 4 ekor induk per minggu. Oleh karena itu untuk menghindari kemungkinan terjadinya inbreeding faktor pencatatan terhadap asal usuk ternak domba harus dilakukan secara teliti.
Deteksi Kebuntingan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, domba dengan nomor identifikasi 33 memiliki ciri-ciri kebuntingan yang terlihat yaitu, perut membesar di bagian kanan, menolak untuk kawin, dan nafsu makan yang tinggi. Menurut Mulyono (2005), induk bunting dapat diketahui dari tanda-tanda tidak timbul birahi lagi pada masa birahi berikutnya, kira-kira 17 hari (domba) dan 19 hari (kambing) setelah perkawinan, perut sebelah kanan semakin berat, terlihat lebih besar dari perut sebelah kiri pada saat lapar, ambing mulai membesar, ternak sering menggosok-gosokkan perut pada dinding kandang, domba terlihat lebih tenang, suka menyendiri, dan enggan didekati ternak lain, khususnya pejantan, bulu atau wol terlihat lebih bersih dan bercahaya, menjelang kelahiran, putting dapat mengeluarkan air susu. Berdasarkan hasil praktikum diketahui bahwa terdapat ternak kambing maupun domba yang terdeteksi bunting. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dipastikan bahwa domba dengan nomor identifikasi 33 mengalami kebuntingan dilihat dari ciri-ciri yang terlihat.
Tanda-tanda awal terjadi kebuntingan pada ternak yaitu birahi berikutnya tidak muncul lagi, perilaku lebih tenang, tidak ingin mendekati atau didekati pejantan, nafsu makan meningkat, bobot badan bertambah, pada pertengahan kebuntingan perut sebelah kanan tampak semakin membesar, dan ambing membesar (Sudarmono dan Sugeng 2011).
Beberapa metoda diagnosa kebuntingan pada kambing dan dombai, yaitu sebagai berikut, Ultrasonografi. Ultrasonography merupakan alat yang cukup modern, dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kebuntingan pada ternak secara dini. Alat ini menggunakan probe untuk mendeteksi adanya perubahan di dalam rongga abdomen. Alat ini dapat mendeteksi adanya perubahan bentuk dan ukuran dari cornua uteri. Harga alat ini masih sangat mahal, diperlukan operator yang terlatih untuk dapat menginterpretasikan gambar yang muncul pada monitor.Ada resiko kehilangan embrio pada saat pemeriksaan akibat traumatik pada saat memasukkan pobe. Pemeriksaan kebuntingan menggunakan alat ultrasonografi ini dapat dilakukan pada usia kebuntingan antara 20 – 22 hari, namun lebih jelas pada usia kebuntingan diatas 30 hari (Lestari, 2006).
Diagnosa Imunologik. Menurut Lestari (2006) teknik Imunologik untuk diagnosa kebuntingan berdasarkan pada pengukuran level cairan yang berasal dari konseptus, uterus atau ovarium yang memasuki aliran darah induk, urin dan air susu. Test imonologik dapat mengukur dua macam cairan yaitu:
- Pregnancy Specific yg hadir dalam peredaran darah maternal : eCG dan EPF.
- Pregnancy Not Specific, perubahan-perubahan selama kebuntingan, konsentrasi dalam darah maternal,urin dan air susu, contoh : progesteron dan estrone sulfate. Berdasarkan pengamatan diketahui tidak ada kambing dan domba yang sedang bunting.
Penanganan Kelahiran
Hasil yang diperolah dari wawancara orang kandang dapat diketahui penanganan ternak sebelum kelahiran yaitu induk yang sedang bunting diamati dan disendirikan. Penanganan ternak sebelum kelahiran yaitu ternak perlu di cros checkdan diamati kesehatannya. Sebelum kelahiran 2 sampai 3 minggu induk dipisah dengan kandang yang luas. Kandang beranak harus dialasi dengan jerami. Untuk penanganan ternak pada saat kelahiran, apabila lahir secara normal tidak perlu dibantu kecuali abnormal perlu bantuan dokter hewan. Sebaiknya peternak membantu jalannya kelahiran dan perlu penanganan setelah 3 menit kelahiran. Setelah itu penanganan ternak tesudah kelahiran yaitu Induk ditimbang dan diberi obat cacing dan vitamin. Kemudian cempe ditimbang dan tali pusar diberi betadin dan vitamin serta dicek ayau dipantau kesehatannya setiap hari, serta cempe diberi yodium.
Perawatan dan Pengamatan Biologis
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Berdasarkan kegiatan yang dilakukan, untuk mencegah penyakit dilakukan sanitasi kandang dengan menggunakan desinfektan, pembersihan kandang, mencukur dan memandikan ternak, membersihkan tempat minum, dan memberikan obat cacing kepada ternak. Pencegahan penyakit ternak pada prinsipnya terdiri dari dua komponen, yaitu tindakan sanitasi dan vaksinasi. Tindakan sanitasi sendiri secara berurutan terdiri atas tindakan dekontaminasi dan desinfeksi. Desinfeksi dengan penggunaan desinfektan yang tidak didahului dengan dekontaminasi menyebabkan ketidakefektifan tindakan sanitasi (Subronto, 2001). Penyakit yang biasa muncul pada kambing dan domba yaitu skabies, abses (luka-luka), diare, dan cacingan. Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), berikut cara menjaga kesehatan kambing dan domba adalah sanitasi atau kebersihan kandang, tempat pakan dan minum, ternak dan lingkungan kandang dijaga, control parasit dilakukan secara ketat, ternak yang sakit diisolasi, program vaksinasi diberikan secara teratur, dan dilakukan pengamatan rutin pada setiap individual ternak.
Pemantauan Ternak Sakit
Selama praktikum berlangsung, ternak dengan nomor identifikasi 591 mengalami downer dengan ciri-ciri lemas dan tidak bisa berdiri dan ternak dengan nomor identifikasi 45 mengalami abses dengn ciri-ciri pembengkakan pada telinga. Menurut Rianto dan Endang (2010), perawatan kambing dan domba untuk mencegah terkena penyakit dapat dilakukan dengan berbagai berbagai cara antara lain vaksinasi ternak secara teratur terhadap penyakit, periksa kesehatan ternak secara teratur, melakukan desinfektan pada kandang dan peralatan kandang, sanitasi lingkungan yang baik, dan menjauhkan ternak-ternak yang terkena penyakit menular dari ternak yang sehat.
Penyakit yang Sering Muncul
Jenis-jenis penyakit yang sering muncul pada kambing dan domba antara lain sakit mata, scabies, cacingan dan mencret.Menurut Widi (2007), penyakit yang sering muncul pada domba antara lain diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Echericia coli, Eimerria sp, selain itu bisa disebabkan karena konsentrasi pakan yang tidak tepat gejala diare adalah ternak tampak lesu, tidak mau menyusu (cempe), suhu tubuh tinggi, feses cair dan berbau busuk. Cacingan merupakan penyakit yang disebabkan karena cacing hati, cacing lambung, cacing mata, gejala cacingan adalah ternak terlihat kurus, lesu, kulit kusam dan tidak bersinar. Kembung merupakan penyakit yang disebabkan oleh gas dalam perut yang tidak dapat keluar, hal ini terjadi karena ketika esophagus mengalami sumbatan sehingga menghambat pengeluaran gas.
Penanganan Ternak Sakit dan Obat
Pengobatan untuk ternak yang sakit biasanya diberi obat dengan semprot, salep, obat untuk diminumkan ke ternak, atau berupa serbuk untuk dimandikan ke ternak. Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), ternak yang terkena kembung diberi antibiotik, jika ternak terserang cacingan diobati dengan Phenothiazine, dan jika terkena scabies pengobatan tradisionalnya dengan campuran belerang dan oli (3:1). Diantara obat yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Data Obat dan Fungsinya
|
Nama Obat |
Kandungan |
Fungsi |
Dosis |
|
Valbendasol |
Albendazol |
Obat cacing |
10 ml |
|
Vitamin B komplek |
Vit. B1, B2, B6 |
Penambah stamina |
Secukupnya |
|
Multivitamin vermipazol |
Vit. B, B2,B3, dan E |
Sistem Pertahanan tubuh |
10 ml |
|
Medoxyl |
Oxytetra cyclin |
Obat pneumonia |
10 ml |
|
Biocylamine |
Vit. ATP |
Penguat otot |
10 ml |
|
Norit |
Carbonavit |
Obat mencret/diare |
6-9 kablet/ kali minum |
|
Diambung |
Carbonavit |
Obat mencret/diare |
6-9 kablet/ kontrol 2 x sehari |
|
Polybat |
Trymetropym, sulfadiazyna |
Obat mencret/diare |
1-2 kablet |
|
Neocavlan |
Kaulin, pectin |
Obat mencret/diare |
Kapsul 5ml/50 kg |
|
Aquaprin |
Trymetropym, sulfadiazyna |
Obat mencret/diare |
10ml |
|
Gusanex |
Larvisidor |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
Carbasun |
Carbonat |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
Betadyne |
Obat luka, membunuh larva, antiseptik |
Selera luka |
|
|
Verpet |
Vernecture |
Obat scabies |
Selera luka |
|
Penstren |
Proclane |
Obat infeksi saluran pernafasan |
10 ml |
Berdasarkan hasil diskusi antara praktikan dengan asisten, ternak yang mengalami sakit cacing diberi obat vermiprazol dengan dosis 1ml/10-20 kg berat badan dengan cara injeksi (disuntik), penyakit kaskado diberi penanganan dengan memberikan obat gusanex atau carbasunt, untuk ternak yang kurus diberi vitamin B kompleks dengan dosis 3-5 ml (dosis pedet) dan 5-10 ml (dosis dewasa) dengan cara disuntik, ternak yang terkena diare diberi obat norit dengan dosis 5-10 tablet doral atau digerus dan diminumkan kepada ternak, penyakit scabies diberi penanganan obat asuntol dengan cara 10 gram asuntal dilarutkan pada 10 liter air dan ternak dimandikan dengan menggunakan air tersebut.
Pengobatan secara alami memiliki nilai ekonomis yang tinggi di samping pengobatan medis yang membutuhkan biaya yang mahal dan tidak terjangkau oleh para petani. Pengobatan secara alami untuk penyakit scabies yaitu ternak dimandikan minyak kelapa yang dicampur serbuk belerang dan kunyit dicampur dan dipanaskan, selanjutnya digosokkan pada kulit yang sakit selagi hangat (Astiti, 2010). Untuk penyakit cacingan dapat diobati dengan bawang putih yang biasa digunakan untuk memasak di dapurjuga mempunyai khasiatanti-cacing yang sangat efektif, terutama untuk melawan infestasi cacing Ascaris sp, Enterobius dan semua jenis cacing paru-paru. Keuntungan lain dari bawang putih adalah adanya kandungan antibiotika alami yang sangat aman dan tidak meninggalkan residu disapi, antibiotika ini akan berperan sebagai perangsang pertumbuhan pada laju pertumbuhan sapi. Pada pengobatan sapi – sapi muda penggunaan bawang putih sangat disarankan karena tidak pernah ditemukan efek samping yang merugikan (Astiti, 2010).
Penanganan Limbah
Macam Limbah yang Dihasilkan
Berdasarkan hasil praktikum ada beberapa macam limbah yang dihasilkan oleh ternak sapi yaitu feses, urin, sisa pakan, dan bulu.usaha pemeliharaan ternak potong yang paling utama dihasilkan adalah kotoran ternak (manure), disusul urine, sisa pakan, serta alas (bredding) (Widi, 2007). Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), setiap ekor kambing dewasa akan menghasilkan feses 300 sampai 500 gram per hari dan urin sebanyak 0,5 sampai 1 liter per hari.
Penanganan dan Pengolahan Limbah
Berdasarkan hasil praktikum penanganan limbah yang dilakukan yaitu feses dibersihkan dari kandang lalu dikeringkan dibelakang kandang kemudian dijual sebagai pupuk. MenurutRiantoet.al(2010), setidaknya kotoran ternak bisa dimanfaatkan menjadi tiga produk bernilai, yaitu pupuk kandang, biogas, dan bioarang. Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), feses dan urin dapat digunakan sebagai pupuk untuk kebun atau sawah. Menurut Widi (2007), apabila limbah tidak ditangani dengan tepat, limbah ternak potong dapat mencemari lingkungan (air, tanah, udara).
Berdasarkan hasil pengamatan, limbah diolah menjadi pupuk kompos sedangkan untuk diolah menjadi biogas tidak dapat dilakukan karena peralatan dan penyimpanan limbah yang terbuka menyebabkan banyak kehilangan banyak gas methan yang terbuang ke udara. Limbah dari ternak dapat dimanfaatkan menjadi beberapa produk antara lain pupuk kandang atau kompos, biogas, dan bioarang. Produk pertama, pupuk kandang, merupakan campuran dari kotoran sapi, urin, sisa pakan yang diendapkan pada suatu tempat tertentu selama beberapa waktu (Siregar, 2008). Menurut Rianto et al (2010)., pupuk kandang memiliki beberapa manfaat membantu tanah dalam penyerapan air hujan, memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air, membantu tanah mengurangi erosi, memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi kecambah biji dan akar, merupakan sumber unsur hara bagi tanaman.
Produk kedua, biogas, merupakan gas yang timbul jika bahan-bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah, direndam di dalam air dan disimpan di dalam tempat tertutup atau anaerob. Ada beberapa keuntungan biogas yaitu mampu mengurangi pencemaran lingkungan sehingga kebersihan kandang, mengurangi ketergantungan pada penggunaan energi lain yang harganya lebih mahal, mengurangi penebangan hutan secara liar yang digunakan untuk kayu bakar, sisa pembuatan biogas dapat digunakan untuk pupuk kandang (Rianto et al., 2010). Produk ketiga, bioarang, yaitu arang yang diperoleh dari pembakaran biomassa kering dengan sistem tanpa udara (pirolisis). Kelebihan dari produk bioarang adalah mampu mnghasilkan panas pembakaran yang lebih tinggi, asap yang dihasilkan sedikit, bentuk dan ukuran bioarang seragam, penampilan bioarang lebih menarik, dan proses pembuatan ramah lingkungan (Rianto et al., 2010).
BAB III
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
Ketersediaan pakan yang belum memadai mengakibatkan terjadinya kesulitan dalam peningkatan populasi ternak sapi. Ketersediaan hijauan pakan di Indonesia merupakan tema utama yang menjadi pembatas perkembangan ternak. Salah satu komponen pakan yang utama adalah hijauan karena hijauan merupakan bahan pakan utama (lebih dari 80 persen dari total bahan kering). Oleh karena itu diperlukan teknologi tepat guna, yang bersifat terpadu menyangkut teknologi pengolahan, pengemasan, transportasi dan distribusi, dan mampu menangani permasalahan pakan dari hulu sampai hilir (sejak proses produksi, sampai pada penggunaannya di tingkat peternak). Kelebihan dari teknologi ini adalah: (1) dapat diproduksi oleh masyarakat (petani) secara masal; (2) mudah (secara manual dengan peralatan dan bahan tersedia di lokasi setempat); dan (3) biaya murah.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat diambil kesimpulan bahwakambing dan domba merupakan jenis ternak potong yang tergolong ternak ruminansia kecil. Pemeliharaan ternak yang baik sangat mempengaruhi pertumbuhannya.Pemeliharaan kambing dan domba meliputi pemberian pakan, pemandian, pemotongan kuku, pemotongan rambut dan kastrasi.Kebersihan kandang mempengaruhi kesehatan ternak, bila kebersihan baik kambing tidak mudah terserang penyakit dan pertumbuhannya akan baik.
Saran
Pengolahan kotoran ternak bisa ditangani lebih baik lagi seperti diolah menjadi pupuk atau biogas. Agar kebersihan kandang tetap terjaga. Dan ternak tidak mudah terserang penyakit
DAFTAR PUSTAKA
Astiti, Luh Gde Sri. 2010. Petunjuk Praktis Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Nusa Tenggara Barat
Basya, S. 2002. Pemberian Optimal Hijauan dan Konsentrat Dalam Ransum Sapi Perah Laktasi. Balai Penelitian Ternak Bogor. Bogor.
Budisatria, I. G. S, Bambang Suhartanto, Sudi Nurtini, Sigit Bintara, Kustantinah, Budi Guntara, Ali Agus, Cuk Tri Noviandi, Tety Hartatik. 2006. Modul Perkandangan; Program Penanganan Fakir Miskin Melalui Kemitraan Usaha Ternak Kambing. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Dalliani, Siswani Dwi.2010. Teknologi Perkandangan Sapi. Panduan Teknologi Mendukung Program PSDS
Fikar, Samsul dan Ruhyadi, Dadi. 2010. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta
Ilham, Nyak. Yusdja, Yusmichad. 2001. Sistem Perdagangan Ternak Sapidan Implikasi Kebijakan di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor
Mulyono, Subangkit. 2005. Teknik Pembibitan Kambing Domba. Penebar Swadaya, Jakarta.
Prabowo, Abror Yudi. 2010. Available at http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong-dengan-nutrisi/ diakses pada tanggal 04 April 2014
Subronto dan Tjahadjati, 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press.
Rianto, E dan Endang, P. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar. 2001. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, B. S. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Subangkit, M. 2004. Teknik Pembibitan Kambing Domba. PenebarSwadaya, Jakarta
Sudarmon A.S. dan Sugeng Y.B. 2011. Beternak Domba. Penebar Swadaya.
Sugeng, Y.B. 2000.Ternak Potong dan Kerja : Edisi V. CV. Swadaya. Jakarta.
Suharto.2000. Teknik Pemilihan Bibit Kambing dan Domba. Balai Penelitian Ternak. Bogor.
Sutama, I-K., B. Setiadi, Igm.Budiarsana, T. Kostaman A. Wahyuarman, M.S. Hidayat, Mulyawan. 2002. Pembentukan kambing persilangan Boereta untuk meningkatkan produksi daging dan susu. Laporan Hasil Penelitian, Balai Penelitian Ternak.
Sutama I. K dan Budiarsana IGM. 2010. Panduan Lengkap Kambing dan Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.
Umiyasih.U,Y.N. Anggraeny. 2007. Petunjuk Praktis Ransum Seimbang, strategi Pakan pada sapi Potong. Pusat penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Peternakan Departemen Pertanian.
LAMPIRAN
|
Gambar 3.Kandang Panggung (Kelompok) |
Gambar 4. Kandang Panggung (individu) |
|
Gambar 5.Kandang Umbar |
Gambar 6. Kandang Panggung (lepas sapih) |
|
|
|
Gambar 7. Kandang Pedet
Gambar 8. Multivitamin Gambar 9. Obat Infeksi, Ngorok, dan Kolera
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pemeliharaan ternak kambing dan domba di Indonesia secara tradisional telah dilaksanakan secara turun temurun oleh sebagian petani.Selama ini kedua komoditas tersebut lebih banyak berfungsi sebagai ternak tabungan.Artinya, kambing dan domba dapat dijual dengan cepat jika petani memerlukan uang dalam jumlah besar dan mendesak.Sebagai usaha peternakan rakyat yang dikelola secara sederhana, tidak mengherankan perkembangan usaha ternak kambing dan domba di Indonesia tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti.
Ternak domba dan kambing adalah salah satu jenis ternak yang potensial dan mempunyai prospek untuk dapat mengimbangi kesenjangan protein hewani asal ternak. Daging domba sangat digemari, akan tetapi pemeliharaan sangat kurang. Domba dan kambing juga mempunyai kedudukan penting dalam lingkungan masyarakat kita, karena sering dimanfaatkan sebagai hewan kurban pada hari raya Idul Adha yang permintaannya selalu meningkat setiap tahun.
Produk utama dari usaha peternakan kambing dan domba selama ini lebih banyak terfokus pada produksi anak (breeding) atau daging dan pupuk organik sebagai produk samping.Berbagai jenis ternak kambing dan domba tersedia di Indonesia, baik lokal maupun impor.Ternak lokal mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan setempat yang merupakan nilai lebih dari ternak tersebut.Sementara itu, ternak eksotik (impor) digunakan untuk meningkatkan produktivitas ternak lokal. Banyak pilihan jenis ternak kambing dan domba yang dapat diusahakan secara komersial.
Tujuan Praktikum
Praktikan dapat mengetahui cara pengadaan dan pemilihan bakalan ternak potong yang baik khususnya untuk kambing dan domba, mekanisme penampungan ternak dengan manajemen yang tepat, mengetahui pemasaran ternak dan bagian-bagian produksi hasil pemotongan serta produk olahan di pasaran untuk usaha penggemukan
Manfaat Praktikum
Praktikan mengetahui cara pengadaan dan pemilihan bakalan ternak potong yang baik, manajemen pengadaan bakalan, manajemen pemotongan, pemasaran ternak dan proses pemasaran serta hasil dari pengolahan dari ternak.
BAB II
KEGIATAN PRAKTIKUM
PROFIL PERUSAHAAN
Bhumi Nararya Farm berlokasi di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Kemirikebo, Girikerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Perusahaan ini merupakan perusahaan milik Pak Didik.Di atas tanah hak milik sekitar 12.000 m2Bhumi Nararya Farm tengah mengembangkan usaha peternakan kambing dan domba dengan kapasitas kandang untuk lebih dari 2.000 ekor. Dengan dukungan Sumber Daya Manusia yang kompeten Bhumi Nararya Farm mengusahakan peternakan kambing dan domba yang terpadu dan modern, mulai dari penyediaan lahan Hijauan Makanan Ternak (HMT), pengolahan pakan yang berkualitas, perawatan kesehatan ternak hingga pengolahan limbah menjadi barang yang lebih bermanfaat.
Komposisi Ternak
Adapun komposisi ternak kambing dan domba di Bhumi Nararya Farm sebagai berikut :
Tabel 9. Data Komposisi Ternak
|
No. |
Bangsa |
Jumlah |
|
1 |
Kambing Saanen |
3 |
|
2 |
Kambing Boer |
2 |
|
3 |
Kambing PE |
63 |
|
4 |
Kambing Bligon |
83 |
|
5 |
Kambing Sapera |
4 |
|
6 |
Kambing Burja |
47 |
|
7 |
Kambing British Alpine |
1 |
|
8 |
Kambing Senduro |
47 |
|
8 |
Domba Sufolk |
4 |
|
9 |
Domba Garut |
262 |
|
10 |
Domba Merino |
63 |
|
11 |
DET / DEG |
131 |
|
12 |
Domba Garino |
47 |
|
13 |
Domba Sugar |
11 |
|
Total |
769 |
|
Manajemen Pengadaan Bakalan
Asal Ternak
Ternak yang ada di Bhumi Nararya Farm berasal dari berbagai kota di Jawa Tengah antara lain Muntilan, Bandung, Solo, Bogor, Magelang, Cilacap, Tegal, Wonosobo, Klaten dan Purworejo.
Lalu Lintas Ternak
Retribusi. Sistem retribusi dalam pembelian ternak yang dibeli din pasar hewan yaitu melalui karcis yang diberikan oleh pasar hewan dengan tarif setiap karcisnya Rp. 1500 per kambing atau domba yang akan dibeli.Retribusi merupakan pajak yang dibayarkan untuk tiap proses transaksi ternak didaerah tertentu. Biaya retribusi berbeda-beda tergantung tempat.
Proses Penaikan dan Penurunan Ternak dari Kendaraan.Proses penaikan dan penurunan ternak dari kendaraan menggunakan papan yang dimiringkan sehingga ternak dapat turun dengan mudah dari kendaraan. Proses penaikan dan penurunan ternak dengan cara tersebut dapat meminimalisir kecelakaan pada ternak ketika akan dimasukan kedalam mobil pickup. Apabila tidak menggunakan alat bantu biasanya dapat mengakibatkan kecelakaan pada ternak. Karena ternak tidak mampu locat dari kenadaraan ke tanah.Seharusnya, untuk menghindari terjadinya cedera pada ternak, proses penaikan maupun penurunan ternak harus menggunakan loading unit.
Transportasi. Transportasi dari pasar ke perusahaan atau sebaliknya dilakukan dengan menggunakan mobil pick up, untuk sekitar jogja tidak dikenakan biaya, untuk luar jogja menyesuaikan jarak.Menurut Rianto et al., (2010) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengangkutan yaitu alat angkut, volume angkutan, dan waktu pengangkutan.Hal ini sudah sesuai dengan transport yang berada di Bhumi Nararya Farm.
Pemilihan Bakalan
Kriteria Bakalan bagi Perusahaan. Manajemen pengadaan dan pemilihan bakalan yang dilakukan oleh Bhumi Nararya Farm dilakukan dengan baik dengan tujuan mendapatkan profit yang tinggi. Pemilihan bakalan dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu antara lain ternak dalam keadaan sehat, memiliki kepala besar, mulut tidak lancip, dada lebar, mata cerah, umur diatas 10 bulan, BCS minimal 3, kondisi ambing baik, pemilihan dari bangsa kambing atau domba yang bagus, kulit lentur dan biasanya dipilih yang berkelamin jantan dan punggung rata. Menurut Mulyono (2011), beberapa persyaratan dalam memiliih kambing atau domba adalah ukuran badan besar, tetapi tidak terlalu gemuk, keempat kakinya lurus dan terlihat kokoh serta tumit tinggi. Tidak cacat di bagian tubuhnya, misalnya di telinga, mulut, ekor atau hidung. Selain itu, mata tidak rabun atau buta yang dapat dicek dengan mendekatkan jari pada mata.Menurut Widi et all, (2007), dalam memilih bibit, baik untuk pejantan maupun untuk induk, diutamakan berasal dari keturunan yang jelas dan sebangsa, karena akan menghasilkan anak yang kembar pula (litter size) yang tinggi. Pemilihan bibit kambing dan domba yang akan dipelihara tergantung dari seleradan tujuan usaha peternakan yang diinginkan. Keadaan ternak yang akan dijadikan bibit pada dasarnya berdasarkan usia, bentuk luar tubuh (performa), daya pertumbuhan dan tempramen, kesehatanya, dan asal usul ternak tersebut.
Bobot Badan dan Harga
Bhumi Nararya Farm menjual ternak kambing dan dombanya dengan harga yang berbeda-beda tergantung bangsa, jenis kelamin, bobot badan ternak dan umur. Kambing Boer pejantan dijual dengan harga Rp 20.000.000,- /ekor. Domba Merino jantan dijual dengan harga Rp 7.500.000,- /ekor. Kambing Senduro indukan dengan bobot badan ± 35 kg dijual dengan harga Rp 1.800.000,- /ekor. Kambing Saanen jantan dijual dengan harga Rp 12.500.000,- /ekor. Domba Garut indukan dengan bobot badan ± 35 kgdijual dengan harga Rp 1.500.000,- /ekor. Domba DET bakalan dijual dengan harga 2.000.000,- /ekor. Kambing Jawarandu dijual dengan harga ± 2.000.000,- /ekor.
Proses Transaksi yang Dilakukan Perusahaan
Proses transaksi yang dilakukan Bhumi Nararya Farm dengan secara langsung atau cash dengan daftar DP setengah kemudian ditransfer apabila dalam jumlah banyak.Supplier biasanya langsung datang ke perusahaan untuk memberikan ternak. Owner memberikan kriteria ternak yang diinginkan konsumen kemudian dikirim setelah dilakukan pembayaran.Jarak waktu pelunasan oleh pembeli disesuaikan dengan kesepakatan. Hal tersebut agar memudahkan proses transaksi dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Manajemen Pemeliharaan
Manajemen Perkandangan
Lokasi Kandang. Lokasi Bhumi Nararya Farm berada di lingkungan dataran tinggi yang memiliki udara bersih, akses air yang baik dan perkebunan salak, tetapi akses telekomunikasi susah dijangkau, selain itu lokasi Bhumi Nararya Farm jauh dari pemukiman. Menurut Widi (2007), lokasi kandang harus diperhatikan secara makro (daerah) dan mikro (area). Secara makro, lokasi kandang harus dekat dengan sumber sarana produksi dan atau tempat pemasaran, sesuai dengan RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) daerah setempat, dan berada dalam lingkungan yang mendukung, seperti sosial dan iklim. Secara mikro, kandang harus mudah dijangkau sarana transportasi sehingga menghemat biaya, dan terpisah dari pemukiman.Menurut Sutama dan Budiarsana (2010) tata letak kandang mempengaruhi kehidupan ternak terutama kesehatanya.Lingkungan kandang harus bersih, sehat dan ketenangan terjamin.Letak kandang harus lebih tinggi dengan lingkungan, mendapat sinar matahari yang merata, terlindung dari hujan dan angin, jauh dari pemukiman dan sumber air, tempat kering dan tidak lembab.
Menurut Siregar (2008) pembuatan kandang pada suatu lokasi tidaklah terlepas dari pertimbangan lingkungan. Penentuan ataupun pemilihan lokasi kandang hendaknya memenuhi ketentuan-ketentuan, yaitu tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk seperti sekolah, masjid, rumah sakit, puskesmas dan sebagainya, tidak ada rasa keberatan dari pihak tetangga apabila pembangunan kandang terpaksa harus dilakukan pada lokasi yang berdekatan dengan perumahan penduduk, pembangunan air limbah dan kotoran harus tersalurkan dengan baik, letak areal kandang ataupun lantai kandang adalah sekitar 20 sampai 30 cm lebih tinggi dari permukaan lahan sekitarnya, areal yang ada masih memungkinkan untuk perluasan kandang serta lokasi kandang agak jauh dari tempat-tempat keramaian maupun lalu lintas manusia dan kendaraan. Dibandingkan literatur, lokasi kandang Bhumi Nararya Farm sudah sesuai.
Layout Kandang. Kandang merupakan rumah bagi ternak dalam pemeliharaan yang intensif.Kandang merupakan tempat berlindung dari hujan, panas, dan angina kencang, serta binatang predator. Kandang juga merupakan tempat makan, minum, tidur, dan tempat berkembang biak bagi ternak. Kandang yang ada di Bhumi Nararya Farm didesain untuk memberikan kenyamanan bagi ternak dan kemudahan bagi pekerja dalam pengelolaan ternak serta memudahkan dalam pengumpulan limbah ternak (Bhumi Nararya Farm, 2013).Berdasarkan hasil praktikum layoutkandang di Bumi Nararya Farm sebagai berikut.
Keterangan :
- Kantor 11. Pengolahan pakan 21. Kandang 10
- UGD 12. Pemandian 22. Kandang 09
- Rumah perah 13. Umbaran 23. Kandang 08
- Bak air 14. Kandang 01 24. Kandang 07
- Kolam ikan 15. Kandang 02 25. Kandang umbar
- Gudang 16. Kandang 03 26. Kamar mandi
- Penampung 17. Kandang 04 27. Pengolahan pakan
pupuk
- Kamar mandi 18.Kandang 05 28. Pengolahan pupuk
- Ruang 19. Kandang 06
Serbaguna
- Gudang 20. Kandang 11
Gambar 4. Layout Kandang Kambing Domba Bhumi Nararya Farm
Tata letak kandang sangat berpengaruh terhadap kehidupan ternak terutama kesehatanya.Lingkungan kandang harus bersih, sehat dan ketenangan terjamin.Letak kandang harus memiliki kriteria, letak kandang harus lebih tinggi dengan lingkungan, mendapat sinar matahari yang merata, terlindung dari hujan dan angin, agak jauh dari pemukiman dan sumber air, tempat kering dan tidak lembab (Sutama dan Budiarsana, 2009). Layout di Bhumi Nararya Farm dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kondisi alam dan kebutuhan serta jumlah ternak yang ada.
Jenis Kandang. Perkandangan merupakan faktor yang ikut menentukan tingkat keberhasilan suatu usaha peternakan.Perkandangan yang baik memberikan kenyamanan bagi ternak sehingga diperoleh ternak yang baik dan sehat. Layout kandang kambing dan domba di Bhumi Nararya Farm dibuat sedemikian rupa sesuai dengan jumlah populasi ternak dan kebutuhannya.Kandang merupakan tempat naungan bagi ternak yang dapat memberikan rasa nyaman bagi ternak dan dapat melindungi ternak dari cuaca panas maupun dingin.Jenis kandang yang digunakan adalah tipe tertutup. Menurut Santosa (2000), tipe kandang ada 2 macam yaitu, tipe tertutup dan tipe terbuka.
Berdasarkan pengukuran yang dilakukan pada saat praktikum terhadap kandang yang ada di Bhumi Nararya Farm maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 10. Data Kandang Bhumi Nararya Farm
|
Parameter |
Kandang |
||
|
1 |
2 |
3 |
|
|
Jenis kandang |
Koloni |
Umbaran |
Jantan |
|
Atap |
Gable |
Gable |
Gable |
|
Dinding |
Kayu |
Bambu |
Kayu |
|
Lantai |
Kayu |
Tanah |
Kayu |
|
Luas kandang lokal |
7,5 m2 |
10,44 m2 |
6,048 m2 |
|
Luas area kandang |
20 m2 |
9,18 m2 |
24 m2 |
|
Vol. Tempat pakan |
0,1120 m3 |
0,0910 m3 |
0,0315 m3 |
|
Vol. Tempat minum |
0,0117 m3 |
0,0117 m3 |
0,0315 m3 |
|
Kemiringan kandang |
– |
– |
– |
|
Kemiringan selokan |
25% |
0% |
– |
Jenis Kandang di Bhumi Nararya Farm ada 4 Jenis yaitu, kandang Koloni, Kandang Umbaran, dan Kandang Pejantan.Atap yang digunakan secara keseluruhan yaitu Gable. Dinding dan lantai keseluruhan menggunakan kayu.luas kandang individu 3×2,5, Luas lokal kandang umbaran5,8×1,8, dan luas kandang pejantan2,88×2,1,. Luas area kandang koloni 2,5×8, luas area kandang umbaran 10.8×0,85, dan luas area kandang pejantan 6×4. Volume tempat pakan dari tiap-tiap kandang yaitu 0,084m3. Volume tempat minum pada kandang koloni dan umbaran sama yaitu 0,0117 m3, sedangkan pada kandang pejantan 0,0315 m3. Kemiringan kandang pada saat praktikum tidak di ukur. Kemiringan selokan tempat kotoran pada kandang koloni 25%, kandang Umbaran 0%, dan kandang pejantan tidak ada.Menurut Sutama dan Budiarsana (2010), fungsi kandang bagi ternak diantaranya adalah tempat perlindungan ternak dari terik matahari, hujan maupun angin kencang, tempat makan, minum, tidur, dan istirahat, tempat berkembangbiak (kawin dan beranak), memberikan perlindungan keamanan bagi ternak, memudahkan dalam pengawasan dan perawatan ternak, memudahkan dalam penanganan feses dan urin serta menghindari pencemaran lingkungan dan limbahnya.Tata laksana perkandangan merupakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan masih kurang mendapat perhatian. Kandang berfungsi untuk memberikan kenyamanan pada ternak. Ternak akan berproduksi secara optimal jika berada dalam kondisi yang nyaman. Kenyamanan ternak akan terjaga apabila kenyamanan hidupnya terpenuhi (Panjono, 2004).
Fasilitas Pendukung. Fasilitas pendukung yang ada di Bhumi Nararya Farm antara lain kantor, gudang pakan, tempat ibadah, WC, tempat parkir, tempat limbah dan tempat pemeliharaan. Kantor berfungsi untuk melakukan urusan administrasi, gudang pakan berfungsi untuk menyimpan pakan, tempat ibadah berfungsi untuk tempat melakukan ibadah, WC berfungsi untuk MCK (Mandi Cuci Kakus), tempat parkir untuk memarkir kendaraan, tempat limbah berfungsi untuk menampung feses dan urin. Menurut Rianto et al., (2010), bangunan yang ada di lingkungan kandang antara lain gudang pakan, silo, reservoirair, kamar obat, rumah karyawan, kantor kepala, prasarana transportasi, padang gembala, rumah timbangan ternak, tempat umbaran, kandang air, drainase, tempat pembuangan kotoran.Berdasarkan literatur fasilitas pendukung yang ada di perusahaan ini sudah sesuai.
Perlengkapan Kandang. Perlengkapan yang tersedia di Bhumi Nararya Farm antara lain gerobak untuk mengangkut pakan, ember takar untuk takaran pakan, tempat minum untuk menampung air minum, sapu untuk membersihkan kandang, serokan untuk pembersihan kotoran, sekop untuk mngambil pakan, garu untuk mengumpulkan pakan hijauan yang sudah di giling, mesin chopper untuk menggiling pakan hijauan, timbangan untuk menimbang pakan maupun menimbang ternak, gerobak untuk mengangkut pakan, selang untuk mengalirkan air dan drigen untuk mengangkut air. Menurut Ngadiyono (2007), beberapa peralatan kandang yang harus disediakan antar lain alat pembersih, timbangan pakan dan ternak dan tempat loading. Berdasarkan literatur , perlengkapan kandang yang ada di Bhumi Nararya Farm sudah cukup lengkap.
Lingkungan Kandang. Bhumi Nararya Farm terletak di kaki Gunung Merapi sehingga udaranya cukup dingin. Pada pagi hari temperatur udaranya 26,6oC dengan kelembapan udara 71%. Pada siang hari temperatur udaranya 29,3oC dengan kelembapan udara 67% dan pada sore hari temperatur udaranya 27,6oC dengan kelembapan udara 75%.Pengukuran temperature dan kelembaban ini menggunakan alat Thermohigrometer. Dibandingkan literatur, suhu kandang di Bhumi Nararya Farm lebih tinggi dari suhu optimal, sedangkan kelembaban kandang masih berada pada kisaran normal.Perbedaan suhu yang terjadi disebabkan kondisi lingkungan sekitar kandang yang kurang stabil karena pengaruh aktivitas gunung merapi.
Berdasarkan letak geografis, suhu lingkungan harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi pemeliharaan ternak kambing dan domba.Suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan konsumsi pakan menurun dan berakibat pada menurunnya laju pertumbuhan dan kemampuan reproduksi.Suhu lingkungan yang terlalu rendah, ternak cenderung mengecilkan tubuh dan berdesak-desakan untuk mengurangi luas permukaan tubuh.Ternak ruminansia pada umumnya dapat tumbuh optimal di daerah dengan suhu 170C sampai 270C.Tingkat kelembaban tinggi (basah) cenderung berhubungan dengan tingginya peluang bagi tumbuh dan berkembangnya parasit serta jamur, sedangkan kelembaban rendah (kering) menyebabkan udara berdebu yang membawa penyakit menular, dan menyebabkan gangguan pernafasan. Kelembaban ideal bagi ternak potong adalah 60% sampai 80% (Abidin, 2006).
Manajemen Pakan
Bahan Pakan yang Digunakan. Bahan pakan untuk ternak terdiri dari hijauan (rumput dan legume) dan konsentrat sebagai sumber energi dan sumber protein.Hijauan pakan merupakan pakan utama untuk ternak ruminansia dan berfungsi sebagai sumber gizi, yaitu protein, sumber tenaga, vitamin dan mineral.Menurut Mulyono et al. (2000) Pakan domba pada umumnya berasal dari hijauan yang terdiri dari berbagai jenis rumput dan dedaunan. Ternak domba ,merupakan hewan yang memerlukan hijauan dalam jumlah yang besar kurang lebih 90%
Bhumi Nararya Farm menggunakan berbagai macam bahan pakan untuk diberikan kepada ternak. Jenis bahan pakan yang digunakan antara lain ampas telo, rendeng kangkung, tepung kacang, ampas kecap, ampas bir, pollar, mineral, vitamin, pohon jagung dan kaliandra. Ampas telo didatangkan dari Wonogiri dengan harga Rp 400,- /kg, rendeng kangkung dari Malang yang dibeli dengan harga Rp 2.000,- /kg, ampas bir dari Tangerang yang dibeli dengan harga Rp 725,- /kg, pollar dari Boyolali yang dibeli dengan harga Rp 3.000,- /kg, pohong jagung berasal dari Klaten yang dibeli dengan harga Rp 800,- /ikat/2 kg, kaliandra berasal dari Sleman yang dibeli dengan harga Rp 1.600,- /ikat/30 kg, sementara tepung kacang, ampas kecap, mineral dan vitamin berasal dari Semarang. Tepung kacang dibeli dengan harga Rp 2.400,- /kg, ampas kecap dibeli dengan harga Rp 2.500,- /kg, mineral dibeli dengan harga Rp 1.500,- /kg dan vitamin dibeli dengan harga Rp 4.000,- /kg.
Metode Pemberian Pakan. Metode pemberian pakan yang dilakukan di Bhumi Nararya Farm dalam bentuk hijauan dan konsentrat. Bahan pakan hijauan terdiri dari kaliandra dan tebon jagung. Bentuk pemberian hijauan pada ternak dalam kondisi segar maupun telah dibuat silase dan dilakukan pada pukul 13.00. Sedangkan yang konsentrat merupakan campuran dari beberapa pakan seperti onggok, ampas bir, ampas kecap, rendeng kangkung dan bahan lainnya. Pemberian konsentrat dalam bentuk ransum dan dilakukan pada pukul 07.00.Menurut Ngadiyono (2007), pemberian pakan biasanya dilakukan 2 sampai 3 kali sehari, dengan pemberian pakan konsentrat terlebih dahulu baru hijauan. . Pemberian pakan pada kandang sudah sesuai dengan literatur.
Pengelolaan Sisa Pakan. Pakan sisa yang tidak dimakan oleh ternak akan diolah menjadi pupuk sehingga bisa menambah nilai ekonomis yang dapat meningkatkan keuntungan Bhumi Nararya Farm itu sendiri. Menurut Indriyani (2003), sisa pakan yang tercecer dikandang atau pakan yang tidak dimakan ternak dapat diolah menjadi kompos. Kompos merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti tanaman, hewan atau limbah organik lainnya, kompos yang digunakan sebagai pupuk disebut pula pupuk organik karena penyusunnya terdiri dari bahan-bahan organikj. Pengolahan sisa pakan di peternakan Bhumi Nararya Farm hanya sebatas mengumpulkan dan mencampur sisa pakan dengan feses, tanpa adanya pengolahan lebih lanjut, sehingga kurang sesuai dengan literatur.
Manajemen Pencegahan dan Perawatan Ternak Sakit
Sanitasi Kandang. Sanitasi kandang yang dilakukan Bhumi Nararya Farm antara lain pembersihan tempat pakan dan minum, pembersihan tempat kotoran dan selokan dan juga sanitasi menggunakan disinfektan.
Lingkungan tempat individu tumbuh sangat mempengaruhi kemampuan tubuh sapi untuk mengembangkan sistem pertumbuhan tubuh. Lingkungan yang tidak higienis akan menyebabkan gangguan faali sehingga kemampuan pertahanan tubuh akan rendah (Subroto, 2003).
Sanitasi Ternak. Sanitasi ternak yang dilakukan Bhumi Nararya Farm adalah dengan cara setiap pagi dibersihkan dan dilakukan pemotongan kuku dan kaki serta dimandikan saat mau dijual. Menurut Sugeng (2003), sanitasi ternak memberikan manfaat dalam memperkecil adanya penyakit dan gangguan pada ternak. Tempat yang kotor akan mempercepat pertumbuhan bakteri dan jamur yang bersifat patogen. Salah satu unsur perawatan yang juga tidak boleh diabaikan adalah penjagaan kesehatan, termasuk pula pencegahan masuknya atau terjangkitnya penyakit ke peternakannya.
Sanitasi Tempat Pakan dan Minum. Sanitasi tempat pakan dan minum yang dilakukan di Bhumi Nararya Farm yaitu dengan membersihkan tempat pakan dan minum sebelum memberi makan ternak setiap pagi. Menurut Akoso (2002), sisa pakan yang tercecer dalam air minum harus selalu dibersihkan karena tempat pakan dan minum yang terlalu lama tidak dibersihkan dapat mengundang jasad renik hewani atau nabati yang merugikan kesehatan sapi.
Pencegahan Penyakit. Ternak-ternak di Bhumi Nararya Farm selalu dijaga kesehatannya dan mencegah penyakit masuk ke tubuh ternak. Pencegahan penyakit yang dilakukan di kandang Bhumi Nararya Farm antara lain dengan menjaga sanitasi, membersihkan kandang, pembersihan tempat pakan dan minum, pemotongan bulu, pemberian obat cacing, disinfektan, pemberian biosan pada ternak jantan, pemisahan kandang antara ternak yang sehat dengan yang sakit, memberi vitamin 1 kali/bulan dan disinfektan 1 kali/bulan serta dilakuka pengecekan secara rutin. Metode yang dilakukan diBhumi Nararya Farm sudah cukup baik karena menurut Noviandi (2006), tindakan pencegahan agar ternak tidak sakit antara lain dengan menghindari kontak dengan ternak yang sakit, menjaga agar kandang tetap bersih, pemberian desinfektan pada kandang dan peralatan serta menjaga kebersihan sanitasi dan ternak itu sendiri. Pencegahan ternak sakit sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.Pembersihan kandang dan pemberian vaksin pada ternak dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit-penyakit pada ternak.
Penyakit yang Sering Terjadi. Penyakit yang sering muncul di kandang Bhumi Nararya Farm antara lain yaitu, cacingan, scabies, kutuan, flu dan kembung. Menurut Widi (2007), Penyakit yang sering muncul pada domba antara lain diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri Echericia coli, Eimerria sp, selain itu bisa disebabkan karena konsentrasi pakan yang tidak tepat gejala diare adalah ternak tampak lesu, tidak mau menyusu (cempe), suhu tubuh tinggi, feses cair dan berbau busuk. Cacingan merupakan penyakit yan disebabkan karena cacing hati, cacing lambung, cacing mata, gejala cacingan adalah ternak terlihat kurus, lesu, kulit kusam dan tidak bersinar.Kembung merupakan penyakit yang disebabkan oleh gas dalam perut yang tidak dapat keluar, hal ini terjadi karena ketika esophagus mengalami sumbatan sehingga mneghambat pengeluaran gas.
Penanganan Ternak Sakit. Usaha yang dilakukan Bhumi Nararya Farm dalam menangani ternak sakit dengan 2 cara yaitu memanggil dokter hewan untuk mengobati ternak yang sakit atau ternak yang sakit langsung dipotong.Menurut Noviandi et al., (2006) ternak yang dipelihara dapat terserang penyakit. Apabila ada ternak yang sakit, maka segera mungkin ternak tersebut dipisahkan dari ternak yang sehat untuk mendapatkan perawatan yang optimal. Ternak yang menderita penyakit menular disarankan untuk dipindah ke kandang karantina.Apabila ternak mengalami luka pada anggota tubuh dianjurkan luka tersebut dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang melekat. Pencucian disarankan dengan air hangat yang dicampur desinfektan, kemudian dilumuri salep atau sulfanilamide untuk luka bernanah, sedangkan untuk luka baru dapat diberi bubuk antibiotik atau betadin.
Manajemen Penanganan Limbah
Metode Pengolahan Limbah.Limbah yang dihasilkan dari ternak di Bhumi Nararya Farm tidak dibuang begitu saja namun limbah-limbah yang dapat berupa feses dan urin dimanfaatkan untuk menamabah pendapatan perusahaan. Feses yang dihasilkan dari ternak dikumpulkan kemudian dijual, sedangkan limbah urin ditampung dalam penampungan yang besar lalu dijual ke pengolah pupuk cair. Menurut Sudarmono dan Sugeng (2011), sebelum dipakai, sebaiknya feses atau urin diproses terlebih dahulu (pengomposan).Secara tradisional pengomposan dilakukan dengan dibiarkan atau menumpuk dengan berbagai sisa-sisa pakan di sekitar kandang.Cara ini memerlukan waktu yang cukup lama (2 sampai 3 bulan) agar pupuk organik tersebut siap dapat dipergunakan dengan aman.
Semakin berkembangnya suatu usaha ternak, limbah yang dihasilkan akan semakin meningkat. Masalah penanganan limbah menjadi hal yang perlu diperhatikan. Penanganan limbah manure atau kotoran ternak dapat dilakukan dengan membuat kotoran ternak menjadi pupuk organik (Widi 2007).
Analisis Usaha feedlot
Analisis usaha penampungan ternak ini digunakan untuk mengetahui untung dan rugi suatu perusahaan penggemukan sapi dalam menjalankan usahanya. Dalam menghitung analisis usaha ini kita menghitung dengan 2 langkah yaitu Out Cash Flow dan In Cash Flow.Out Cash Flow yang dimaksudkan disini adalah seberapa banyak biaya yang dikeluarkan oleh pemilik usaha untuk memulai usahanya tersebut, sedangkan In Cash Flow adalah seberapa banyak pendapatan yang dihasilkan.Berdasarkan perhitungan tersebut barulah diketahui apakah perusahaan tersebut memperoleh untung atau kerugian.
Misalnya diketahui Berat awal bakalan 25 kg, harga bobot hidup/kg Rp 40.000,00.Waktu pemeliharaan 150 hari, biaya pakan dan tenaga kerja/ekor/hari Rp 2.000,00, sedangkan biaya obat-obatan/ekor/bulan Rp 25.000,00.ADG domba 100 gram.Karkas 55%, harga karkas Rp 45.000,00. Hitunglah cost outputnya!
Jawab.
Pemasukan
Harga ternak = Rp 40.000,00 x 25 = Rp 1.000.000,00
Total biaya pakan = Rp 2.000,00 x 150 = Rp 300.000,00
Total biaya obat = Rp 25.000,00 x150 = Rp 3.750.000,00
Total pemasukan = Rp 5.050.000,00
Pengeluaran
Berat ternak = (0,1 kg x 150 hari) +25 kg = 40kg
Harga jual hidup = Rp 40.000,00 x 40 = Rp 1.600.000,00
Berat karkas = 40 x 55% = 22 kg
Harga karkas = Rp 45.000,00 x 22 = Rp 990.000,00
Total pengeluaran = Rp 2.590.000,00
Keuntungan = pemasukan – pengeluaran
= Rp 5.050.000,00 – Rp 2.590.000,00
= Rp 2.460.000,00
Berdasarkan hasil perhitungan dapat diketahui bahwa keuntungan peternakan tersebut Rp 2.460.000,00. Hal tersebut menunjukkan bahwa, usah peternakan kambing dan domba mempunyai prospek yang menguntungkan.
Manajemen Penanganan Pasca Panen
Proses Pemasaran Produk
Produk yang Dihasilkan. Bhumi Nararya Farm menghasilkan beberapa produk yang dapat dijual yang menjadi sumber pendapatan perusahaan antara lain kambing penggemukan, anakan hasil breeding, feses dan urin. Kambing penggemukan dijual dengan harga Rp 40.000,- /kg sampai Rp 45.000,- /kg. Anakan hasil breeding dijual dengan harga antara Rp 700.000,- /ekor sampai Rp 1.000.000,- /ekor. Feses dijual dengan harga Rp 20.000,- /sak sedangkan urin dijual dengan harga Rp 500,- /liter.
Metode Pemasaran Produk. Bhumi Nararya Farm memasarkan produknya melalui di jejaring sosial Facebook dan juga lewat silaturahmi serta melalui rekan kerja dari owner.
BAB III
PERMASALAHAN DAN SOLUSI
Masalah yang dialami Bhumi Nararya Farm adalah sumber bahan pakan untuk ternak yang harus didatangkan dari luar daerah sehingga harus ada biaya tambahan untuk transportasinya. Solusinya adalah dengan mencari alternatif bahan pakan lainyang mudah ditemukan di daerah sekitar.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa usaha feedlot Bhumi Nararya Farm sudah berkembang dengan sangat baik. Manajemen yang dilakukan mulai dari seleksi dan pengadaan bibit, perkandangan, pakan, sanitasi, perawatan dan pencegahan penyakit serta penanganan limbah sudah baik. Dengan lingkungan yang sejuk karena berada di kaki Gunung Merapi menjadikan usaha kambing perah juga cocok dilakukan selain usaha breeding dan fattening.
Saran
Manajemen pengolahan limbah sebaiknya lebih ditingkatkan lagi agar dapat menaikkan profit perusahaan dengan meningkatkan nilai ekonomis limbah misal dengan pembuatan pupuk kompos dan biogas dan agar limbah yang dihasilkan oleh ternak tidak mencemari lingkungan di sekitar perusahaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2006. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Jakarta
Akoso, T. 2002. Kesehataan Sapi: Panduan Bagi Petugas Teknis dan Mahasiswa Penyuluh dan Peternak. Kanisius. Yogyakarta
Bhumi Nararya Farm. 2013. www.Bhuminararya.com. Diakses pada tanggal 16 Mei 2014.
Indriani, Y.H. 2003.Membuat Kompos Secara Kilat. Cetk.I, Penebar Swadaya.Jakarta.
Mulyono, Subangkit. 2011. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mulyono. S dan B. Sarwono. 2002. Beternak Domba Prolifik, Penebar Swadaya. ISBN 979-489-808-2. Jakarta
Ngadiyono, N. 2007.Beternak sapi, PT. Citra Aji Parama.Yogyakarta Siregar, S. B. 2008.Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta
Noviandi, Tri. 2006. Penanganan dan pencegahan Penyakit pada Kambing. Fakultas peternakan. Universitas Gadjah Mada. Yogjakarta.
Panjono.2004. Manajemen Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Rianto, E dan Endang, P. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta
Siregar, B. S. 2008. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudarmono A.S. dan Sugeng Y.B. 2011.Beternak Domba. Penebar Swadaya.
Sugeng, Y. Bambang. 2003. Seri Agribisnis Sapi Potong. Cetakan Ke-11. Penebar Swadaya. Jakarta
Sutama, I.K dan Budiarsana, G.M. 2009.Panduan lengkap kambing dan Domba.Cetakan kedua. Penebar Swadaya. Jakarta.
Widi, M.S.T. 2007. Beternak Domba.PT Intan Sejati.Klaten.
Lampiran
|
Gambar 2. Pakan ternak |
Gamabr 3. Suntikan vitamin |
|
Gambar 4. Pejantan Saanen |
Gambar 5. Pejantan Suffolk |
|
Gambar 6. Kandang umbaran |
Gamabr 7. Indukan Senduro |
|
Gamabr 8. Kandang |
Gambar 9. Kandang |
Leave a Reply